*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#081: Politik: Warna dan Kebenaran

Ketika Orde Reformasi lahir di pertengahan tahun 1998, masyarakat alergi dengan warna kuning. Itu terbukti pada pemilu pertama pasca kejatuhan rezim Soeharto (Pemilu 1999), suara Partai Golkar menurun drastis. Dari kemenangan mutlak sekitar 70% era Harmoko (Pemilu 1997), turun menjadi sekitar 20% era Akbar Tanjung. Saat itu, masyarakat alergi dengan segala apa yang berbau kuning. Mobil berwarna kuning ingin keluar rumah menjadi khawatir. MobilTimor terjual dengan harga miring, karena takut kena amuk massa yang kelakuannya sinting. PNS bebas memilih partai kesukaannya, walaupun tetap dilarang untuk menjabat rangkap sebagai pengurus parpol ataupun sekedar sebagai simpatisan parpol secara terbuka. Orang takut dicap Golkar hanya karena memakai kaos kuning, jaket kuning, ataupun motor dicat kuning. Takut diamuk massa!

Pemilu 1999, warna merah menyala. Merah berjaya. Kurang lebih 34% kursi DPR dapat diraih parpol berwarna merah (PDIP), setelah sebelumnya selalu berada di urutan terakhir selama pemilu yang diadakan Orde Baru –dari pemilu 1971 hingga 1997 (hanya dapat Wallaahu’alam bi ash showab.

Senja hari di Masjid Syuhada, Beji Permai, Tanah Baru-Depok, 25 April 2004
(c) aGus John.

November 27, 2006 - Posted by | Sosial-Politik | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: