*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#095: Jauh-Dekat Sama Saja: Filosofi Jalanan di Ibukota [2]

Ini bukan jargon tarif angkutan umum di ibukota. Tapi, coba lihat dan amati kisah ini.

*
Setiap Senin, wajah-wajah cemberut kembali mewarnai jalanan ibukota, setelah dua hari sebelumnya (Sabtu-Minggu) libur. Maklum saja! Bagi orang-orang yang hidup dan bertempat tinggal di wilayah pinggiran ibukota –seperti di Depok, Bekasi, Tangerang, Cibubur-Cileungsi, Tangerang dan Bogor, Sabtu-Minggu dan hari libur merupakan saat yang menyenangkan buat keluarga. Hari libur adalah hari spesial untuk keluarga, karena selama 5 hari kerja, mereka harus berangkat pagi (05:30) dan pulang di sore harinya (18:00). Apalagi bila ingin menghindari macet, tentu sampai di rumah bisa jam 20:00.

Jadi tidak usah heran bila pakai lipstik, bebedak pipi hingga menor, pakai dasi, sisir rambut, dan kegiatan lainnya seringkali biasa kita lihat terjadi di balik kaca mobil yang terjebak lampu merah atau kena macet. Itu adalah hal yang biasa.

Begitupun para pengendara motor roda dua. Dahinya berkerut, kedua alis saling bertemu. Pasang muka dan tampang serius! Terkadang serobot sana-sini, menerobos di antara mobil-mobil yang jalannya merayap. Sesekali diselingi dengan raungan knalpot yang digeber. Beberapa oknum pengendara motor biasanya main kebut ketika begitu melihat ada celah kosong di depannya. Mereka seakan yang punya jalan, tidak mempedulikan nasib pengguna jalan yang lain. Terkadang, mereka juga main serobot lampu merah seenaknya, membikin lalu lintas semrawut dan tidak tertib. Main serobot aturan, ciri khas mental orang susah!

*
Ada sedikitnya tiga alasan penyebab kenapa pengendara motor –atau bahkan pengendara mobil juga?- sering main selonong lampu merah. Pertama, takut datang terlambat di kantor. Sangatlah aneh, kalau memang takut terlambat, seharusnya mereka berangkat ke kantor lebih pagi. Kedua, ikut nyerobot lampu merah karena melihat orang lain melakukan hal yang sama. Model orang-orang seperti ini masuk kategori latah! Tidak punya kepribadian. Hanya bisa mengikuti arus. Ciri-ciri orang opurtunis dan pragmatis.

Kelompok ketiga, melanggar rambu-rambu lalu-lintas karena memang sudah menjadi kebiasaan. Kebiasaan orang-orang yang memang tidak pernah taat aturan, tidak mempunyai standar etika dan moral dalam hidupnya, serta tidak menyukai suatu sistem bisa berjalan dengan tertib dan benar.

Kalau jarak (jauh) dijadikan sebagai alasan utama untuk melanggar lalu-lintas, maka tidak tepat lagi. Modal untuk mengarungi ruas-ruas jalan di Jakarta, kini tidak hanya ditentukan oleh jarak, tapi juga waktu. Dan “rumus waktu” itu tercipta oleh keadaan sekitar yang mempengaruhinya. Faktor itu bisa berupa: pertama, semakin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di ibukota. Kedua, infrastruktur fisik jalanan ibukota yang pertumbuhannya tidak seimbang dengan jumlah kendaraan bermotor yang jumlahnya meningkat tajam tiap harinya tersebut. Ketiga, fasilitas angkutan umum yang kurang memadai dan tidak mampu mengatasi jumlah populasi pekerja di ibukota.

Sementara faktor lainnya yang bisa menjadi penyebab terciptanya “rumus waktu” misalnya, banjir, terjadinya kecelakaan, ada gali lubang di pinggir jalan, tidak tertibnya angkutan umum dan kendaraan pribadi dalam berlalu-lintas, dan sebagainya.

Masuk jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) misalnya, seperti dalam coretan saya sebelumnya, bila kita terlambat masuk jalan tol jam 06:30, maka kita akan mendapatkan kemacetan yang luar biasa. Tidak peduli apakah tempat tinggal anda di Halim, Cibubur, Taman Mini, Kampung Rambutan atau lainnya, bila anda masuk tol lebih dari jam “rumus waktu” itu, maka anda akan terjebak dalam “show room” panjang. Anda akan kalah cepat dengan arus yang datang dari Bogor, Ciawi, Cibinong, Sentul, Citeureup, Cimanggis dan daerah pinggiran lainnya, walaupun rumah anda lebih dekat.

Dalam kondisi infrastruktur jalanan ibukota seperti sekarang ini (belum ada penambahan yang berarti), maka jarak jauh-dekat seolah-olah tiada arti. Sama saja! Jam kantor masuk pukul 08:00, walaupun rumah anda lebih dekat (misalnya di Cibubur), tapi kalau tidak berangkat pagi, pasti akan datang terlambat. Masyarakat akan mengikuti “rumus waktu” masuk tol, dan lambat-laun masyarakat akan terkondisikan hal itu.

Landmark Tower B, 31 Oktober 2005 (c) Gus John

Desember 13, 2006 - Posted by | Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: