*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#099: Air Keruh

Air keruh kecoklatan mengalir cukup deras menuju ke Karet Pasar Baru Barat, belok ke utara melewati Petamburan, Stasiun Tanah Abang, Jembatan Tomang, sebelah ITC Roxy Mas, lalu ia bertemu dengan Kali Angke, menyusuri Pantai Indah Kapuk, ujungnya bermuara di pantai Pluit.

Air keruh di Banjir Kanal Barat itu bisa digunakan sebagai pertanda. Dua hari kemarin teman kantorku tidak masuk kerja. Mudah saja menebaknya. Bila air Banjir Kanal Barat pasang, maka ia bisa dijadikan sebagai indikasi ada beberapa perumahan yang terendam banjir kiriman dari Bopuncur (Bogor, Puncak dan Cianjur). Salah satunya, ya rumah temanku tadi.

Jakarta sejak dulu memang sudah dikenal sebagai “Kota Seribu sungai”. Banyak nama “Ci” di beberapa sudut di kota ini, yang menandakan bahwa ibukota negara ini menyimpan makna air yang begitu luas.

Ada Cibubur, Cideng, Cidodol, Cikijang, Cikini, Cikoko, Cilandak, Cilangkap, Cililin (Petogogan), Cililitan (Kramatjati), Cilincing, Cilungup (Duren Sawit), Cimacan (Rawa Badak), Cinere, Cipayung, Cipete, Cipedak (Srengseng Sawah), Ciganjur, Cipinang, Cipulir, Ciracas, Ciranjang (Rawa Barat), dan lain sebagainya.

Belum itu termasuk “Ci” yang berpotensi mengirim air dari wilayah selatan Jakarta, seperti : Cianjur, Ciangsana, Ciawi, Cijayanti (Sentul), Cikeas, Ciomas, Cilebut, Ciliwung, Cimahpar, Cimanggu, Cinangka, Cipanas, Ciparahiangan, Cipayung-Sentul, dan “Ci”-“Ci” lainnya yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bogor.

Jan Pieter Zon Coen -atau orang Betawi menyebutnya sebagai “Mur Jangkung”, pendiri Batavia-kolonial tahun 1596 pada saat membuka hutan Batavia waktu itu penuh dengan berdarah-darah. Karena dominan lahan rawa, maka bala pasukannya banyak yang terserang wabah penyakit, seperti diare dan malaria.

Di jaman Soeharto, rezim paling biadab yang pernah dimiliki di negeri ini, dulu juga berencana memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke arah Jonggol yang dekat ke Cianjur dengan alasan yang sama; banjir.

Dan hingga kini, di era rezim Sutiyoso yang serba modern ataupun pada saat Bang Ali Sadikin di era 60-an, masalah banjir itu masih juga belum tuntas.

***
Memandang dan menulis arus air Banjir Kanal Barat dari atas lantai 8 Landmark ini memang seolah tiada hentinya, mengingatkanku seperti halnya duduk-santai di atas bantaran Sungai Brantas di belakang rumah di Jombang sana, yang dasarnya begitu dalam. Yang mengalirkan air dari menuju Ujung Pangkah di Gresik, sambil ditemani putri terkasihku, Sekar Ayu Nak Mas Pambayun yang cerdas.

Landmark, 30 Jan 2006 (c) Gus John

Desember 21, 2006 - Posted by | kebijakan Ibukota

1 Komentar »

  1. Banjir

    Ku lihat
    Ku dengar
    Kemudian ku raba
    hanya Kota Tangerang yang mengeruk sungai Cisadane
    Entah karena penglihatanku terbatas
    tapi banjir kanal itu mengeruhkan penglihatanku, menghentikan laju motorku, melambatkan indera keenamku
    Dengan lumpurnya yang menggunung di setiap jalan protokol motorku
    licin di penghujan, debu di pengering, batuk di ngebut, asma di lambat…
    Kini ku jajah Pondok Aren, menemukan air keruh, bukan bersih PDAM, tapi tujuh sumur

    Komentar oleh blankon | November 13, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: