*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#113: Belajar Dari India (1)

Sarapan pagi di Warung Tegal (Warteg) sebelah bengkel depan Bank Ekonomi. Menunya memang simpel, tapi cocok di lidah. Ada teri kecil, teri besar, tahu-jamur, ongseng kangkung, lodeh tahu, kripik tempe kering, udang ongseng kacang, dan tak lupa dadar telur lauk favoritku.

Bersama teman-teman yang lain kita sarapan sambil ngobrol. Kebetulan, salah seorang teman ada yang baru pulang dari training 2 minggu di India. Dia bercerita tentang kondisi negara asal pemimpin besar dunia, Mahatma Gandhi itu. Mulai dari soal kedisiplinan masyarakat India, adanya konvensi (hukum yang tidak tercatat, tapi dipatuhi bersama), pendidikan yang murah, komunitas muslim yang minoritas, India sebagai negara yang kumuh tapi serba high technology, televisi pendidikan yang serva Information Technology, nasionalisme tinggi, hukum dijunjung tinggi, hingga jadi polisi India yang tidak bisa disuap.

Banyak hal! Cerita oleh-oleh dari India itu -jika direfleksikan dengan negara kita; NKRI tercinta- memberikan inspirasi bagi penulis dalam hal penting, yakni soal biaya dan kesempatan dalam memilih hidup.

Di India, biaya pendidikan murah sehingga hampir semua rakyatnya mengenyam pendidikan, sementara di Indonesia pendidikan masih menjadi konsumsi yang mahal buat orang miskin. Di negeri ini, orang miskin tidak mungkin berani bisa menyentuh sekolah swasta. Mereka hanya sangat mungkin bisa menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri yang memang bebas SPP, tapi belum tentu bebas biaya-biaya buku dan adanya “pungutan liar” lainnya (semacam upeti dalam bentuk apapun; pada saat kenaikan kelas, pendaftaran siswa baru dsb -walaupun tidak semua sekolah negeri seperti itu).

Di sini, konsep sekolah negeri yang gratispun baru sebatas SD hingga SMP (bukan yang kategori unggulan), belum SMA. Belum termasuk di level peguruan tinggi. Kebijakan pemerintah dengan tidak ada subsidi untuk PTN, maka masing-masing PTN harus “mengurus” dirinya sendiri. Imbasnya, biaya pendidikan menjadi mahal. Anak pintar tapi keturunan orang miskin jika tidak mendapat beasiswa/PMDK atau semacam “wild-card” tentu sangat sulit untuk bisa mengenyam pendidikan yang baik. Jika PTN saja tidak tersentuh, lalu bagaimana dengan Peguruan Tinggi Swasta (PTS)? Tentu lebih tidak tersentuh lagi. Endingnya, orang miskin hanya bisa menyekolahkan anaknya maksimal SMA saja. Kalaupun bisa lebih, tentu jumlahnya tidak begitu menggembirakan.

Hal tersebut menjadi pertanda, pemerataan kesempatan mengenyam pendidikan hanya menjadi pepesan kosong, karena sesungguhnya kesempatan memilih hidup (dalam hal ini sekolah) hanya bisa dinikmati oleh orang berduit saja. Padahal, dengan konsep pendidikan yang murah dan gratis, rakyat akan semakin pandai. Jika rakyat pandai, maka dampaknya negara bisa menjadi lebih kuat. Penegakan hukum, disiplin, etos kerja tinggi, mengurangi jumlah pengangguran, menjadi negara yang tertib, jika tertib maka akan menjadi negara yang beradab, mencegah berkembangnya virus terorisme, tingkat pendapatan per kapita bisa naik, taraf ekonomi rakyatpun bisa ikut meningkat.

Dalam konteks olahraga. Dengan penduduk kurang-lebih 220 juta jiwa, hingga sekarang kita masih kesulitan menyusun 11 pemain timnas sepakbola yang handal. Sulit memilih bukan seperti yang dialami Dunga, Pelatih Brasil yang bingung karena di Brasil banyak pemain bagus, tapi sebaliknya; Indonesia minim pemain berkualitas. Uniknya, kita bingung memilih pemain bagus, tapi tidak bingung ketika memilih Ketua Umum PSSI yang akhirnya dipenjara (dibui).

Kenapa demikian? Karena di Indonesia kompetisi sepakbola tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua maunya serba instan. Event kompetisi diadakan dengan “menodong” sponsor, bukan berasal dari sistem yang direncanakan secara matang (bottom-up or top-down system). Hal lain, sepakbola ternyata juga ada sekolahnya. SSB (Sekolah Sepak Bola) namanya. Dan ini juga harus bayar. Hanya orang punya duit yang bisa menyekolahkan anaknya untuk bisa bermain bola.

Kalau kita tengok di Brasil, anak-anak dengan bebas bermain sepakbola di jalanan. Klub-klub sepakbola tinggal memantau dan mengambil mereka yang berbakat untuk kemudian dilatih secara resmi oleh klub. Jika mereka jadi, maka keuntungan besar akan diraih oleh klub-klub itu. Mereka akan dijual ke klub-klub besar. Ronaldo, Ronaldinho adalah contoh pesepakbola dunia hebat yang berasal dari keluarga miskin. Anak-anak miskin itulah yang selama ini menggemparkan jagat sepakbola dengan transfer jutaan Euro.

Begitupun untuk olahraga yang lain. Bulu tangkis, bola basket, bola voli dan lainnya. Semua harus bayar karena nyaris tidak ada klub yang dibuat untuk gratisan (kecuali Petrokimia Gresik di era kejayaan voli-nya di tahun 80-an). Lihatlah pemain basket dan bulu tangkis timnas kita, yang dominan justru warga keturunan. Sangat sedikit sekali yang kulitnya coklat/hitam. Ini bukan bicara soal SARA, tapi ini bicara masalah kesempatan. Hal ini menandakan bahwa olahraga yang di Indonesia ini sudah dianggap memasyarakat sekalipun, ternyata hanya bisa dinikmati orang-orang yang berduit saja.

Anak orang miskin yang memiliki bakat voli, basket, badminton sejak kecil, di masa muda dan tuanya hanya bisa sebatas buat tingkat 17-an belaka, karena untuk bisa masuk klub mereka tak punya biaya. Dampaknya seperti problem di atas; mencari 11 pemain timnas sepakbola saja kita sebagai negara (kepulauan) besar sudah gagal. Jika uang sudah bicara, maka hanya orang kaya yang bisa. Jika uang sudah bicara, maka jangan harap kualitas pendidikan merata. Jika pemerataan pendidikan dan olahraga saja pemerintah sudah gagal membuat policy, bagaimana dengan konsep mengatur pemerintahan?

Dalam hal ini, (tidak perlu malu) belajarlah dari India!

Warteg Pengkolan WB-1, 16 July 2008, 10:00 WIB.
(c) aGusJohn al-Lamongany

Iklan

Juli 16, 2008 - Posted by | Ideologi Sikap Otak | ,

5 Komentar »

  1. “Terkadang, kita merasa mereka ada dengan natural-alamiah, dengan sendirinya, sehingga kadang membuat kita tidak sadar dan lupa akan adanya sebuah amanah itu” (kutipan tulisan Harta..) – dan bicara tentang warisan kultur negara dengan segala kelebihan dan kekurangan..baik india atau indonesia ataupun negara lainnnya. india punya teknologi..india punya tertib..india punya (warisan) kesadaran nasionalis yang tinggi…tapi inget. india cuma punya bumbu kare rendang… ngga punya rujak..tahu gejrot dan lainnya…semoga secara keseluruhan masih berimbang.. :):):)

    Komentar oleh Anonymous | Juli 17, 2008

  2. wah jadi pengin… pindah India wae piye ya???

    Komentar oleh Andy MSE | Agustus 20, 2008

  3. sungguh negara yang tak lupa pada kutilnya…

    semoga “moral” negara kita bisa sebagus India.

    Komentar oleh keminisme | September 16, 2008

  4. Semoga juga begitu, mas…

    Komentar oleh agusjohn | Februari 17, 2009

  5. lah piye, mas??
    secara ini negara salah urus melulu…
    bolak-balik pemilu nghabisin puluhan triliun, bisanya cuman jual aset2 negara..
    wah payah….

    Komentar oleh agusjohn | Februari 17, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: