*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#078: Kehilangan Momentum Penting

Tiga hari baru saja sibuk di rumah dengan jadwal yang melelahkan. Kepulanganku selalu terbayar dengan kegiatan yang bernilai “mahal” untuk dilewatkan. Sungguh sayang, tak bisa hadir.

September lalu, di saat pulang kampung, Wikusama sedang mengikuti turnamen futsal antar perusahaan. Prestasi bagus bisa dicapai; Wikusama menjadi semifinalis turnemen futsal yang diliput tabloid “Bola”. Tiga tahun sebelumnya, pas cuti seminggu, ternyata ada proses pindah bagian. Apa boleh buat, pemberitahuan mendadak telah menjegal proses perpindahan itu. Begitupun awal tahun ini. Aku mengalami nasib yang sama. Pun dengan liburan yang hanya tiga hari kemarin itu. Seorang sahabat menghubungiku via sms, “Sampeyan sudah minta undangan ke kiai Fulan, Gus!”

“Ada apa?”, tanyaku.

“Ada Konferensi Islam Internasional di Jakarta.”

“Apakah aku bisa mendapatkan undangannya?”

“Sudah, hubungi saja Kiai Fulan,” jawabnya.

Memang, sejak tanggal 23 -26 Februari, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) punya gawe besar. Mereka menggelar International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di JCC (Jakarta Convention Center) yang akan dibuka Presiden Megawati, 23 Februari, dan akan ditutup Wapres Hamzah Haz.

Konferensi yang mendapat respons cukup besar dari para pakar dan cendekiawan muslim dari puluhan negara itu, akan membicarakan tiga isu pokok. Pertama, Islam, perdamaian dan pendidikan. Kedua, Islam dan pembangunan ekonomi. Ketiga, Islam, informasi dan media massa.

Konferensi ini juga akan dihadiri oleh sekitar 62 peserta internasional. Dan, 43 negara berencana akan ikut ambil bagian dengan mengirimkan wakilnya. Plus, 31 pembicara dari luar negeri, diantaranya: Abdullah Badawi (PM Malaysia) selaku Ketua Organisasi Konferensi Islam (OKI), Prof. al-Jarf (Saudi Arabia), Prof. Dr. Wahbah Zuhaili (Syria), Prof. Dr. Mohammad AliTaskhiri (Iran), Prof. Dr. Mohammed Abdel al-Fadhil Abdul Aziz (Mesir), Prof. Dr. Abdulah Saeed (Australia), Dr. Azizah al-Hibri (Amerika Serikat) dan Sharif Muhammad Hasanul Ban (Inggris).
Sementara dari Indonesia, tokoh yang akan menjadi pembicara adalah KH Abdurrahman Wahid/Gus Dur (mantan presiden RI), KH MA. Sahal Mahfudh (Rais ‘Am PBNU), Prof. Dr. A. Syafi’i Ma’arif (Ketua PP Muhammadiyah), Nurcholish Madjid, Emil Salim, Burhanuddin Abdullah (Gubernur BI), Azumardi Azhra(Rektor IAIN Ciputat), Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos), dan sejumlah pakar lainnya.

Konferensi yang bertemakan “Upholding Islam as Rahmatan lil ‘Alamiin” itu bertujuan untuk mengukuhkan Islam yang moderat di Indonesia, seperti yang diungkapkan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi di kantor PBNU, Sabtu lalu, “Kita akan mengukuhkan Islam yang moderat. Indonesia pun akan mendapat pengakuan dari masyarakat internasional dan membuktikan diri bahwa dalam menghadapi radikalisme dan terorisme, kita selalu mengedepankan hukum dan agama.” (Jawa Pos, 23/02/04).

Di samping itu, menurut Kiai Hasyim, pertemuan ICIS juga memiliki banyak manfaat, diantaranya: (1) melibatkan tokoh Islam dari berbagai faksi, diharapkan bisa dicapai visi dalam mengembangkan Islam yang selaras dengan kepentingan kebangsaan, (2) diarahkan untuk menjembatani hubungan Islam-Barat yang mengalami kerenggangan sejak invasi Amerika Serikat ke Afghanistan, Irak, persoalan konflik Israel-Palestina, dan stigma terorisme yang diidentikkan dengan Islam. Dengan acara ini, diharapkan timbul saling pengertian dari kedua belah pihak.

Sayang, info yang datang itu telat! Padahal, sehabis acara seminar, di penghujung acara penutup ada acara jalan-jalan ke Keraton Jogja dan dijamu oleh Kanjeng Sultan Hamengkubuwono X, melihat Candi Borobudur, ke kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, keliling pesantren al-Hikam di Malang, dan Pesantren Sidogiri di Pasuruan.

Lagi-lagi momen bagus ini terlewat dikarenakan pas sahaya pulang kampung. Informasi akan diadakannya perhelatan akbar ini sebenarnya sudah kuketahui jauh hari sebelumnya –hanya saja belum tahu waktu persisnya, setelah aku tahu Kiai Fulan pergi ke negara-negara Timur-Tengah untuk melobi dan menyebarkan undangan.

Apakah ini sebuah “kesialan”? Ya, mungkin saja, bisa menyaksikan dan mengikuti waktu-waktu baik itu memang belum jodohku! 😦
Wallaahu’alam bi ash showab.

Pancoran, 24 Feb ’04
(c) GJ

Iklan

November 21, 2006 - Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: