*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#082: Seks Penguasa dan Status Kelas di Masyarakat

“Orang Mojokerto itu cenderung brangasan, karena turunan budak”, begitu asumsi seorang netter dalam sebuah diskusi di millist politik yang pernah saya buat, lima tahun yang lalu.

Menuruti apa kata asumsi atau stigma yang berkembang, mungkin tak akan pernah ada habisnya. Tapi, jangan pula terlalu meremehkan stigma yang berkembang di masyarakat, karena ada beberapa diantaranya justru kemudian menjadi bagian (mengintegrasi) dengan adat-istiadat. Ia dipercaya, diyakini, lebih dari itu, lalu diakui, dipatuhi oleh masyarakat. Misalnya saja stigma atau sejenis mitos yang berkembang di Lamongan, bahwa orang Lamongan tidak boleh menikah dengan orang Kediri. Lalu ada stigma, orang Jawa berpantang menikah dengan orang Sunda, dan sebagainya.

Tentu, semua itu punya latar belakang sejarah di masa lalu. Ia bisa benar, bisa juga tidak, atau hanya sekedar hasil rekayasa masa lalu belaka. Mungkin, stigma premature yang berkembang di masyarakat tentang karakter orang Mojokerto seperti tersebut di atas, berangkat dari latar belakang sejarah Majapahit yang pada waktu berdirinya pada abad 13, harus mendatangkan orang-orang bertipe pekerja keras asal Madura, untuk membuka dan membangun sebuah desa kecil, bernama Tarik (Krian), yang kelak di kemudian hari berubah menjadi pusat sebuah kerajaan besar, Majapahit.

Mereka, para pekerja itu, sengaja didatangkan oleh Arya Wiraraja, penguasa Madura, atas permintaan RadenWidjaya, dengan sebelumnya mendapatkan persetujuan dari Raja Kertanegara (raja terakhir Singosari). Mendatangkan penduduk dalam jumlah besar, dengan latar belakang pekerja kasar itulah yang mungkin menjadi dasar, latar belakang dari stigma yang berkembang secara turun-temurun tersebut.

Begitupun menurut penelitian Lance Castle –diikuti oleh para epigonnya- dalam studi etnic profilenya di tahun 1967. Castle mengatakan, nenek moyang Betawi adalah keturunan budak. Hipotesa tersebut berangkat dari adanya kebijakan Jan Pieterszon Coen, Gubernur Jenderal pertama Batavia, yang mendatangkan ratusan budak dari luar Jawa (dan luar Nusantara) untuk membangun Kota Batavia yang baru saja ia dirikan, 1619 M. Kontan saja, asumsi tersebut dibantah dengan keras oleh pakar budaya Betawi, Ridwan Saidi dalam bukunya “Profil Orang Betawi: Asal-Muasal, Kebudayaan dan AdatIstiadatnya” (Gunara Kata, 1997).

Bantahan secara ilmiah yang dilakukan oleh Ridwan itu setidaknya menunjukkan, bahwa tidak selamanya asumsi, stigma itu benar. Asumsi atau stigma, adalah pendapat. Kalaupun kemudian sampai diyakini, diakui masyarakat secara luas, maka ia telah berkembang menjadi sebuah mitos yang cenderung takhayul. Tapi, semua orang berhak untuk berasumsi dan berpendapat. Tinggal diuji saja sejauhmana nilai kebenarannya. Nah, berikut ini ada beberapa cerita yang ada kaitannya dengan stigma, mitos dan legenda yang akan saya ulas secara sederhana sesuai dengan tema.

Javadwipa, di sekitar abad 12.
Dusun itu bernama Pangkur, terletak di lereng selatan Gunung Kawi. Di kampung yang hijau subur itu, tersebutlah nama Ken Saptiarti Andragini, seorang dara nan cantik jelita. Orang sering memanggil ‘kembang desa’ itu dengan sebutan Ken Endok, yang mengandung arti “ibu kandung”; sebagai penghormatan atas parasnya yang elok. Berkat kecantikannya itulah, Ken Endok kemudian diperistri oleh seorang brahmana yang sangat dihormati, Resi Sri Girinata.

Oleh sang resi, ternyata Ken Endok diharapkan bisa menjadi seorang yogini (menjadi perawan suci sampai ajal datang menjemput), satu hal yang membuat naluri keperempuanan Ken Endok kemudian memberontak. Karena merasa tak akan pernah “disentuh” oleh sang resi, maka Ken Endok kemudian menyukai Para, seorang lelaki dari golongan sudra (rakyat jelata, kasta terendah), yang sering ia jumpai dalam perjalanan setiap kali ia akan memberikan sesaji di pura yang terdekat dari rumahnya.

Karena merasa tak diperhatikan sama sekali oleh suaminya, sang resi, cinta Ken Endok semakin hari semakin bersemi ke Gajah Para. Gayung pun bersambut. Demikian dengan Para, ia pun sangat mencintai Ken Endok. Tapi, meskipun sangat mencintai Ken Endok, Gajah Para sangat menghormati perempuan ayu itu. Ia tak berani berbuat macam-macam karena ia tahu bahwa Ken Endok istri seorang resi yang sangat dihormati. Proses pacaran kedua insan manusia itupun berlangsung cukup serius, diselingi cium pipi dan bibir, tapi keduanya tak sampai melakukan yang lebih dari itu.

Suatu ketika, Ken Endok kembali mengajak Para untuk melakukan sesembahan di pura yang biasa mereka datangi. Mereka tak menyadari, ketika setiap hari melakukan pemujaan dengan memberikan sesaji, ada sepasang mata nakal yang terus mengintai. Mata tua seorang resi yang tergoda oleh kemulusan dan kecantikan wajah Ken Endok. Karena birahi sudah tak dapat diajak kompromi, sang brahmana itu melakukan tipu-muslihat. Sengaja ia menawarkan dupa yang harum baunya ke kedua insan yang dimabuk cinta itu. Ketika dibakar, dupa itu menebarkan aroma wewangian. Ken Endok dan Para tak sadar, bau dupa itu dicampuri dengan ilmu sirep sang resi. Akibat terlalu senang menghirup bau wewangian dupa, maka tertidurlah kedua kekasih itu. Di saat keduanya terlelap dalam tidur, sang brahmana itu memperkosa Ken Endok hingga kemudian hamil. Bayi hasil hubungan gelap itulah yang kelak dikenal oleh ahli sejarah sebagai Ken Arok, pendiri Dinasti Singosari, yang juga menjadi cikal-bakal dinasti Majapahit (Legenda Ken Arok Ranggah Radjasa, Yongky Y, Grasindo,2004).

Ada juga cerita sejarah menarik yang dikisahkan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam bukunya, “Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser” (LKIS, 2002, h. 3). Di salah satu tulisannya, “Membaca Sejarah Lama (1)”, Gus Dur mengisahkan: “Ki Ageng Gringging punya sebutir kelapa muda yang ia letakkan pada rak di dapur. Ketika ia pergi ke kebun, datanglah Ki Ageng Pamanahan yang langsung menuju ke dapur. Karena haus, dan melihat butir kelapa muda tergeletak, maka ia langsung melubangi dan meminum isi airnya. Karena minum air kelapa itu, ia kemudian menjadi cikal-bakal dinasti Mataram.”

Nah, dalam analisa dan pemahaman Gus Dur, menurut budaya Jawa, minum air kelapa itu bisa diartikan sebagai serong dengan istri orang lain. Ki Ageng Pamanahan telah melakukan proses selingkuh dengan istri Ki Ageng Gringging, dan hasil dari selingkuh inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal yang melahirkan raja-raja Mataram.

#
Memahami dua cerita di atas, ada sedikitnya dua hal yang bisa saya simpulkan, bahwa; pertama, status kelas di masyarakat bukanlah seperti hitungan integral ataupun differensial, sehingga bisa dilimpahkan menjadi subyek baru, dengan cara dinaik atau diturunkan secara otomatis. Status kelas adalah pilihan individu –tentu saja dengan dipengaruhi oleh lingkungannya. Ia bukan semata-mata hasil turunan (baca: warisan). Siapa yang berusaha secara maksimal, maka dia akan mendapatkan status kelas yang lebih baik.

Seorang pencuri (maling) berharap tentu anaknya tak ingin meniru profesinya. Orang yang miskin, tentu berharap agar anaknya bisa hidup lebih baik. Atau orang menjadi besar berangkat dari kemiskinan (kisah JK Rowling, penulis novel hebat, Harry Potter). Sebaliknya, anak presiden belum tentu bisa menjadi presiden. Bisa saja ia malah jadi preman, koruptor ataupun penjahat ekonomi.

Seorang anak tentara bisa saja menjadi bajingan. Sama halnya dengan seorang budak, tak selamanya melahirkan anak sebagai budak. Seorang presiden bisa lahir dari seorang yang berprofesi sebagai guru kecil (Bung Karno). Atau, seorang presiden bisa lahir dari seorang petani(pengakuan Soeharto).

Untung Suropati misalnya, dia adalah seorang budak belian berasal dari Bali, yang kemudian bisa menjadi seorang pahlawan besar hingga ditakuti oleh kompeni era Mataram. Namanya harum dan terkenal dari Batavia hingga Bangil, Pasuruan. Dan, masih banyak lagi contoh yang lain. Artinya, strata sosial (status kelas) masyarakat atau individu tidak semata-mata karena faktor turunan –seperti stigma di atas. Lebih unik lagi, dengan melihat ulasan kedua berikut ini;

Kedua, latar belakang keturunan para penguasa Jawa jaman dulu cenderung kontroversial. Tidak jelas silsilahnya. Seperti kisah di atas, ternyata Ken Arok lahir dari proses hasil selingkuh. Ia tak punya nasab yang jelas. Begitupun dengan kisah Ki Ageng Pamanahan. Artinya, kedua dinasti dua kerajaan besar (Majapahit dan Mataram) itu berasal dari asal-usul yang tak jelas. Tapi, walaupun Ken Arok dan dinasti Mataram berasal dari hasil selingkuhan, toh kedua dinasti itu mampu melahirkan raja-raja besar yang agung di kemudian hari. Menarik bukan? Sangat jauh beda dengan apa yang kita pahami secara teks-book dalam teori-teori sekolah. Selama ini, silsilah raja-raja biasanya jelas dan berasal dari nasab yang bagus.

Jika reka-reka sejarah yang dilakukan oleh Yongky dan Gus Dur di atas benar, ini menunjukkan, selalu saja ada bagian-bagian sejarah yang ditutupi, dibuat baru (diada-adakan) dengan tujuan agar mendapatkan legitimasi kebenaran dari publik. Itu yang disebut dengan, sejarah dibuat sesuai dengan selera penguasa. Siapa yang berkuasa, merekalah yang memegang kendali cerita sejarah. Ironis sekali.

Berikut ini satu lagi catatan menarik dari saya untuk mengoyak kemapanan sejarah yang selama ini selalu kita anggap “suci” dan baik. Ada dua literatur sejarah yang ingin saya bandingkan di sini; yakni buku “Perjuangan Kraton Jogjakarta” karya Dr. Purwadi (Krakatau Press, 203) dengan bukunya Vincent JH. Houben, “Keraton dan Kompeni: Surakarta dan Yogyakarta 1830-1870″ (Bentang, Des 2002).

Jika Purwadi menceritakan sejarah, riwayat hidup dan perjuangan yang telah dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono (SHB) I hingga SHB X dengan apa adanya(baca: yang lurus-lurus saja), maka dalam catatan Houben, Indonesianis asal Belanda ini, akan kita temukan adanya persoalan “seks menyimpang” yang terjadi dalam sejarah Keraton Jogjakarta. Menurut Houben dalam risetnya tersebut, SHB V dianggap sebagai seorang laki-laki yang punya penyakit kelamin (spilis) dan impoten. Sementara SHB VII dicap sebagai raja yang suka main perempuan. Sebuah tulisan yang cukup berani, dan tak akan pernah kita temukan dalam literatur buatan sejarawan lokal.

Ini adalah temuan menarik yang tak akan pernah kita dapatkan dari pelajaran dan teori-teori sekolah. Sebuah hal yang sebenarnya masuk akal, karena sudah menjadi kebiasaan bila raja-raja jaman dulu beristri banyak. Itu yang permaisuri (garwa padmi), belum yang selir. Dalam catatan Purwadi saja, SHB VII punya 3 permaisuri dengan 78 anak. Lalu SHB II punya 4 permaisuri dengan 80 anak. Dan SHB IX punya 5 istri dengan 22 anak. Belum jumlah selirnya.

Inilah sebuah proses rekaan sejarah yang cukup menarik, sebagai langkah guna menemukan (paling tidak, mendekati) sebuah kebenaran sejarah. Atau meminjam istilah Gus Dur, bukan angka tahun dan cara menghafal (sejarah) yang dibutuhkan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami proses perjalanan dari sejarah itu sendiri secara benar.
Wallaahu’alam bi ash showab.

Pesanggrahan Keramat (Buncit III), 26 April 2004
(c) Gus John.

Iklan

November 27, 2006 - Posted by | Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , ,

1 Komentar »

  1. DANCOK RAIMU!!!

    KOEN IKU…
    WIS ELEK YO GAK GANTENG
    DISAWANG SOK KERENG

    Komentar oleh Anonymous | April 29, 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: