*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#072: Duka Seorang Chekov

Hujan rintik menyelimuti Batavia di pagi hari, awal abad 21 ini. Matari sudah beberapa bulan mengalah, tak menunjukkan lagi keperkasaannya. Awan-mendung berarak membuat gelap ibukota. Di sana-sini jalanan aspal basah merata. Mobil merayap lambat di atasnya. Di antara lalu-lintas yang padat itulah, terselip seorang pemuda berperawakan kurus, berkacamata tebal meniti jalan demi jalan menuju tempat kerjanya, yang berjarak sekitar 500 m dari rumah kontrakannya. Dengan muka masam, ia berjalan gontai sambil membawa beberapa buku bacaan. Pagi benar ia sudah berangkat, menyisiri kali kecil di pinggir jalan, menuju kantornya.

Aku mengenalnya: Chekov. Seorang pemuda berbakat, dari keluarga miskin yang mencoba peruntungan hidup di kota besar, Batavia. Ia besar secara otodidaks, karena hobi dan bakatnya tak sejalan dengan latar bekalang pendidikannya. Ia termasuk pemuda periang. Optimis dalam menatap masa depan. Tapi, sebentar! Tidak dengan pagi ini. Wajahnya kelihatan bermuram-durja.

‘Chekov terantuk pada masalah yang berat,’ pikirku. Ia kelihatan sangat murung beberapa bulan belakangan ini. Tak ada lagi keceriaan, kebahagiaan, yang terpancar di raut mukanya. Yang ada hanya kesedihan. Keluhan. Duka. Bahkan, secuil harapan pun seolah sirna. Lepas entah pergi ke mana. Chekov seperti didekap Dementor, makhluk mengerikan penghisap kebahagiaan, harapan, dan segala energi positif manusia, penjaga penjara sihir Azkaban dalam
serial novel Harry Potter.

Memang, kumelihatnya, ia masih bisa tersenyum, bercanda-tawa. Berguyon-ria. Tapi siapa sangka, senyum itu hanyalah bungkus dari kepahitan hidup yang ia alami, kini. Yang ia pikirkan, hanyalah bagaimana mencoba keluar dari lorong kegelapan, berjalan terseok-seok dalam proses memilah masa depan. Sebuah persoalan yang tak mudah diselesaikan begitu saja bagi sosok pemikir ini.

Barangkali, problematika ini adalah pukulan yang terberat bagi Chekov sepanjang sejarah hidupnya. Semua masalah seperti bermuara pada satu titik didih. Dan ia seperti berada, terjebak dalam lubang lumpur muara itu.

Bagi orang ekstrovert semacam Chekov yang kukenal selama ini, hidup berdiam diri seperti ini membosankan! Hidup seperti pengemis di dalam kantor yang tak punya visi dan mekanisme manajemen yang profesional. Perubahan manajemen ke manajemen baru tak pernah membuahkan hasil yang berarti, kecuali hanya roda organisasi perusahaan yang berjalan seperti katak dalam tempurung. Hanya golongan elite saja yang merasakan lezat-nikmat dalam setiap perubahan itu, tapi bagi karyawan kecil semacam Chekov dengan gaji yang pas-pasan,
restrukturasi atau apapun namanya, tak ada lagi gunanya. Omong kosong belaka!

Hidup yang tak lagi memiliki tantangan. Terikat dengan perasaan orang bila akan setiap bertindak. Tak sebebas burung elang dalam mengekspresikan setiap ide dan gagasan. Intelektualitas Chekov seperti terparkir oleh lingkungan yang serba mengagungkan materialisme.

Sungguh malang nasib Chekov. Ia seperti harus berjalan tertatih-tatih sendirian. Tak ada yang peduli. Termasuk kedua orang tuanya. Itu karena ia sudah terbiasa berjalan menentukan nasib sendiri sejak usia dini. Kadang, dalam kesesakan yang terdalam ia sempat berkata kepadaku, “di mana posisi dan fungsi kedua orang tuaku?”

Aku tahu, hanya Scotty yang sering menemani Chekov, baik dalam telepon, sms ataupun e-mail. Mungkin, dia satu-satunya teman yang bisa diajak berbagi kenestapaan oleh Chekov. Chekov pun sangat menyayangi Scotty. Bukan cinta, tapi hanya peduli. Chekov sudah berniat itu hanya hubungan persahabatan. Tak perlu ada cinta, karena persahabatan bisa lebih langgeng dari hanya sebatas cinta. Chekov hanya punya tanggung jawab moral untuk selalu memperhatikan
Scotty. Bagi Chekov, Scotty mengingatkannya pada sosok Katherine, teman perempuan Chekov ketika masih sama-sama hidup membujang di Batavia beberapa tahun silam. Dengan Katherine, Chekov pernah mengarungi samudera pencarian jati diri yang berujung pada pilihan ajaran agama yang hakiki. Bagi Chekov, Scotty adalah prototype seorang perempuan belia yang harus sukses dalam segala hal; ya kerja, kuliah, bersosial-masyarakat dan sebagainya. Satu hal yang Chekov sendiri mengakui akan kekeliruannya dalam melakukan strategi menggapai cita-citanya.

#
Entah sampai kapan, Chekov bisa pulih, keluar dari cengkeraman Dementor dan lingkungan puritan yang mengelilingnya.

Padepokan Tebet, 19 Jan ’04 (c) GJ

Iklan

November 15, 2006 - Posted by | Ideologi Sikap Otak, Sastra | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: