*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#069: Ma’afkan Saya, Kiai

Tempuran-Magelang, akhir tahun 2003;

“Telur-telur ulet-ulet.
Kepompong kupu-kupu
Kasihan deh lu….
Kasihan deh lu….”

Suara nyanyian nenek membangunkan Orlin di pagi hari itu. Kuterbangun. Kesiangan! Jam 6:30. Mungkin, aku ini tamu yang pemalas. Tuan rumah sudah bersih-bersih rumah, sementara aku masih tertidur dengan pulasnya. Tapi entahlah, kalau di rumah orang lain, mungkin tidak begitu. Mungkin, aku sudah menganggap Tempuran sebagai rumah kedua.

“Tidur jam berapa, mas Agus?” tanya nenek Orlin sekeluar aku cuci muka dari kamar mandi.

“Jam tiga, bu”, jawabku dengan penuh taqdim. Aku memang selalu ‘segan’ dengan wanita lembut yang sudah mulai tua itu. Selama ini, nenek Orlin sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.
Ada kesejukan, kesabaran, jiwa yang ngemong, nilai-nilai spiritual yang tinggi, ketenangan yang dalam, yang saya temukan dalam diri nenek Orlin. Dan, penghormatanku pada seseorang, tak pernah bisa kubuat-buat ataupun kurekayasa. Ketemu kiai-penyair kondang, Gus Mus (KH. A.Mustofa Bisri) pun, aku pernah tak bisa mencium tangannya. Karena waktu itu diriku tidak ikhlas melakukannya.

“Oh, pantesan, kalau tidur sering malam, nggih?” tanya nenek Orlin.

“Inggih.” Baca lebih lanjut

Iklan

November 8, 2006 Posted by | Religi | , , | Tinggalkan komentar

#068: Lahirnya Kota Jakarta, Awal Kolonialisme atas Nusantara

Dari Padepokan Tebet, terus ke Mampang Prapatan, Warung Buncit, Kebon Sirih, Cililitan, Kalibata, Matraman, Kramat Raya, Ciganjur, dan begitu seterusnya. Ngeluyur, memutari ibukota Jakarta, aku tak ada bosannya. Mungkin, aku ini makhluk yang tak pernah sadar, bahwa, bumi yang kuinjak ini penuh dengan lintasan sejarah. Bahwa, jalan yang selama ini kulewati pernah menjadi saksi bisu catatan sejarah masa lalu.

Nama Warung Buncit, sebagai pertanda menyisakan cerita adanya seorang Cina berperut buncit yang buka warung kelontong di sebuah jalan jaman dulu, yang kini bernama Jl. Mampang Prapatan dan diteruskan ke selatan dengan nama jalan Warung Jati Barat.

Kebon Sirih, dan nama-nama daerah yang berawalan “kebon” menandakan kalau Jakarta ini dulunya ladang luas yang subur. Ada Kebon Bawang, Kebon Kacang, Kebon Jahe, Kebon Sirih, Kebon Jeruk, Kebon Jati, Kebon Jambu, Kebon Kosong, Kebon Manggis, Kebon Mawar, Kebon Melati, Kebon Pala, Kebon Pedati, Kebon Sayur, Kebon Sereh, Kebon Nanas, Kebon Nangka, Kebon Pisang, Kebon Mangga, Kebon Kelapa, Kebon Baru, dan sebagainya. Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban | , , , | Tinggalkan komentar

#067: Ketika Aku, Sesungguhnya, Karena

Ketika aku merasa diriku ini yang paling khusyu’ beribadah kepada Tuhan, sesungguhnya aku tidaklah khusyu’, karena aku secara sadar bisa berpikir yang lain (tentang posisi diriku) di dalam kekhusyu’anku itu. Artinya, diriku tak konsentrasi penuh. Ibadahku tidak seratus persen ikhlas-lepas. Ada interest tertentu. Terlalu mengharap mendapat sesuatu pada Tuhan. Merasa diriku punya hubungan yang paling dekat dengan-Nya, sehingga tanpa sadar main sikut-tendang dengan sesama. Mengabaikan kenyataan bahwa, orang lainpun sebenarnya punya hak yang sama untuk mendekatkan dirinya kepada-Nya.

Ketika diriku ini merasa paling ‘alim, sesungguhnya aku tidaklah ‘alim, karena kesadaran akan kealimanku itu bisa menimbulkan segala macam noda hati; riya’, takabur, pamer, jaga image (jaim) dalam berpolah-tingkah, memandang rendah ibadah dan keyakinan orang lain, merasa diri yang paling benar, dll. Padahal, ‘alim dan tidaknya diri bukan kita sendiri yang menilai, tapi kita butuh cermin-pantul. Cermin itu adalah orang lain. Syukur-syukur, tentang kealiman kita, hanya Dia yang tahu. Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Religi | | Tinggalkan komentar

#066: Membentuk Ikatan, Meretas Sebuah Harapan

Mengawali, memang terkadang lebih sulit daripada menindaklanjuti. Mendirikan, itu lebih sulit dari melanjutkan. Dan, mengisi kegiatan dari sebuah organisasi (mempertahankan) itu lebih berat daripada hanya membiarkan organisasi itu berdiam diri dan vakum dari segala aktivitas. Begitulah.

Berpikir bahwa begitu berdiri, IAW diharapkan langsung bisa besar sebesar ITB juga terlalu berlebihan. ITB, memiliki jaringan kuat yang cukup dikenal dengan istilah “ITB-connection” itupun setelah melalui proses yang cukup panjang dan melelahkan. Puluhan tahun. Begitupun dengan ITS, UI, UGM, dsb. Jadi, besarnya IAW kelak akan sangat tergantung pada pengurus dan tiap individu sebagai anggota yang ikut andil aktif membesarkan dan mengembangkan ikatan alumni STM Telkom Malang ini.

Kita sudah memasuki beberapa fase:1. fase pendirian IAW, meliputi dua hal penting: Rapat Anggota di TMII, 4 Mei 2003 dan disahkannya IAW sebagai sebuah “Perkumpulan” lewat akta Notaris A. Yani (Jakarta Selatan) dengan No. 21.

2. fase pembentukan pengurus IAW, yang meliputi 5 departemen ;3. fase pendirian PT Wikusama, yang telah disahkan oleh Notaris Sri Ismiatidi Kelapa Gading, Jakarta Timur;4. fase pendirian lembaga-lembaga otonom IAW, yang meliputi: Lembaga Penerbitan Buku (LPB), Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPP);5. dan seterusnya. Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Alumni | , , , | Tinggalkan komentar

#065: Kedunguanku

Kata banyak orang di kampung, aku ini pintar karena bisa bersekolah di tempat yang elite di Malang (waktu itu). Kata tetanggaku, aku ini anak yang beruntung karena sehabis sekolah langsung kerja di Jakarta. Kata orang tua, aku memang cerdas, karena berhasil menyabet segala macam penghargaan ketika dulu masih berusia kurcaci. Tapi catat, aku ini sebenarnya orang dungu!

Bagaimana tidak dungu? Ketika aku lebih cinta akan ikatan primordial, ikatan emosional semata daripada sebuah fakta sejarah yang sebenarnya. Bagaimana tidak dungu, karena aku lebih fanatik terkungkung dalam ikatan ideologi, daripada ‘melek’ terhadap fakta sejarah yang terjadi.
Aku marah ketika orang lain membeberkan kebobrokan tentara, karena bapakku tentara. Karena saudaraku tentara. Karena ayah mertua kakakku seorang pensiunan provost militer (PM). Aku gusar ketika ideologiku dikritik orang, karena aku pembela mati-matian ideologi itu. Hidup-mati ingin bersama ideologiku. Aku ketar-ketir ketika tokoh idolaku dihujat, karena aku menghormatinya. Aku mengaguminya. Aku terpesona oleh intelektualitas dan ketokohannya yang luar biasa. Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , , | Tinggalkan komentar

#064: Kesetiaan

Tak kutemukan kata ‘setia’ ataupun ‘kesetiaan’ dalam indeks Kamus IlmiahPopuler yang kubeli di Toko Buku Sarinah, Thamrin kemarin itu. Yang ada dalam buku kecil yang berwarna kuning itu, hanyalah kata yang hampir memiliki makna yang dekat dengan makna setia, yakni ‘konsisten’ dan ‘komitmen’. Konsisten berarti: tetap (pada), konsekwen, selaras, sesuai. Sedangkan komitmen mengandung makna: kesatuan janji, kesepakatan (bersama). Mungkin, bila dicari di Kamus Lengkap Bahasa Indonesia karangan JS. Badudu, kata itu ada.

#
Dalam penjelajahan filosofis pemahamanku atas epos Mahabharata, kesetiaan adalah ketika rasa nurani keluar dari diri. Kesetiaan adalah ketika kita konsisten memegang janji, mengingat janji yang terucapkan itu bukan untuk diingkari, tapi bersifat mengikat jiwa. Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Other | | Tinggalkan komentar