*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#133: Cikal-Bakal Dinasti Mataram (Res:)

dinasti-mataramJudul: Cikal Bakal Dinasti Mataram
Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosial Budaya
Penulis: Radix Penadi
Cetakan: 1988
Tebal: 48 halaman

Berbicara tentang sejarah Mataram, maka dibagi menjadi dua; Mataram Kuno dan Mataram Baru. Mataram Kuno yakni sejarah Tanah Bagelen. Sementara Mataram Baru, tidak bisa dipisahkan dengan sejarah lahir dan berakhirnya Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang. Mataram Baru adalah Mataram yang sudah tersentuh nilai-nilai Islam. Sedangkan Mataram Kuno hidup di era ajaran Hindu/Budha (Syiwa/Wisnu).

Buku ini memberikan gambaran runtutan sejarah Mataram dari proses memuainya Mataram Kuno hingga munculnya Mataram Baru. Proses evolusi sejarah Mataram ini berawal ketika raja terakhir Mataram Kuno, Mpu Sendok memindahkan pusat pemerintahan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (Kediri) diakibatkan adanya konflik dan intrik antar keluarga kerajaan. Saling jegal-menjegal, perebutan kekuasaan menjadi hal yang biasa. Perpindahan pusat kekuasaan itu juga dikarenakan terjadinya letusan Gunung Merapi yang menghancurkan keraton dan tempat-tempat suci kerajaan. Juga dikarenakan adanya kekhawatiran dari Mpu Sendok akan bahaya serangan dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang, yang notabene juga pelarian dari keluarga istana dalam konflik pertama di Kerajaan Mataram Kuno (era Rakai Pikatan).

Dari Mpu Sendok inilah kemudian terlahir dinasti/trah Kerajaan Kediri (Daha), kemudian Singosari, dan sejarah terus berlanjut menjadi Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, maka muncullah Kerajaan Demak, dengan Raden Patah sebagai raja pertamanya, dan Wali Songo sebagai dewan penasehat raja. Hegemoni Demak ini mampu membatasi gerakan Kerajaan Keling yang mencoba merebut “warisan sejarah” Majapahit.

Intrik, konflik, perebutan kekuasaan antar sesama anggota keluarga istana itulah yang menyebabkan munculnya “dinasti-dinasti kecil” yang tersebar, tercerai-berai, mendirikan pusat-pusat kekuasaan yang terpecah-belah. Dan kelak, trah-trah kecil ini yang kemudian menjadi Raja Jawa selanjutnya.

Sesuai dengan judul buku ini, “Daur Ulang Pusat Pemerintahan:…“. Berawal dari Jawa Tengah (Bagelen), kemudian pecah menjadi Bagelen, Sriwijaya, lalu melarikan diri ke Jawa Timur (Daha/Kediri). Dari Kediri, Tumapel, lalu Singosari, lahirlah Majapahit. Majapahit terpecah-belah menjadi Keling, Daha, Tumapel, lalu kembali lagi ke Jawa Tengah (Demak), dan tersebar menjadi raja-raja kecil. Demak terbelah menjadi Jipang dan Pajang. Pajang terbelah menjadi Pati dan Mataram (Baru). Semua penguasa/raja bila dirunut masihlah “saudara” (baik dekat ataupun jauh). Inilah politik khas ala Indonesia yang turun-temurun hingga saat ini. Yang ada adalah bicara kepentingan kelompok/golongan, dan sangat jarang bisa berbicara dalam bingkai persatuan dan demi kepentingan nasional. Mungkin hanya segelintir saja yang bisa. Itupun dengan resiko, tersingkirkan !

Dari Majapahit, Demak ke Pajang:

demak-pajang

Dari Majapahit, Pajang, hingga Mataram:

dinasti-mataram2


(c)aGusJohn,
Wisma Bakrie, 12 Maret 2009

Maret 12, 2009 - Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , , , ,

11 Komentar »

  1. Biso nyilih bukune nggak ?
    Sing Gus Dur wis meh rampung, arep tak baleke …๐Ÿ™‚

    Komentar oleh subhan fauzi | Maret 20, 2009

  2. boleh pinjem dibawa maksimal 1 saja… ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh agusjohn | Maret 20, 2009

  3. maaf kalo boleh tau bapak basicnya apa ??? saya sangat tertarik dengan tulisan2 bapak
    kalo tidak keberatan bisa kita connect ?

    Komentar oleh dilaanshari | April 15, 2009

  4. Basic saya IT (MI), Bu. Tapi kerjaan saya di Telco. Hanya peminat sejarah bangsa Indonesia..
    Monggo, bila ada yg perlu didiskusikan..

    Komentar oleh agusjohn | April 16, 2009

  5. miturut kula tulisan panjenengan sae sanget ananging mbotenhn saged di translit basa jowo…>

    Komentar oleh hamba Allah | Mei 2, 2009

  6. kalo ditranslate ke bahasa Jawa, lidah saya bisa ketekuk, Pak..๐Ÿ™‚

    Komentar oleh agusjohn | Mei 4, 2009

  7. Dasarnya apa anda mengatakan Sriwijaya notabene pelarian dari keluarga mataram Kuno??? apa nggak kebalik??? Yang ada mataram itu dikuasai Sriwijaya berabad2 lamanya (masa wangsa Saylendra)dari sriwijaya,seluruh raja di jawa waktu itu (kususnya jawa tengah) masih keturunan dari Saylendra,Wong Candi borobudur aja di bangun masa Sriwijaya.

    Komentar oleh Hermin F. | Juli 12, 2009

  8. Wah kulo engkang asli pajang malah mboten ngertos. Kulo ngeh keturunan saelendra pelok patet manyuro.

    Komentar oleh Danang | Desember 9, 2009

  9. Judul: Cikal Bakal Dinasti Mataram
    Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosial Budaya
    Penulis: Radix Penadi
    Cetakan: 1988
    Tebal: 48 halaman

    belinya dimana ato anda punya e-booknya? kirim ke e-mail saya.

    Komentar oleh gilang | Januari 25, 2010

  10. saya belinya di sebuah toko buku di Magelang, Pak.
    sepertinya ini terbitan lokal di sana.
    demikian.

    Komentar oleh agusjohn | Januari 26, 2010

  11. bagaimana saya bisa membeli buku ini , dimana? saya di Surabaya

    Komentar oleh Prihandoyo Kuswanto | Februari 7, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: