*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#134: Siti Jenar Menggugat (Res:)

siti-jenar2Judul : Siti Jenar Menggugat
Penulis : Bambang Marhiyanto
Penerbit : Jawara Surabaya
Cetakan : ke-1, Th. 2000
Tebal : 128 halaman

Legenda Syekh Siti Jenar menjadi kontroversial; apakah figur tersebut benar-benar ada? Dan jika ada, di manakah dia dimakamkan? Apakah ajarannya itu benar ataukah salah? Jika salah, kenapa Wali Songo sampai harus menukar jenazah Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing ketika jenazahnya disemayamkan di Mesjid Demak?

Buku ini adalah satu dari sekian buku yang mengupas khusus tentang tokoh legenda kontroversial dari Cirebon itu. Sejak KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden, buku-buku tentang Syekh Siti Jenar memang bagaikan jamur tumbuh di musin hujan. Banyak, dan sangat bervariasi. Khusus untuk buku ini, dalam memaparkan Siti Jenar dibagi dalam 9 bahasan.

***
Syekh Siti Jenar dikenal juga dengan sebutan Syekh Abdul Jalil atau Syekh Jabaranta atau Syekh Lemah Abang. Asal-usul Syekh Siti Jenar sebenarnya adalah Ali Hasan, putra mahkota Raja Cirebon Girang. Karena dia berani melawan ayahnya, maka dia dirubah oleh ayahnya yang seorang pendeta itu sebagai seekor cacing. Oleh ayahnya, cacing itu diletakkan di pinggir sebuah danau (Bab I).

Ali Hasan menjadi seorang yang hebat (wali) dikarenakan dia mencuri dengar pembicaraan ghaib (transfer ilmu ghaib) antara Sunan Bonang dengan Sunan Kalijaga di danau tempat cacing Ali Hasan dibuang (Bab II). Ali Hasan bisa berubah kembali dalam wujud manusia atas bantuan Sunan Bonang. Oleh Sunan Bonang Ali Hasan kemudian diangkat menjadi muridnya, dan diberi nama Syekh Lemah Abang.

Syekh Lemah Abang lalu diajak Sunan Bonang ke Demak dengan maksud akan diperkenalkan ke para wali yang lain. Setelah diperkenalkan, dan atas dukungan dari Sunan Bonang, Syekh Lemah Abang akhirnya bisa masuk dalam dewan wali (Bab III). Sejak saat itu Siti Jenar hidup berbaur dengan para Wali Songo. Karena syarat sebagai anggota dewan wali harus belajar agama, maka Siti Jenar memutuskan belajar agama pada Sunan Giri. Tapi ia bosan, karena pelajaran agama di Giri itu sudah pernah ia dapatkan sebelumnya di Baghdad, Irak. Sunan Giri sendiri menaruh kecurigaan, tidak percaya terhadap Siti Jenar. Sunan Giri melihat akan kekuatan ilmu sihir yang dimiliki oleh Siti Jenar. Karenanya, Siti Jenar hanya diajari ilmu syari’at, tidak diajari ilmu “rahsaning rasa” (ilmu ghaib).

Setiap malam Jum’at Legi pada saat Sunan Giri transfer ilmu ghaib ke santri-santrinya, maka Siti Jenar selalu ditugasi untuk mengisi padasan (tempat wudhu) yang kosong. Ini hanyalah alasan Sunan Giri agar Siti Jenar tidak ikut dalam pengajian khususnya. Dengan kesaktiannya Sunan Giri melubangi padasan itu secara ghaib sehingga tidak mungkin penuh. Tapi Siti Jenar paham kalau dia dikerjain -karenanya dia jengkel, maka dengan kesaktiannya juga Siti Jenar menutup semua lubang itu. Dengan kekuatannya pula ia memutuskan berubah menjadi burung bencok putih kemudian mencuri dengar pengajian ilmu ghaib Sunan Giri (Bab IV).

Karena kecewa atas perlakuan gurunya, Sunan Giri, Siti Jenar memutuskan kembali ke Cirebon Girang. Ia kemudian menetap di Krendhasawa. Tekadnya -dicampur dengan balas dendam- sudah bulat, dia ingin mendirikan peguruan untuk menyaingi gurunya. Untuk melapangkan niatnya, Siti Jenar mendekati Ki Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging. Dia ini masih keturunan Majapahit putra Ratu Pambayun -putri Brawijaya V- dengan Ki Jayaningrat. Masih keponakan Raden Patah, Raja Demak. Setelah melalui diskusi ketuhanan selama tiga hari, Ki Ageng Pengging akhirnya memeluk Islam. Dia menjadi murid sekaligus sahabat Siti Jenar. Kolaborasi Siti Jenar-Ki Ageng Pengging ini yang menyebabkan padepokan Krendhasawa bisa berkembang luas. Ajaran Siti Jenar, “Manunggaling Kawula Gusti” menyebar dan cepat diterima rakyat (Bab V).

Bersatunya Siti Jenar-Ki Ageng Pengging membuat Raden Patah cemas. Dia tahu bahwa Ki Ageng Pengging masih bangsawan Majapahit. Karenanya, sebelum api Krendhasawa berpercik, maka perlu diambil tindakan untuk segera dipadamkan. Raden Patah mengirimkan dua kali utusan. Yang terakhir Patih Wanassalam dia kirim. Tapi tetap, Ki Ageng Pengging tidak berniat menghadap ke Demak (Bab VI). Siasat pun dilakukan. Tenggat tiga tahun jika Ki Ageng Pengging tidak cepat menghadap Demak, maka akan dikirimkan utusan lagi.

Cerita dipenggalnya leher Ki Ageng Pengging oleh Sunan Kudus tidak dimuat dalam buku ini. Di Bab VII, buku ini lebih menjelaskan tentang ajaran Syekh Siti Jenar yang menyimpang. Disebutkan, selama di Baghdad, Siti Jenar belajar aliran Syi’ah -beda mainstream dengan Sunni yang dianut Wali Songo.

Ajaran Siti Jenar tentang “manunggaling kawulo gusti” menganggap dirinya adalah Tuhan itu sendiri. Siti Jenar mengajarkan ilmu hakekat ketuhanan dan hakekat kehidupan terhadap murid-muridnya yang awam secara syari’at. Berikut adalah contoh-contoh ajaran Siti Jenar:

– bahwa Sholat lima waktu, dzikir dan pujian pada Tuhan hanyalah kebijaksanaan dalam hati dan menurut kehendak pribadi. Segala tindakan yang dilakukan bertumpu kepada Tuhan. Apa yang dilakukan, itulah yang dilakukan Tuhan. Jika ia melangkah, maka Tuhanlah yang melangkah;
– kekuasan dan kehendak Tuhan merupakan ilmu sejati. Adapun sifat-sifat Tuhan yang duapuluh jumlahnya merupakan budi lestari yang abadi;
– Tuhan bersifat baka, tanpa perantara, tiada sakit atau sedih. Menjadi tidak wajar jika seseorang menuruti raga. Sebab raga itu sesuatu yang baru;
– Tuhan bersemayam/berada di dalam diri pribadi (jiwa). Jiwa manusia menyatu dengan Dzat Yang Maha Suci;
– Jiwa berbeda dengan akal dan budi. Terlalu menuruti akal dan budi mneyebabkan bingung, sedih, takut, sakit, menderita. Tapi jika jiwa menyatu dengan Dzat Yang Maha Kuasa, maka akan mendapatkan ketenangan;

Bab VIII menjelaskan tentang perdebatan antara Syekh Siti Jenar dengan Sunan Bayat dan Syekh Domba. Kedua wali, murid Sunan Kalijaga itu memang ditugaskan oleh Sunan Bonang untuk mengajak Siti Jenar agar datang ke Demak dengan dibekali empat pertanyaan “sasmita ghaib” dari Sunan Kalijaga. Tapi Siti Jenar tetap ngotot, bahwa dia tidak bersalah dan justru melecehkan para Wali Songo. Siti Jenar mengatakan Wali Songo penipu, menyebarkan kebohongan, mengobral surga dan neraka.

Dalam proses perdebatan tersebut diceritakan, Syekh Domba sempat “mengagumi” pikiran-pikiran Siti Jenar, tapi kemudian dimarahi oleh Sunan Bayat. Kedua wali itupun kembali ke Demak dengan kegagalan.

Sesampai di Demak (Bab IX), diadakanlah rapat yang melibatkan semua Wali Songo, Raden Patah selaku Raja Demak, patih, jaksa, penghulu dan para pembantu raja. Diputuskan, dikirim lima Wali; Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Geseng, Pangeran Modang dan Sunan Kudus untuk kembali ke Krendhawasa, tempat Siti Jenar. Kelima wali itu dengan diiringi 40 santri membawa surat resmi panggilan terhadap Siti Jenar dari Raja Demak. Isinya, mengharapkan Siti Jenar menghadap ke Demak karena telah dianggap memberontak, merusak kemapanan dan ketentraman masyarakat dan menghina kerajaan. Jika tidak datang, maka surat tersebut menjadi kuasa kepada para duta kerajaan untuk memenggal leher Siti Jenar.

Siti Jenar tetap tidak mau menghadap, malah terjadi perdebatan yang seru, tajam dan tegang. Dengan bahasa, ucapan, tutur-kata yang kasar, Siti Jenar selalu melecehkan Wali Songo. Akan tetapi dialog, ilmu mantiq yang digunakan Siti Jenar mampu membuat Sunan Geseng sempat berubah pikiran dan mengakui kepandaian Siti Jenar, tapi buru-buru dia menangis dan mengakui kesalahannya tatkala Sunan Kalijaga dengan tatapan mata yang tajam penuh amarah melihat kepadanya.

Siti Jenar tetap menolak ke Demak. Dengan inisiatif sendiri disaksikan oleh Wali Songo, Siti Jenar “bunuh diri” dengan menyatukan pikiran, menutup pintu napas rapat-rapat dan menggulung habis rahasia hidup. Siti Jenar meninggal. Keempat muridnya pun akhirnya ikut menempuh cara yang sama seperti gurunya; menemui ajalnya.

Keempat mayat murid Siti Jenar diberikan ke ahli warisnya, sementara jenazah Siti Jenar dibawa ke Demak. Begitu sampai di Demak, karena waktu sudah masuk Maghrib, para wali langsung menuju ke Masjid Agung. Mereka sepakat pemakaman akan dilakukan esok paginya.

Ketika sedang berlangsung Sholat Isya’ terciumlah bau semerbak harum bagaikan bunga. Setelah sholat usai, melihat adanya gelagat yang aneh, Maulana Maghribi menyuruh semua jama’ah kecuali Wali Songo untuk keluar dari masjid.

Karena penasaran, Maulana Maghribi membuka penutup keranda jenazah Siti Jenar dengan diikuti para wali yang lain. Alangkah terkejutnya mereka ketika mayat itu memancarkan cahaya yang terang-benderang bagaikan bulan purnama, disertai pelangi melingkar memenuhi ruangan masjid. Dengan penuh hormat, semua wali tunduk memberikan hormat secara lahir-batin.

Karena tidak ingin diketahui oleh raja dan masyarakat di esok harinya, Maulana Maghribi mengatur siasat. Demi menjaga kewibawaan Kerajaan Demak dan Wali Songo, jenazah Siti Jenar akhirnya dikuburkan di bawah tempat pengimaman. Sedangkan Sunan Kudus diperintahkan untuk mencari bangkai anjing berpenyakit malam itu juga untuk ditaruh di keranda jenazah.

Keesokan harinya, sebelum dimakamkan, Raja Demak diperkenankan melihat jenazah. Raja terkejut melihat yang ada ternyata bangkai anjing. Para wali pura-pura ikutan terkejut. Dengan lantangnya kemudian Raja Demak mengumumkan ke masyarakat yang berjubel-jubel ingin menyaksikan jenazah Siti Jenar; bahwa yang berani menyalahgunakan ajaran Islam jika mati mayatnya berubah menjadi bangkai anjing. Masyarakatpun kemudian memahami ajaran Siti Jenar sebagai bentuk penyimpangan ajaran Islam yang sesat.

***
Beberapa catatan saya tentang buku ini: Pertama, ada indikasi “kebenaran” pada ajaran Siti Jenar, tapi di sisi yang lain murid-murid Siti Jenar menerapkan ajaran itu dengan keliru. Ketika ilmu-ilmu makrifat dan hakekat diajarkan kepada kaum awam yang syari’atnya belum kuat, maka yang terjadi adalah mencari-cari kematian (jalan hidup) dengan cara membuat keonaran, kerusuhan. Akan tetapi indikasi kebenaran ajaran Siti Jenar ini menjadi rancu (patut dipertanyakan) ketika tutur-kata, cara dialog Siti Jenar sangat tidak sopan, kasar, dan tidak menunjukkan sebagai seorang yang ‘alim.

Kedua, perkataan kasar Syekh Siti Jenar pada Sunan Bonang (bodoh, dungu, memalukan, dll) sangat tidak masuk akal bila mengingat Siti Jenar dulunya adalah eks murid Sunan Bonang -ketika masih bernama Ali Hasan.

Ketiga, penulis buku ini tidak dengan jujur menyebutkan referensi, asal-muasal darimana sumbernya dan bagaimana dia menulis buku ini -karena tidak mencantumkan “Daftar Pustaka”. Walaupun sangat berisi, buku ini layaknya buku stensilan/staplesan, biasa-biasa saja, dan terkesan diragukan kevalidannya.
(c) aGusJohn,
Wisma Bakrie Lt-4, 17 Maret 2009

Maret 19, 2009 - Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , ,

17 Komentar »

  1. Cak Gus Jhon,

    Saya tertarik dengan kontroversi dari Syech Siti Jenar (SSJ),
    Dalam buku yang lain (kalau gak salah) judulnya
    “Syech Siti Jenar , penulis :shobari”

    Dari kaca mata politik
    pengadilan Syech SIti Jenar,berlatar belakang dimana Kesultanan Demak saat itu terancam dengan Koalisi Syech Siti Jenar – Ki Ageng pengging/Kebo kenongo,
    Dalam sejarah tercatat ki ageng pengging adalah keturunan sah Majapahit, dan menolak untuk “sowan” sebagai tanda tunduk dan menerima Kesultanan Demak.
    dari sisi SUltan Demak jelas ada “potensi ancaman” stabilitas pemerintahannya.

    Dari kaca mata dakwah,
    Ada semacam perang pengaruh antara Dewan Wali (sepeninggalan Sunan Ampel) dan Penganut ajaran SSJ.
    Yang menarik disini adalah metode dakwah SSJ lebih mengena di hati masyarakat pada waktu itu.
    dimana SSJ berusaha beradaptasi dengan kepercayaan Animisme & DInamisme masyarakat.
    Sepeninggalan SSJ dan pengikutnya, metode ini diadopsi oleh Sunan Kalijogo dlm aktifitas dakwahnya.

    Yang menjadi pertnyaan saya sampai sekarang,
    Entah apa yang menjadi pertimbangan SSJ, dimana materi dakwah tentang Makrifat dan Hakekat (jalan menuju tingkat IHSAN) “di-share” secara bebas ke para santrinya.

    WAllahualam bishawab

    Komentar oleh cakmamed | Maret 19, 2009

  2. huaah, jadi inget jaman sma baca buku ttg siti jenar yang tenar dg manunggaling kawulo gustinya itu….walopun waktu itu saya tdak selesei bacanya,, karna takut juga,, hahaa
    bukan membenarkan, karna menurut saya ilmu itu bisa dari mana saja,, kalo emg ada yg bagus ya bisa kita ambil
    saya lebih suka menerjemahkan manunggaling kawulo gusti dg mempunyai sebagian sifat2 Tuhan… kita kenal namanya asmaul husna,, selama ini, banyak ajaran beredar bahwa siapa yang menghafal asmaul husna maka masuk surga atau bahkan bisa menguasai dunia.. nah asmaul husna itu kan nama bagusAllah,, dan menghafal disini bisa diterjemahkan mjd mengimpleemntasikan (ini terjemahan saya lho yaa), jadi nama Allah ya nama kita juga,.. sifat2 Tuhan ya sifat kita jg.. namun hanya sebagian.

    kalo diliat dari ceritanya dan hubungan antar tokoh, sebenernya ini ada unsur politis pada saat itu.. kerajaan Demak kan sebuah pemerintahan, walisongo bisa diibaratkan sebagai Gubernur (pemimpin wilayah) makanya walisongo menyebar dan berkuasa di daerah masing2.. nah mungkin SSJ (Siti Jenar) ini tidak mengikuti sistem pemerintahan yg sudah disetujui oleh kerajaan Demak, lengkap dg para walinya.. jadi ya dianggap pemberontak pada akhinya, walopun sebenernya blm tentu ajarannya salah..
    ditambah lagi kondisi masyarakat awam waktu itu, mungkin apa yg diajarkan SSJ itu bener,, tp utk ukuran org awam waktu itu, yg masi blm nyampe, jadinya ajaran SSJ terkesan sesat, syirik dsb (skali lagi ini menurut saya :P)
    tentang bangkai anjing.. kalau tidak salah, anjing itu suatu simbol penghinaaan, yg pernah saya baca di salah satu surat di AQ, bahwa perumpamaan org yg uda diperingati tp tetep “ndablek” itu sama aj dengan anjing, dikasi peringatan ataupun tidak, tetep menjulurkan lidahnya seraya mengejek.. mungkin itu sebabnya kenapa jasad SSJ diganti dg anjing…tp peristiwa pas jasad SSJ jadiharum banget n ada cahanya saya gak bisa komentar ttg ini.. mungkin saja cahaya ini adalah sebuah perumpamaan, bahasa kiasan,, bukan seperti lampu menyala, tp sebuah ajaran yg membuat manusia terbuka matanya, dan bisa membedakan mana yang bener dan mana yang salah.. ibaratnya ketika di ruangan tidak ada lampu, maka kita tidak bisa membedakan benda2 di sekeliling kita, semuanya hitam dan abu-abu (tidak jelas) nah ketika ada cahaya, barulah kita bisa bedain. Pada cerita di bagian ini, para wali terkesan “sadar” bahwa SSJ benar adanya.. dan ia dimakamkan di tempat yg terhormat.

    kalo tidak salah waktu itu sembilan wali memperkenalkan Islam dg cara dicampur dg budaya Hindu, semata agar ajaran Islam diterima dg baik olh warga.. nah sekarang pertanyaanya,, Islam itu apa si? apa yang dibawa oleh para Wali itu? apakah cuma sekeedar agama yg mengajarkan sholat zakat puasa haji saja? ato ajaran yg mengajarkan utk berbuat baik saja? atau itu sebenernya adalah sebuah sistim? sistim pemerintahan? nahhh,, looo

    Komentar oleh rini andhika | Maret 19, 2009

  3. Aduh, tante RiniAndhika panjang banget comment-nya..🙂
    Ini sudah jadi tulisan sendiri, tante..

    th’s ya atas masukannya.
    betul, ada unsur politis. Pergesekan aliran/ajaran agama yg merembet ke dunia politik sudah biasa terjadi di Nusantara ini, bukan??
    betul, anjing itu memang perumpamaan sesuatu yg hina. Dalam cerita2 sufi, ada seorang sufi yg menuntun anjingnya ini menandakan anjing itu adalah sebagai bentuk hawa nafsu sang sufi. Yang harus ditenteng, dikendalikan agar tidak liar.
    th’s.

    Komentar oleh agusjohn | Maret 19, 2009

  4. waduw,, gak nyadar kalo ternyata panjang😛
    peace ^o^

    Komentar oleh riniandhika | Maret 19, 2009

  5. ooo
    panjang banget …
    tapi intinya apakah siti jenar itu ada?
    salam kenal aja …
    http://jokosby.wordpress.com

    Komentar oleh jokosby | Maret 19, 2009

  6. Saya juga pernah baca buku sejenis, isinya campur aduk antara dongeng, legenda, dan sedikit sejarah.
    Ajaran yang diusung Syekh Siti Jenar itu mirip yang diajarkan Al Hallaz, wahdat al wujud.

    Ajaran apapun yang menurut kita baik, sah2 saja asal jangan diperuntukkan orang lain. Ibaratnya pakaian kita belum tentu akan cocok dengan milik orang lain. Tak ada yang salah terhadap ajaran Syekh kontroversial itu. Ketika ajaran itu ia keluarkan dan kemudian disebarkan kepada umum, disitulah letak kesalahannya.

    Keberadaan dan eksistensi Tuhan menurut yang saya pelajari adalah terletak pada perasaan dan kesadaran kita. Ini sesuai dengan ‘AKU lebih dekat daripada urat lehermu’. Dan ini pun mengisyaratkan kalau kita (makhluk) berbeda dari Sang Pencipta (Khalik). Manusia paling sempurna (Al Insan Al Kamil) niscaya tak se-zarrah pun dapat menyamai Allah. Antara ‘Yang Dicipta’ dengan ‘Pencipta’ telah jelas benang merah diantara keduanya.

    Jika ada sesuatu yang dapat menyatu dengan Allah, berarti ia sendiri adalah Allah, begitu pun sebaliknya. Maka artinya Allah tak benar2 Maha Esa.
    Saya setuju dengan para Mutakallimin (Mu’tazilah) yang berpendapat Allah terbebas dari segala sifat2 yang dinisbatkan kepada-Nya. Karena jika Allah terdiri dari sifat2, maka Allah tidak benar2 Maha Esa. Allah Maha apapun juga bukan karena sifat tapi ZAT-NYA (Tanzih).
    Salam dari tenggara pulau kalimantan, walam yakun lahu kufuwan ahad.

    Komentar oleh imi surya putera | Maret 19, 2009

  7. terima kasih, Pak Imi Surya Putera..

    pendapat Anda semakin memperkaya discuss tentang Siti Jenar ini.
    salam juga dari Jakarta Selatan..

    Komentar oleh agusjohn | Maret 20, 2009

  8. Wallahu’alam, Pak.
    tapi buku-buku tentang Siti Jenar sudah cukup banyak.
    Kalopun dipersepsikan bahwa cerita Siti Jenar hanya fiksi, ini tentu sesuatu yang mengejutkan.
    Karena hampir literatur sejarah yg tercatat, tokoh ini selalu disebutkan.

    th’s, Pak.

    Komentar oleh agusjohn | Maret 20, 2009

  9. Anda benar, Cak Mamed.
    dalam literatur yang laen, Sunan Kalijaga (SK) sangat menghormati ajaran Syekh Siti Jenar (SSJ). Yang ditakuti, disegani oleh SSJ di Wali Songo itu hanya SK saja.

    Menarik statemen Anda di paragraph terakhir, perlu diselidiki lagi apa motivasi/latar belakang SSJ melakukan itu?
    Karena sakit hatikah akibat “dicuekin” oleh Sunan Giri?? Atau apa??
    ini menarik.
    perlu lebih banyak membaca lagi saya.
    th’s, Cak Mamed.

    Komentar oleh agusjohn | Maret 20, 2009

  10. menurut saya ajaran syeh siti jenar itulah ajaran yang sesungguhnya di peruntukkan bagi umat manusia .. tetapi dalam konteks ini adalah orng yang telah dewasa dan dapat mengerti arti ilmu agama.. ibarat sekolah, hakikat sudah di tingkat strata 1. berbeda dengan syariat, ibarat sekolah masih tk melulu. kapan mau melangkah ke sd ama smp and sma..? jika untuk anak2. gak mungkin kalo ajaran ssj di terima.. tapi ajaran ssj adalah ajaran yg di peruntukkan hanya untuk orang2 yg dekat dengan kesufian,dewasa,mengerti awal dari syariat. kesimpulanya adalah bahwa manusia harus beribadah kpd tuhan , tapi manusia juga harus MENGIMPLEMENTASIKANnya didalam aspek sosial,budaya, maupun politik. dalam aspek ini adalah prilaku fisik seseorang harus dilakukan sebenar benarnya dari kehendak hati “SEJATINING ROSO”. (MANUNGGALING KAWULO GUSTI) semoga dapat di pahami.. mohon maaf bila ada kesalahan dalam comment saya… wassalam..

    Komentar oleh kristiyanto | Oktober 16, 2009

  11. semuanya terserah pada masing 2 aja dah….yang penting pengetahuan tetap pengetahuan informasi tetap informasi ilmu tetaplah ilmu…

    Komentar oleh mr jhon | Januari 9, 2010

  12. lam knl smua….
    ajaran Syekh Siti Jenar(SSJ) adalah Ilmu Hati, dan dasar2nya semua ada dlm Alqur’an, maka “kajilah” alqur’an dg sedalam2nya, jngn terpaku hanya kpd terjemahannya.

    Komentar oleh Waisul Karni | Mei 13, 2010

  13. Kalo melihat arah dari begitu gencarnya buku2 yg mengupas tentang Syekh Siti Jenar pasca Gus Dur jadi presiden, memang spt arahnya ke sana..
    bahwa persoalan Syekh Siti Jenar adalah persoalan sufistik/tarekat, dan konflik Syekh Siti Jenar dg Wali Songo hanya persoalan politik saja; di mana dibutuhkan stabilitas politik di level umat, maka harus ada salah satu pihak yang kalah.

    Komentar oleh agusjohn | Mei 17, 2010

  14. sy sangat setuju dengan apa yg d ajarkan oleh siti jenar adalah budi pekerti…..dan saat ini dalam proses pada sy sendiri…trimakash…!!!

    Komentar oleh ainol budrih | Mei 17, 2010

  15. dan sesungguhx hidup ini adalah kematian dan sebalikx mati adalah hidup yg abadi pikirkan dan renungkan jangan emosi yg d dahulukan salam…… aku adalah aku…dan pasti akan d berikan petunjuk oleh aku…maka sara kalau d belakangkan…

    Komentar oleh ainol budrih | Mei 17, 2010

  16. Subhanalloh.. Alhamdulillah.. Semoga kita semua lebih semangat lagi untuk belajar membaca tentang sejarah islam nusantara, dan kita sebagai anak bangsa senantiasa sehat lahir bathin dalam bimbingan-NYA.. Amien!!

    Komentar oleh Djenambang Bin Tandjak | Agustus 6, 2010

  17. Menurut saya ajaran Syeh Siti Jenar adalah ajaran yang pemikirannya sangat maju kedepan (modern) waktu itu dengan tidak meninggalkan adat istiadat budaya jawa pada waktu itu.. itulah kebenaran islam sejati… walaupun sebagai dewan wali ia tau diri akan tugasnya untuk menunjukan jalan kebenaran sejati dan fokus akan dakwahnya… klo menurut banyak sumber… dewan wali lainnya (kecuali sunan kalijaga) bingung berperan aktif dalam kancah perpolitikan pada waktu itu… jadi bisa saja untuk berpolitik para dewan wali itu mengesampingkan akan kebenaran sejati ajaran islam walaupun mereka mengetahuinya tetap aja menutup2nutupinya dan hanya kalangan pembesar saja yang mengetahuinya (itu menurut literatur sumber)… YA WALI JUGA MANUSIA… tapi yang disayangkan titel walinya…. “Ya Allah Ampunilah Hamba bila terjadi pendustaan diri dan bimbinglah hamba ke jalan Cahayamu Ya Allah”

    Komentar oleh Bocah Angon | November 8, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: