*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#073: Jiwa yang Lusuh

Gelap mulai merayap. Ia terus berjalan, sore itu, menyusuri jalanan trotoar, pulang menuju rumah kontrakannya. Begitu sampai, ia lalu benamkan pikirannya dalam tumpukan bibliografinya. Terlalu banyak ide bagi Chekov untuk menuangkan semua pernik-pernik hidup ini dalam satu dekapan otaknya. Bila dituruti, sehari bisa banyak ide yang keluar dari sel-sel otaknya. Tapi, ada kesibukan lain yang tak bisa berkompromi untuk mengaktualisasikan segala inspirasi itu. Karenanya, terkadang ia terlalu lelah dalam balutan ide dan gagasan besarnya.

Jam kerja kantor telah usai sudah. Angka menunjuk 17:00, ruangan kantor telah sepi. Chekov sudah keluar ruangan sebelum jam 16:00 tadi. Baginya, adalah sebuah pembunuhan usia duduk di kantor tanpa aktivitas pengembangan diri. Sangat tidak berguna. Apalagi, mekanisme manajemen kantornya tak seprofesional yang ia harapkan. Ia menyadari penuh, kantornya saat ini hanyalah sebuah tempat singgah untuk menyambung hidup. Tak lebih dari itu. Itu terpancar dari style Chekov yang cenderung bebas-anti aturan dan tidak mau terjebak pada hal-hal yang membelenggu.

#
Entah, sejak kapan Chekov menyerah pada keperkasaan Dementor. Yang pasti, kehidupan ‘di bawah sadar’ ini terus berlanjut hingga kini. Dalam kondisi seperti ini, aku sendiri tak yakin, Chekov bisa berbuat ramah dan bisa berbuat baik pada semua orang. Kesabaran, kesetiaan, konsisten seseorang tentu ada batasnya. Dan, sebagai teman dekatnya, aku sendiri tak bisa memprediksikan sampai kapan batas didih yang bisa membuat kesabaran Chekov itu meleleh.

‘Itu sangat membahayakan,’ gumamku lirih penuh keprihatinan. Aku sangat tahu efek dan dampaknya bila Chekov memutuskan melakukan ‘revolusi’ , mengubah 180″ dari kiprah sosialnya.

Chekov memang sosok humanis, penyayang manusia yang papa-menderita. Ia juga sangat peduli pada lingkungannya. Sabarnya luar biasa. Kesetiaannya tak perlu diragukan. Tapi, sampai kapan? Aku sendiri tak yakin, pergeseran jiwa Chekov bukan tanpa penyebab. Tentu ada penyebabnya. Dan, saat ini, barangkali tak ada manusia yang berarti baginya, kecuali Scotty, perempuan belia yang setia menemaninya dalam duka. Tak ada satupun teman dekatnya yang ia percaya. Karena, kalau tidak khianat, ya bongkar aib. Itu sudah menjadi
kebiasaan lingkungan yang terjadi di sekitar Chekov.

#
Jiwa Chekov kian hari kulihat semakin lusuh. Sisa-sisa kehebatannya memang masih nampak. Tapi penurunan kualitas kejiwaan ini sungguh memprihatinkan. Aku sangat khawatir, bila ia tak mampu lagi mengatasi problematikanya, kemudian memutuskan untuk meninggalkan hingar-bingar kehidupan sosial-masyakat yang ia lakoni selama ini. Bila ini yang terjadi, tentu akan menjadi sebuah kerugian besar bagi komunitas yang telah ia rintis dan besarkan.

Chekov telah melakukan pengorbanan yang luar biasa besar. Ia tinggalkan gemerlap kehidupan di luar. Ia lebih memilih sebuah komunitas kecil yang ia rintis dan dirikan. Ia dedikasikan waktu dan pikiran. Padahal, dia bisa bermain dan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari luar komunitas itu.

Sebagai seorang sahabat sejati, aku hanya bisa mengatakan, “Bangunlah, Chekov. Bangunlah, sobat! Masih banyak orang yang membutuhkan peranmu!”

Padepokan Tebet, 20 Jan ’04 (c) GJ

November 15, 2006 - Posted by | Ideologi Sikap Otak, Sastra | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: