*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#139: Pragmatisme Politik Amien Rais

ar2Ketika para elite berkumpul di Teuku Umar untuk mengkritisi penyelenggaraan Pemilu 2009 yang amburadul, indikasi penuh cacat dan kecurangan, dan banyak pelanggaran, mantan sang lokomotif “Reformasi” 1998, Amien Rais (AR) justru bertemu empat mata dengan Presiden incumbent, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 13/4/2009. Sepertinya, mereka berdua membuat “deal”. Dan kemudian terbukti dengan manuver AR mengumpulkan 27 DPW PAN, MPP dan sebagian pengurus harian di rumahnya, di Sleman, Minggu (19/4/2009) -tanpa kehadiran Ketua Umum DPP PAN, Soetrisno Bachir. Dugaan adanya “deal” dengan SBY pun bisa dilihat; PAN mengajukan dua cawapres sebagai pendamping SBY; Hatta Radjasa ataukah Soetrisno Bachir (SB).

Koran SINDO, Senin, 20 April 2009

Koran SINDO, Senin, 20 April 2009

Melihat sepak-terjang AR tersebut, maka saya memahaminya dengan empat catatan; Pertama, sikap AR ini menjadi “aneh” tatkala tokoh-tokoh Nasional (Megawati, Gus Dur, Wiranto, Prabowo, Rizal Ramli dkk) lain berjuang berusaha menuntut, menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap proses Pemilu yang “brengsek” -meminjam istilah GD, tapi AR berpikir sangat pragmatis dengan orientasi kekuasaan. Sikap asal beda yang penting untung ini merupakan “ciri khas” AR. Ini bukan sikap yang pertama bagi AR. Tatkala kepentingannya tidak diakomodir “secara cukup” di era rezim Gus Dur, maka dia kemudian menggalang poros baru bersama Megawati menggusur GD di tahun 2001 -yang sama halnya menghancurkan Poros Tengah yang dia gagas sebelumnya.

Kedua, manuver AR ini juga menjadi “janggal” tatkala SB di saat yang lain sedang menggalang kekuatan, membuat bargaining position dengan mendekati Prabowo Subianto untuk dimunculkan sebagai capres alternatif; ingin perubahan di luar Blok S dan Blok M. Tindakan AR tersebut seperti mem-fait accompli tindakan SB sebelumnya.

Ketiga, pertemuan tanpa kehadiran Ketua Umum PAN di Sleman tersebut bisa dimaknai sebuah manuver politik yang bersifat intervensif dan otoriter yang dilakukan AR terhadap PAN. Di sini posisi SB patut dipertanyakan; sesungguhnya dia ketua pengganti AR yang sesungguhnya, ataukah hanya sekedar “ketua boneka” belaka? Dan Ketua Umumnya (SB) pun kini dibuat tidak berdaya secara organisatoris.

Keempat, AR berusaha “menyelamatkan” suara PAN dengan merapat ke SBY yang posisinya “sedang di atas angin” berpotensi bisa memenangkan Pilpres Juli mendatang; dengan kata lain, Soetrisno Bachir dianggap tidak memiliki “visi dan orientasi” yang cukup untuk membesarkan partai.
Benarkah demikian?
Selebihnya, wallahu’alam bi ash showab.

(c)aGusJohn,
Lembah Ciangsana, 21 April 2009

April 21, 2009 - Posted by | SOROT & Berita

1 Komentar »

  1. Mantabs analisamu pak…!

    Komentar oleh BPC | April 29, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: