*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#132: Sunan Geseng: Mubaligh Tanah Bagelen (Res:)

geseng1Judul: Sunan Geseng: Mubaligh Tanah Bagelen
Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosial-Budaya (Purworejo)
Penulis: Radix Penadi
Cetak: 1998
Tebal: 52 halaman

“Clontang-clantung,
wong nderes buntute bumbung,
apa gelem apa ora?

(Clontang-clantung,
orang nderes ekornya bumbung/bambu,
apa mau apa tidak?)

Ini adalah tembangan berbau mantra yang selalu diucapkan oleh Ki Cakrajaya, tukang nderes nira kelapa sebelum memanjat pohon nira (aren). Hasil dari nderesan itu kemudian diolah menjadi gula.

Cakrajaya adalah seorang tukang nderes nira kelapa yang hidup miskin di tengah hutan. Dia tinggal di Desa Bedhug, Tanah Bagelen -saat ini Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo-, berada di bantaran aliran Sungai Watukura/Bagawanta. Karena saking miskinnya, dia juga dipanggil “Ki Petungmlarat”. Meskipun demikian, orang mengenalnya sebagai seorang yang kuat bertirakat/tapa brata, sehingga menjadi luhur budinya dan sakti ilmunya. Karenanya, Ki Cakrajaya di-“tua”-kan di wilayahnya.

Suatu hari, ketika Ki Cakrajaya akan memanjat pohon nira -siap dengan mantranya, datanglah seorang yang pembawaannya sangat ‘alim menghampirinya.

“Kisanak, apa sebabnya setiap kali engkau memanjat batang aren selalu mengucapkan kalimat tadi?”

“Itulah mantra agar hasilnya melimpah”, jawab Ki Cakrajaya.

“Ah, apa yang Kisanak ucapkan itu salah dan kurang tepat”.

“Salah dan kurang tepat? Ah, anda rupanya belum kenal denganku. Akulah Ki Cakrajaya, tukang nderes sudah sejak masa kecilku. Itu merupakan ilmu warisan leluhurku dan mantra itupun bukan sembarang mantra!”

“Betul kata-katamu, Kisanak. Tapi aku mempunyai mantra yang lebih unggul, yang akan bisa menghasilkan lebih banyak dari mantramu itu”, kata lelaki ‘alim dengan perbawa mantap dan tegar.

“Buktikanlah, Kisanak!” pinta Cakrajaya.

“Baiklah, ijinkanlah aku melihat cara Kisanak mengolah legen (nira) itu”. Ki Cakrajaya lalu mengajak laki-laki tadi ke rumahnya, lalu mengajarinya. Sang tamu kemudian mencetal gula aren satu tangkap. Cetakan itu diserahkan pada Ki Cakrajaya dengan pesan agar jangan dibuka sebelum dirinya keluar dari Desa Bedhug.

Setelah laki-laki itu keluar dari desanya, Ki Cakrajaya segera membuka cetakan gula. Matanya terbelalak karena isinya bukan lagi gula, melainkan setangkap emas yang berkilauan. Ki Cakrajaya tersadar, bahwa tamunya tadi bukanlah orang sembarangan. Diapun mengejar sang tamu. Dia akhirnya berhasil juga mengejar dan menemukan laki-laki misterius itu, yang tidak lain adalah Sunan Kalijaga; anggota Wali Songo yang termasyhur di kalangan rakyat jelata.

Karena dibuat penasaran, Ki Cakrajaya minta diajarin “mantra sakti” dengan bersedia menjadi muridnya. Sunan Kalijaga kemudian mengajarkan syahadat. Sejak saat itu, Cakrajaya selalu diajak Sunan Kalijaga mengembara dari satu daerah ke daerah yang lain sambil menyebarkan dakwah Islam.

Suatu saat, Sunan Kalijaga pamit ingin sembahyang ke Mekkah -dalam riwayat yang lain dikatakan ke Demak/Cirebon. Cakrajaya diperintahkan untuk menunggu tongkatnya. Cakrajaya kemudian duduk bersila, penuh khidmat. Saking lamanya, tubuh Ki Cakrajaya ditumbuhi rumput belukar, bambu berduri. Tempat bertapanya itu pun berubah. Ketika Sunan Kalijaga teringat bahwa ia telah meninggalkan muridnya, maka datanglah dia ke tempat Ki Cakrajaya menunggui tongkatnya. Karena semak-belukar begitu rimbun dan rapat, maka dibakarlah rumpunan bambu berduri itu. Ajaibnya, Ki Cakrajaya tidak cedera sedikitpun. Hanya kulitnya saja yang berubah menjadi hitam. Karena hitam (Jawa=geseng), maka Sunan Kalijaga memanggil Ki Cakrajaya menjadi “Sunan Geseng“.

Menurut riwayat, proses pembakaran itu menghasilkan nama-nama daerah yang masih ada hingga kini. Misalnya, Muladan. Berasal dari kata ‘mulad‘ (berkobar-kobar). Daerah ini sekarang terletak di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Sunan Geseng terus diajak Sunan Kalijaga mengembara ke arah timur. Suatu ketika Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya, maka muncullah sumber air yang disebut ‘sendang‘ (Danau). Oleh Sunan Kalijaga, Sunan Geseng diminta mandi dan membersihkan tubuhnya yang telah terbakar. Sungguh ajaib, Sunan Geseng pun sembuh. Tubuhnya kembali seperti semula. Kotoran hasil bersih-bersih badan itu kemudian terbawa hingga ke Sungai Kedung Pucung. Dan sendang tempat mandi itu kemudian disebut Sendang Banyu Urip.

Pengembaraan terus berlanjut. Sampailah di suatu daerah, Sunan Kalijaga memberikan wejangan tentang hidup dan ilmu-ilmu Tuhan. Maka daerah itu kemudian disebut Desa Ngajen -dari kata mengaji, yang saat ini berada di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

Menjadi pertanyaan, kapan Sunan Kalijaga berdakwah Islam di Tanah Bagelen? Menurut “Babad Demak” (1906), peristiwa itu terjadi sebelum tahun 1518. Sebelum Demak menyerang Majapahit/Daha. Hal ini diketahui setelah Raden Patah, Ki Ageng Selo, Ki Patih Wanassalam dan Iman Semantri menemui Sunan Kalijaga di Pulau Upih. Sumber naskah lokal Bappeda Purworejo menyebutkan dakwah Sunan Kaijaga ke Bagelen itu terjadi di era Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono (1521-1545). Asumsi ini diperkuat juga oleh Slamet Suyoso dalam bukunya “Peranan Iman Puro” (1976).

Ketika berdakwah di wilayah Bagelen, Sunan Kalijaga (dan Sunan Geseng) telah mendirikan pondok pesantren di Dukuh Watu Belah, sekarang tepatnya di Desa Trirejo, Kecamatan Loano. Lalu Desa Dlangu, sekarang Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo. Juga mendirikan mesjid Loano di Desa/Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Kemudian mesjid di Kauman Bagelen.

Catatan lain menyebutkan, pengislaman selatan Jawa Tengah sebelah timur Sungai Lukula dilakukan oleh Sunan Geseng. Di sebelah barat oleh Syekh Baridin, ulama dari Pucang Kembar. Sebelah barat Banyumas oleh Bupati Banyak Balanak dan Syekh Makdumwali (bergelar Senopati Mangkubumi). Sunan Geseng dikarunia hanya satu anak laki-laki yang bernama Joko Bedhug yang juga disebut Nilasraba, yang kelak menjadi adipati pertama Bagelen bergelar Adipati Nilasraba I di era Demak -atau era Mataram menurut “Babad Tjakradjaja“.

Nilasraba I memiliki dua anak; Ki Bumi yang kemudian menjadi Adipati Arya Nilasraba II atau dikenal juga sebagai Ki Karta Menggala, dan adiknya Ki Mentosoro. Demikianlah riwayat tentang Sunan Geseng. Buku ini menjadi sangat menarik -walaupun ada ketidakrelevanannya- karena akan banyak persinggungan dengan buku-buku lain yang nanti akan saya resensikan, seperti: “Babad Demak“, karya Raden Suryadi. Kemudian “Sunan Kalijaga” karya Dr. Purwadi, dan masih banyak yang lain.

Menjadi tidak relevan dari buku ini, ketika cerita tentang Sunan Kalijaga terlihat lebih dominan daripada Sunan Geseng, yang menjadi tokoh sentral sesuai judul. Ketidakrelevanan itu misalnya: cerita tentang request Sunan Kalijaga tentang pembuatan Keris Sengkelat dan Keris Crubuk oleh Mpu Supa -yang di kemudian hari menjadi adik ipar Sunan Kalijaga. Juga cerita tentang pembuatan tiang masjid Demak dari soko tatal. Lalu, cerita tentang menentukan arah kiblat Masjid Demak. Karena dari cerita-cerita tersebut figur sentral sesungguhnya adalah Sunan Kalijaga.

(c)aGus John,
Lembah Ciangsana, 10 Maret 2009

Iklan

Maret 11, 2009 - Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , ,

22 Komentar »

  1. ada yang punya fotonya sunan geseng gak??

    Komentar oleh aung | April 26, 2009

  2. belum ada, Pak.
    Nanti kalo ketemu, akan saya share.
    th’s.

    Komentar oleh agusjohn | April 27, 2009

  3. saya boleh dong apabila ada foto sunan geseng..saya sangat mengharapkan apabila ada ya mas..tx bgt…wass

    Komentar oleh diara | Juni 5, 2009

  4. Aslm. Saya masih keturunan sunan Geseng dan ada silsilah tertulisnya, tapi belum lengkap. Barangkali ada yang punya juga untuk saling melengkapi?? Terimakasih
    Wassalam

    Komentar oleh Teguh Handoko | Juli 15, 2009

  5. Katanya ada maqom sunan geseng yg ada di tirto grabag magelang yg benar dimana?

    Komentar oleh Muhammad | Oktober 21, 2009

  6. Asw. Wr. Wb. mohom bantuannya untuk mendapatkan buku diatas , dan bantuan untuk mendapatkan silsilah dari sunan geseng..wassalam…

    Komentar oleh rachmad hidayat | November 26, 2009

  7. ass…

    syekh baridin berasal dari mana? saya cucu dari syekh baridin dari Tasikmalaya. apakah sama dengan syekh baridin yg dimaksud diatas?

    Komentar oleh zaza | Desember 1, 2009

  8. sy adlh murid sunan geseng.sy diajari melalui peringkat laduni.boleh sy tentang kisah sunan geseng menggunakan petir

    Komentar oleh Mohamad Sahrul Nizam | Desember 21, 2009

  9. guru saya punya silsilah dari tanah bagelen

    Komentar oleh sari | Desember 31, 2009

  10. ass..
    mau curhat ni.
    saya, pernah denger cerita dari ortu”lk” saya, bahwa dia pernah di beri benda pusaka oleh mbh buyut saya melalui perantara orang lain. dan suatu hari ada orang datang k rumah saya , dengan memberi tahu bahwa isi dari benda pusaka itu adlah buyut dari buyut saya/ apa lah katanya (saya kurang mengerti). yang namanya sunan geseng or sunan gerseng . n katanya kel saya ada garis keturuan trah jogja. apa bener , bisa gak di selidiki. mohon balas…. wass, (YASSER KHADAFIE-> NAMA FB SAYA)

    Komentar oleh Yasser khadafi | Maret 28, 2010

  11. Pak Yasser,
    wadouw, senang rasanya kalo cerita itu benar adanya.
    punya benda pusaka warisan leluhur.
    kalo memang berniat konsultasi bisa ke kiai2 sepuh terdekat.
    th’s.

    Komentar oleh agusjohn | Mei 17, 2010

  12. ada juga makam sunan geseng di dusun girinyono,sendangsari,pengasih kulon progo,,lengkap dg dusun blubuk tempat sunan gesengv terbakar,,lengkap dg tongkat sunan geseng yang tumbuh jadi pohon walikukun,,,dibawahnya ada juga makan syeh bela belu dan syeh domba

    Komentar oleh kuntodewo | Juni 6, 2010

  13. Terima kasih atas informasinya, Pak Kunto.

    Komentar oleh agusjohn | Juni 7, 2010

  14. simbahqu jg prnah mengatakan bhwa aq jg ktrnn dr Sunan Geseng yg dr Begelen.Bhkn Mbah Kakungqu bgt sakti wkt mlwn pnjjh.Bnyk kesaktian yg dimilikinya.Dan yg terakhir aq kthui bhwa mkm Sunan ada Piyungan Jogja.

    Komentar oleh Samudraarimbi | Juni 14, 2010

  15. Legenda tentang Sunan Geseng ada beberapa versi. Demikian juga makam Sunan Geseng. Masyarakat Magelang meyakini makam Sunan Geseng berada di desa Tirto Kec. Grabag Kabupaten Magelang. Tetapi warga Piyungan, Bantul, meyakini makamnya ada di Piyungan. Mungkin juga ada di tempat-tempat lain. Mana yang benar? Mungkin perlu ada ‘penelitian’ para ahli sejarah.

    Komentar oleh Amat Sukandar | September 17, 2010

  16. soal lokasi makam memang selalu menjadi kontroversi hampir di semua tokoh2 penting, terutama para Sunan jaman dulu (Wali Songo).
    Tidak hanya Sunan Geseng, tapi juga Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Joko Tingkir, Gajah Mada, dll.

    Biasanya, yang dianggap makam itu terkadang hanya tempat petilasan, tempat bertapa, puasaka, tempat rumah atau yg laen2.
    Betul, memang perlu penelitian yg lebih mendalam agar lebih jelas.

    Komentar oleh agusjohn | September 20, 2010

  17. maaf boleh koreksi sidikit
    didalam tulisanny kok terdapat kata yang intinya setelah semak belukar dibakar sunan geseng tidak mengalami cidera
    tp kok dikatakan setelah mandi di sendang semua lukanya sembuh. nah yang jadi pertanyaan saya ada apakah yang terjadi dengan sunan geseng. kalau ada cerita yang sebenarnya tlng jangan ditutup tutupi karena ini adalah keagungan dari tuhan dan merupakan sejarah islam di jawa

    Komentar oleh arya nugraha | Oktober 13, 2010

  18. Salam kenal mas Agus John.
    Makasih atas resensinya ini. Almarhum ayah saya masih keturunan Sunan Geseng. Dulu banget waktu saya masih kecil pernah ada saudara jauh yg nunjukin silsilah tertulisnya.
    Menurut perkumpulan Asyraaf Malaysia, sunan Geseng masih keturunan Imam Jafar Shadiq AS (http://www.asyraaf.net/v2/buku/asal_usul/) seperti halnya para wali lainnya dan habaib di Indonesia.
    Soal makam sunan Geseng, saya denger ada juga yg di daerah Kediri dan ada paguyuban para keturunannya juga.

    Komentar oleh Agung Sugiri | Oktober 13, 2010

  19. Itu hanya resensi saja, Pak.
    Lebih detailnya tentu dibutuhkan referensi2 lanjutan.
    terima kasih atas kritiknya.

    Komentar oleh agusjohn | Desember 9, 2010

  20. terima kasih, Mas Agung.
    informasi Anda semakin menambah wawasan tentang beliau.

    Komentar oleh agusjohn | Desember 9, 2010

  21. ya alhamdulillah,, yang penting sesama umat muslim saudara keetulan kakek saya ada silailah juga dg sunan geseng kami tinggal di pingit pringsurat temanggung

    Komentar oleh agus mahap | Desember 10, 2010

  22. oh ya kami mohon buat yang koment tolong dong tinggalnya dimana mkn kita gak pernah saling kenak tapi dengan adanya ini mkn kita bs saling kenal

    Komentar oleh agus mahap | Desember 10, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: