*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#093: Optimisme di Tengah Pesta Rakyat: “Durna-isme” Harus Lenyap

Para prajurit masih tampak kelelahan. Recovery beberapa hari untuk memulihkan stamina dan fisik, masih belum juga membuahkan hasil. Pesta rakyat sehari Kerajaan Hastinapura yang berlangsung di Lapangan Kurusetra kemarin memang sungguh melelahkan. Full games, dan untuk menuju lokasi harus menempuh perjalanan darat PP 5 jam yang membosankan.

**
Pesta rakyat berlangsung meriah. Lapangan bola Kurusetra -kurang lebih 20 km arah 170 derajat dari ibukota Pajajaran (berdasarkan jarak udara ditarik dari MapInfo), menjadi semarak. Games dan aneka jajanan pasar (pastel, lumpia, tahu isi, kue basah, permen) tersaji ala prasmanan di tengah lapangan. Minumanpun ada tiga rupa. Air putih, teh manis hangat, dan kopi yang tidak terlalu kental. Hari itu rakyat benar-benar dimanjakan. Mereka tinggal comot makanan dan minuman yang mereka suka. Baca lebih lanjut

Iklan

Desember 4, 2006 Posted by | Esia, Ideologi Sikap Otak, Sejarah & Peradaban | Tinggalkan komentar

#092: Esia Branding 17-an

Dulu, ketika saya mengenalkan diri sebagai karyawan Esia ke owner lahan, ruko, gedung, sekolah, yayasan, pesantren ataupun tower pada saat melakukan survey kandidat BTS, banyak orang yang tidak paham, “Esia itu apa, mas?” Tapi, sejak ada iklan “diplorotin lu….” tayang di televisi, orang dengan mudah kenal Esia. Tidak hanya di ibukota. Di Garut, Rancaekek, Nagrak, di Serang, begitu bilang “Esia”, atau bila mobil side-kick biru berlogo “Esia” menyusuri hamparan sawah, menerobos hutan di tengah pegunungan, atau melewati kampung demi kampung, masyarakat sekarang dengan mudah langsung mengenalnya.

Memang, pada saat iklan Flexi terlihat ‘ngglambyar’ (baca: “tidak fokus”), dan iklan Star-One terkesan terlalu “corporate”, iklan Esia “diplorotin lu..” cukup efektif. Sederhana, dan cukup mengena. Menurut saya, iklan ini mendapatkan mind share yang cukup luas dari pelanggan atau calon pelanggan. Mereka seolah-olah disadarkan dari tidur panjangnya selama ini, bahwa tarif pulsa GSM memang benar-benar ‘mlorotin’ isi kantong. Iklan yang agak “komedian dan merakyat” beginilah yang sebenarnya mudah diingat oleh setiap orang. Barangkali, hanya iklan “joget Jempol” dari operator GSM-XL yang sudah melakukan hal seperti itu. Baca lebih lanjut

Desember 4, 2006 Posted by | Esia | Tinggalkan komentar

#091: Ketika Konsumen Lebih Dimanjakan

Suatu malam-empat bulan yang lalu, saya bersama istri berkunjung ke rumah Mbak Sri, tetangga sebelah kontrakan di Mampang. Silaturahmi, merupakan hal biasa yang rutin saya lakukan selama hidup bertetangga dalam lingkungan sosial masyarakat. Di samping itu, keluarga perempuan ulet asli Salatiga Jawa Tengah itu selama ini memiliki itikad yang baik dalam hidup bertetangga. Keluarga Mbak Sri, sering membantu keluarga saya untuk mengeringkan cucian ketika masalah popok Pambayun susah kering akibat cuaca selalu mendung dan hujan sering turun.

Dalam kesempatan silaturahmi itulah, Mbak Sri sepintas sempat mengeluh. Suaminya, yang tiap hari berdagang bahan-bahan kelontong di Pasar Jagal Mampang, omsetnya terus menurun sejak dibukanya pasar swalayan “Superindo” yang berdiri di pinggir jalan Warung Buncit, tidak jauh dari lokasi Pasar Jagal. Bahkan, “suami saya sering belanja rokok di swalayan itu, mas, bila tidak ada stok kiriman rokok ke pasar, karena harganya lebih murah atau sama”, katanya. Ironis bukan?!

***
Keluhan Mbak Sri, bisa jadi hanya salah satu dari sekian banyak keluhan para pedagang pasar tradisional lainnya yang posisinya kian hari kian terjepit. Kasusnya sama. Omset mereka terus menurun, dagangan sepi, dan pembeli lebih suka membeli barang-barang di pasar swalayan karena harganya tidak jauh berbeda. Bahkan, ada yang lebih murah dari pasar tradisional.

Di saat pasar tradisional masih juga belum sempat berbenah dalam memberikan kenyamanan dalam layanan, pasar swasta di ibukota terus bermunculan bagai cendawan di musim hujan. Di Jakarta Selatan saja telah berdiri 4 hypermarket, 38 supermarket, 44 pasar swalayan, 37 toko serba ada (toserba) dan 25 minimarket. Sementara untuk pasar tradisional berjumlah 30 buah. Baca lebih lanjut

Desember 4, 2006 Posted by | kebijakan Ibukota | , , | 2 Komentar

#090: Cinta dan Menikah Itu…

Cinta dan menikah itu, bukanlah pemanis di mulut dan bibir saja, tapi cinta dan menikah itu harus ditunjukkan dengan sikap dan perbuatan yang nyata.

Cinta dan menikah bukan hanya mengandalkan perasaan belaka, tapi perlu kejernihan otak untuk bisa saling mengerti dan memahaminya.

Cinta dan menikah tidak cukup hanya bermodalkan materi belaka; hidup di apartemen mewah, punya rumah megah, berfoya-foya dengan harta yang melimpah. Tapi ia membutuhkan kenyamanan dalam merasakan dan memaknainya.

#
Cinta dan menikah, bukanlah hanya diisi dengan diam-seribu bahasa, tapi perlu saling komunikasi di antara pelakunya; karena ia adalah simbol kedinamisan hidup, bukan seperti mayat tak bernyawa.
Cinta adalah bicara, bukan gagu dan membisu. Baca lebih lanjut

Desember 4, 2006 Posted by | Sastra | Tinggalkan komentar

#089: Menulis Sederhana Saja

Barangkali, dari sekian penulis terkemuka di Indonesia, hanya Emha Ainun Nadjib yang tulisannya sangat sederhana. Tidak ndakik-ndakik seperti tulisan Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar-Abdalla seperti dalam bukunya, “Membakar Rumah Tuhan”. Atau, lebih banyak catatan kakinya daripada isi tulisannya seperti sang kritikus sistem demokrasi Barat, Ahmad Baso –yang mengurai tentang “kekurangan dan kelemahan” sistem demokrasi Barat bila dilihat dari sudut pandang “Kritik Nalar Melayu”.

Tulisan Cak Nun, tidak juga seperti tulisan Indonesianis asal Barat, seperti De Graaf, Prof. Nakamura, A. Hauken, De Jong, dan lainnya yang begitu rumit untuk dipahami. Cak Nun, tulisannya simple. Dia tak perlu lebih detail mengupas teorinya Samuel P. Huttington, Lance Castle, atau Gertz. Dia cukup menulis apa yang ia lihat, apa yang terjadi di masyarakat. Baca lebih lanjut

Desember 4, 2006 Posted by | Other, Seni & Budaya | 1 Komentar