*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#080: Bila Kalangan Pekerja Kehilangan Hak Suara

Hasil survey Perkumpulan Suaka Keadilan (Suaka) yang dimuat dalam Indo Pos (15/1/04) dan Bisnis Indonesia (28/1/04) menunjukkan: 92% komunitas marjinal kota (KMK) tidak memahami tentang perubahan UU Pemilu 2004. 93% tidak paham tentang cara pemilihan, 86% tidak memahami keberadaan KPU, dan 90% merasa tidak paham dengan fungsi dan kinerja KPU. Hasil dari penelitian yang dilakukan di berbagai kawasan kumuh di DKI tersebut kemudian menyimpulkan secara prinsipil bahwa, pemilu 2004 tidak dapat dijadikan tempat harapan akan munculnya perubahan. KMK atau yang juga sering disebut dengan kaum miskin kota sering terpinggirkan secara hak-hak politik, ekonomi, sosial dan budaya oleh negara.

Menjadi pertanyaan penting, apakah benar, hanya KMK saja yang terpinggirkan secara politk? Lalu bagaimana dengan kalangan menengah (baca: kalangan pekerja) yang mayoritas memang masyarakat urban (berasal dari luar Jakarta)?

Dari hasil survei yang saya lakukan secara acak selama seminggu (8-14 Maret 2004), melalui kuesioner baik secara langsung ataupun via e-mail, dengan akurasi profil responden bisa mencapai 99,999% valid, dengan melibatkan responden yang berprofesi sebagai pekerja di berbagai perusahaan di berbagai kota, sungguh mencengangkan! Dari 104 responden, ditemukan hal-hal pokok sebagai berikut; pertama, 52% diantara responden tersebut dapat dipastikan tidak berhak mengikuti pemilu dengan alasan: belum terdaftar(33%), tidak tahu (12%) dan ragu-ragu (7%) [lihat diagram-1]. Baca lebih lanjut

Iklan

November 21, 2006 Posted by | Sosial-Politik | , , , | Tinggalkan komentar

#079: Hakekat Kematian

Raga itu terus berjalan. Menyisiri sebagian jalanan ibukota. Pagi, siang, sore menuju malam. Kembali lagi; pagi, siang, sore menuju malam. Begitulah ketika waktu terus berputar. Dan, raga itu terus berjalan seolah-olah menghiraukan berputarnya sang waktu.

Ini seperti melewati batas kota. Dengan sekali melangkah, sang raga telah berpindah ke kota yang lain.

Sangat singkat. Tak terasa! Dan begitulah dengan kematian. Perpindahan dari alam kehidupan menuju ke alam kematian seperti halnya melewati sebuah batas kota. Berpindah, tanpa sang raga bisa merasakan; telah mati ataukah tetap tinggal. Bercengkerama, beraktivitas, tapi dalam dunia yang berbeda. Dunia kasat mata. Dunia maya. Alam ghaib!

Sekali lagi, karena ini adalah kematian. Salah satu misteri kehidupan manusia.

Padepokan Tebet, 14 Maret 2004, 01:30 WIB.
(c) GJ

November 21, 2006 Posted by | Religi | , , | Tinggalkan komentar

#078: Kehilangan Momentum Penting

Tiga hari baru saja sibuk di rumah dengan jadwal yang melelahkan. Kepulanganku selalu terbayar dengan kegiatan yang bernilai “mahal” untuk dilewatkan. Sungguh sayang, tak bisa hadir.

September lalu, di saat pulang kampung, Wikusama sedang mengikuti turnamen futsal antar perusahaan. Prestasi bagus bisa dicapai; Wikusama menjadi semifinalis turnemen futsal yang diliput tabloid “Bola”. Tiga tahun sebelumnya, pas cuti seminggu, ternyata ada proses pindah bagian. Apa boleh buat, pemberitahuan mendadak telah menjegal proses perpindahan itu. Begitupun awal tahun ini. Aku mengalami nasib yang sama. Pun dengan liburan yang hanya tiga hari kemarin itu. Seorang sahabat menghubungiku via sms, “Sampeyan sudah minta undangan ke kiai Fulan, Gus!” Baca lebih lanjut

November 21, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , , | Tinggalkan komentar

#077: Perjalanan Spiritual (1)

Padepokan Tebet, di suatu malam Jum’at. Langit di atas bumi Padepokan dipenuhi awan pekat. Beberapa hari belakangan ini, badai memang mengguncang di beberapa wilayah Nusantara. Banjir, tanah longsor, hujan deras tiada henti, angin puting-beliung, pepohonan tumbang, membuat panik dan hiruk-pikuk warga. Terutama yang tinggal di daerah pesisir.

Kulihat langit dari tengah taman padepokan, di bawah pohon cemara yang menjulang tinggi. “Malam ini, hujan mungkin akan turun dengan derasnya,” gumamku. Segera aku masuk ke dalam kamar. Kututup pintu. Kuletakkan buku yang tadi kubaca, kubiarkan menumpuk berserakan di sebelah tv, lalu kumatikan lampu. Hanya tv channel ESPN yang menemani.

Di antara titik kritis kesadaran. Wussss, gurden biru yang menutupi kaca di sebelah utara kamar tiba-tiba tersingkap. Sosok laki-laki berjubah putih muncul dari balik gurden itu. Ia berdiri tegak. Mematung, memandangiku dengan diam di pojok kamar sebelah barat, dekat tv yang telah mati. Jubah putih itu terlihat sangat terang di balik kegelapan yang menyelimuti kamar, tapi wajah laki-laki itu samar-samar masih bisa kulihat dan kukenali. Baca lebih lanjut

November 21, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | 1 Komentar

#076: Kursi Kiai Semar

Batavia, 27 Jan ’04.
“Sampeyan tak perlu nglurug (datang berduyun-duyun) ke sini,” kudengarkan Kiai Mujurono menjelaskan kepada seseorang yang tadi menelponnya, di balik hand-phonenya. “Kalau ada isu, sampeyan bisa tabayyun ke saya terlebih dahulu,” kiai Mujurono melanjutkan dengan sedikit tegas.

Kiai Mujurono memang berhak marah. Orang daerah, bila ada masalah biasanya tidak mau menggunakan/melalui mekanisme sistem yang sebenarnya. Inginnya mereka langsung ke Batavia, ketemu dengan Kiai Semar. Menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Kiai Semar. Mereka seolah-olah tidak mempercayai mekanisme sistem yang sudah ada. Dalam benak mereka, ketemu dengan Kiai Semar secara otomatis bisa menyelesaikan masalah.

Urusan pencalegan memang sesuatu yang sensitif. Terkadang, aspirasi pusat tak sejalan dengan yang dikehendaki oleh daerah. Atau sebaliknya, keinginan daerah dianggap kurang tepat bagi pusat. Hubungan pusat-daerah pasca era reformasi ini memang sering membuat suasana tegang bagi sebuah partai politik. Baca lebih lanjut

November 21, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | Tinggalkan komentar