*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#082: Seks Penguasa dan Status Kelas di Masyarakat

“Orang Mojokerto itu cenderung brangasan, karena turunan budak”, begitu asumsi seorang netter dalam sebuah diskusi di millist politik yang pernah saya buat, lima tahun yang lalu.

Menuruti apa kata asumsi atau stigma yang berkembang, mungkin tak akan pernah ada habisnya. Tapi, jangan pula terlalu meremehkan stigma yang berkembang di masyarakat, karena ada beberapa diantaranya justru kemudian menjadi bagian (mengintegrasi) dengan adat-istiadat. Ia dipercaya, diyakini, lebih dari itu, lalu diakui, dipatuhi oleh masyarakat. Misalnya saja stigma atau sejenis mitos yang berkembang di Lamongan, bahwa orang Lamongan tidak boleh menikah dengan orang Kediri. Lalu ada stigma, orang Jawa berpantang menikah dengan orang Sunda, dan sebagainya.

Tentu, semua itu punya latar belakang sejarah di masa lalu. Ia bisa benar, bisa juga tidak, atau hanya sekedar hasil rekayasa masa lalu belaka. Mungkin, stigma premature yang berkembang di masyarakat tentang karakter orang Mojokerto seperti tersebut di atas, berangkat dari latar belakang sejarah Majapahit yang pada waktu berdirinya pada abad 13, harus mendatangkan orang-orang bertipe pekerja keras asal Madura, untuk membuka dan membangun sebuah desa kecil, bernama Tarik (Krian), yang kelak di kemudian hari berubah menjadi pusat sebuah kerajaan besar, Majapahit.

Mereka, para pekerja itu, sengaja didatangkan oleh Arya Wiraraja, penguasa Madura, atas permintaan RadenWidjaya, dengan sebelumnya mendapatkan persetujuan dari Raja Kertanegara (raja terakhir Singosari). Mendatangkan penduduk dalam jumlah besar, dengan latar belakang pekerja kasar itulah yang mungkin menjadi dasar, latar belakang dari stigma yang berkembang secara turun-temurun tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

November 27, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , , | 1 Komentar

#081: Politik: Warna dan Kebenaran

Ketika Orde Reformasi lahir di pertengahan tahun 1998, masyarakat alergi dengan warna kuning. Itu terbukti pada pemilu pertama pasca kejatuhan rezim Soeharto (Pemilu 1999), suara Partai Golkar menurun drastis. Dari kemenangan mutlak sekitar 70% era Harmoko (Pemilu 1997), turun menjadi sekitar 20% era Akbar Tanjung. Saat itu, masyarakat alergi dengan segala apa yang berbau kuning. Mobil berwarna kuning ingin keluar rumah menjadi khawatir. MobilTimor terjual dengan harga miring, karena takut kena amuk massa yang kelakuannya sinting. PNS bebas memilih partai kesukaannya, walaupun tetap dilarang untuk menjabat rangkap sebagai pengurus parpol ataupun sekedar sebagai simpatisan parpol secara terbuka. Orang takut dicap Golkar hanya karena memakai kaos kuning, jaket kuning, ataupun motor dicat kuning. Takut diamuk massa!

Pemilu 1999, warna merah menyala. Merah berjaya. Kurang lebih 34% kursi DPR dapat diraih parpol berwarna merah (PDIP), setelah sebelumnya selalu berada di urutan terakhir selama pemilu yang diadakan Orde Baru –dari pemilu 1971 hingga 1997 (hanya dapat Wallaahu’alam bi ash showab.

Senja hari di Masjid Syuhada, Beji Permai, Tanah Baru-Depok, 25 April 2004
(c) aGus John.

November 27, 2006 Posted by | Sosial-Politik | , , , | Tinggalkan komentar