*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#112: Harta Yang Tak Ternilai

Jam menunjuk ke 00:00. Tiba-tiba kuterjaga dari tidur. Alunan musik dangdut dari rumah orang yang punya hajatan di komplek atas, bersahut-sahutan dengan sayup-sayup jaipongan di atas bukit, di atas Kali Cikeas -dua tempat yang berseberangan. Rupanya, musik-musik itu yang ikut membangunkanku.

Kulihat sebelah kiriku. Putriku, Sekar Ayu NakMas Pambayun tidur dengan pulasnya. Ekspresi tidurnya begitu merdeka! Sangat bebas. Tangan mengepal ke atas, kedua kakinya terbuka lebar seenaknya. Jika nyamuk datang menyergap, dia akan jumpalitan ke sana-ke mari. Terkadang posisinya berputar. Selimut pun dia singkirkan jika dikenakan di tubuhnya -padahal sambil tidur. Benar-benar sebuah gambaran “jiwa yang merdeka”!! Tadi, dia memang tertidur sebelum film kesayangannya “Make Way for Noddy” yang diputar setiap jam 21:30 usai.

Kupandangi sekali lagi wajah Pambayun yang tertidur pulas. Aku seperti memainkan syntaxmirror” dalam software AutoCAD. Bibirnya yang manyun, hidungnya yang pesek, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik. Timbul getaran lirih dalam dadaku. Aku seperti melihat bayanganku sendiri. Sungguh sangat berbeda ketika dia sudah bangun. Yang tampak dominan adalah wajah mamanya.

Di saat musim kawin nyamuk seperti ini, tidurku terasa kurang karena harus sering-sering menjaga Pambayun dari gangguan nyamuk. Kupandangi sekali lagi Pambayun. Kucium dalam-dalam pipinya, dahinya, kepalanya, dadanya, punggungnya sembari kulafalkan Sholawat. Ini adalah kebiasaan yang kulakukan sejak dia masih di kandungan mamanya; baik di kala dia tidur ataupun tidak.

Suara nyamuk mengiang-ngiang di kamar belakang yang gelap. Kutinggalka Pambayun menuju ke kamar mamanya. Kucium perut mamanya yang sudah masuk di usia 37 minggu. Tendangan keras menyambut ciumanku. Sang “Putra Nahdlatul Wathan” itu sedang menikmati kehidupan di balik perut mamanya. Tendang di bagian perut atas-bawah, kanan-kiri. Mamanya masih saja tidur dengan pulasnya.

***
Anak-istri adalah rejeki yang luar biasa dan tak ternilai harganya. Mereka adalah harta yang tak terukur. Kebahagiaan, kesehatan, keberadaan mereka adalah kenikmatan, karunia Tuhan Yang Maha Kuasa! Mereka adalah titipan Tuhan, dan kita -kaum Adam/Bapak- adalah personal in charge atas amanah itu.

Keceriaan mereka adalah keceriaan kita. Kesedihan mereka adalah kesedihan kita juga. Mereka bukanlah sesuatu yang taken for granted; ada dengan begitu saja. Mereka tercipta (oleh Tuhan) untuk diriku, dan diriku diciptakan (oleh Tuhan) untuk mereka. Terkadang, kita merasa mereka ada dengan natural-alamiah, dengan sendirinya, sehingga kadang membuat kita tidak sadar dan lupa akan adanya sebuah amanah itu.

Sekali lagi, pandanglah anak dan istrimu di kala mereka tertidur pulas dengan segala ketidakberdayaan mereka. Tataplah dalam-dalam, ciumilah mereka, dan pahamilah posisi kita sebagai Ayah-Bapak, teman hidup, pembimbing, penjaga, kepala rumah tangga, suri-tauladan. dan apapun posisinya bagi mereka.

Semoga kita semakin cinta keluarga!
Amiin.

Pesanggrahan Bumi Ciangsana, 15 July 2008, 00:30.
(c) aGus John al-Lamongany

Iklan

Juli 15, 2008 - Posted by | Family | ,

1 Komentar »

  1. jailah anak yang solikhah.bapakmu cilik ane kluyuran bae

    Komentar oleh arifin | Juli 2, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: