*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#132: Sunan Geseng: Mubaligh Tanah Bagelen (Res:)

geseng1Judul: Sunan Geseng: Mubaligh Tanah Bagelen
Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosial-Budaya (Purworejo)
Penulis: Radix Penadi
Cetak: 1998
Tebal: 52 halaman

“Clontang-clantung,
wong nderes buntute bumbung,
apa gelem apa ora?

(Clontang-clantung,
orang nderes ekornya bumbung/bambu,
apa mau apa tidak?)

Ini adalah tembangan berbau mantra yang selalu diucapkan oleh Ki Cakrajaya, tukang nderes nira kelapa sebelum memanjat pohon nira (aren). Hasil dari nderesan itu kemudian diolah menjadi gula.

Cakrajaya adalah seorang tukang nderes nira kelapa yang hidup miskin di tengah hutan. Dia tinggal di Desa Bedhug, Tanah Bagelen -saat ini Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo-, berada di bantaran aliran Sungai Watukura/Bagawanta. Karena saking miskinnya, dia juga dipanggil “Ki Petungmlarat”. Meskipun demikian, orang mengenalnya sebagai seorang yang kuat bertirakat/tapa brata, sehingga menjadi luhur budinya dan sakti ilmunya. Karenanya, Ki Cakrajaya di-“tua”-kan di wilayahnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Maret 11, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , | 22 Komentar