*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#053: Koreksi Diri, (Bila) Mencurigai Kristenisasi


Dalam sebuah email yang berisikan komik dengan judul “Indonesian – Allah Had No Son” karya by Jack T. Chick LLC (1999) postingan Pak Wardoyo beberapa waktu lalu di millist folder ini, digambarkan tentang perbandingan antara agama Kristen dengan Islam. Inti dari komik setebal 8 halaman itu, lebih difokuskan menceritakan tentang “keutamaan-kebenaran” ajaran Kristen bila dibandingkan dengan Islam.

Di kalangan beberapa muslim, komik itu kemudian dipandang sebagai sebuah bentuk “kristenisasi”; sebuah isu laksana hantu –karena sifat keabsurdannya- seperti label “komunis”, “yahudi”, “islam dan tidak islam”, dsb di era Orde Baru. Sebuah isu yang sangat tidak efektif dari sisi mental-psikologi, karena hanya bisa menyalahkan orang lain dan tak pernah mau melakukan instropeksi akan kelemahan diri umat Islam sendiri. Sebuah isu yang hanya dipandang dari lensa dengan sudut sempit, dan tak menyadari bahwa isu itu terkadang sangat bersifat politis (terbelit dengan kepentingan kekuasaan).

Memang, bila dilihat sepintas, komik itu terasa “mengganggu” bila dilihat dari sudut pandang kita sebagai seorang muslim. “Pendangkalan aqidah”, kata beberapa orang. Tapi, misalnya dalam pengajian kita, bila ada seorang ustadz mengatakan hal yang sama, bahwa ajaran Kristen itu sudah tidak murni lagi (seperti ketika penulis mengaji di Kwitang dulu), apakah itu juga tidak boleh dikatakan “mengganggu” bagi mereka -jika mereka mengetahuinya? Jadi, bila memang komik itu untuk konsumsi internal mereka, itu adalah kepentingan dan urusan mereka untuk menguatkan aqidah bagi kalangan tersebut.

Bila tidak cermat memahami dan salah menggunakan kacamata pandang dalam melihat persoalan, kitapun tanpa sadar bisa terjebak dalam perseteruan yang tak ada gunanya. Polemik kemudian meluas. Kita sibuk untuk mendefinisikan “mereka” dan “kita”. Urusan “mereka”, kita potret dari perspektif “kita”. Mendikotomikan “mereka” dan “kami”. Jelas tidak akan pernah ketemu, dan cenderung kemudian tak pernah bisa menemukan titik ruang temu bagi “kita” dan “mereka” untuk bisa berkiprah bersama di masyarakat.

Seyogyanya, melihat persoalan seperti itu tak perlu cepat menjadi panik (baca: reaktif). Toh, Islam tak kan jadi kerdil hanya karena sebuah komik seperti itu. Penulis sendiri punya beberapa alasan untuk menunjukkan bahwa Islam itu tetap besar –bila hanya sebatas dibandingkan dengan komik itu, bahwa: pertama, baca karya seorang ahli astronomi, Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul “Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah”. Dalam buku setebal 515 halaman itu, Hart yang non-muslim dengan berani menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai orang nomor satu di muka bumi. Menurut keyakinan Hart, Muhammad adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Baik ketika Muhammad sebagai Nabi, dan pada saat bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin yang tangguh, tulen dan efektif. Terbukti, hingga kini (setelah 14 abad dari sesudah wafatnya) pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar (hal. 27).

Kedua, baca buku karya Karen Amstrong yang berjudul “Mohammed is Prophet” (Muhammad sang Nabi) dan “History of God” (Sejarah Tuhan). Di buku yang pertama, mantan biarawati itu berani dengan jujur memberikan kesaksian akan kebesaran Muhammad (sayang, penulis kehilangan buku ini akibat ada yang pinjam, tapi tak dikembalikan🙂. Sedangkan di buku kedua, Amstrong mantan rahib wanita itu dengan sangat berani menyatakan bahwa ajaran ketuhanan di Kristen sebagai sesuatu yang absurd, dan dia menyadari bahwa doktrin-doktrin gereja ternyata memang hanyalah buatan manusia yang telah dikonstruksikan selama berabad-abad silam (hal. 18-19)

Ketiga, isu di atas (kristenisasi) bila diproyeksikan dengan misi penyebaran Islam di abad 13. Karena menurut Rektor IAIN Ciputat, Azumardi Azhra, sampainya Islam di Nusantara juga tak terlepas dari adanya misi penyebaran agama (zending). Setiap ulama-muslim yang datang ke Nusantara, disamping sebagai pedagang, mereka juga berperan sebagai penyebar bagi agamanya (missionaris).

Dalam bahasa kolonialisme internasional pada bad 16, kita kenal hal itu dengan istilah “Gold, Glory and Gospel” (3G), seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris dan kemudian Belanda) yang pernah “menyatroni” bumi Nusantara. Di samping berdagang (motif ekonomi), mereka sering juga melakukan penaklukan (motif politik: ekspansi), dan menyebarkan agama mereka (motif agama).

Peninggalan-peninggalan itu bisa kita buktikan; secara ekonomi misalnya, sampai sekarang negara kita masih “terjajah” oleh kepentingan kapitalisme Barat (baca: IMF dan perangkat neo-liberalismenya). Negara kita adalah pasar, bukan produsen. Negara kita selalu menjadi obyek ekonomi, bukan subyek.

Secara politik, menurut analisa Ummaruddin Masdar (Pitutur No. I/Juli 2001), kita juga belum bisa dikatakan sepenuhnya merdeka dalam arti “to exist” (ada), tapi masih dalam arti “to live” (hidup). Menurut Karl Jaspers, “ada” atau “eksis” bermakna lebih dari sekedar hidup. Karena “hidup” bermakna pasif dan menjadi obyek. Sementara “eksis” bermakna aktif dan menjadi subyek.

Akibat dari pengaruh kolonialisme tersebut, Singapura yang dulu menjadi bagian Nusantara era Majapahit –dengan nama Tumasik, dengan adanya Traktat London 1824 (perjanjian antara Inggris dan Belanda), Singapura kemudian menjadi bagian Inggris dan lepas dari Hindie Netherlands.

Bila dilihat pemetaan penyebaran agama di Indonesia, maka, daerah-daerah yang cukup lama didiami oleh Portugis, seperti Maluku, NTT, Timor-Timur, lebih dominan beragama Kristen. Begitupun kawasan Batak di Sumatera Utara dan Papua oleh Belanda.

Apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa itu, juga sama halnya dengan yang dilakukan oleh Laksanama Cheng Ho, panglima muslim Dinasti Ming (Tiongkok) pada awal abad 15 yang pernah melakukan pelayaran hingga 7 kali dari daratan Cina menuju Timur Tengah dengan melewati kepulauan Nusantara (Laut Jawa dan Selat Malaka). Cheng Ho dkk, tidak hanya melakukan perniagaan semata, tapi juga melakukan penyebaran Islam. Bukti-bukti tersebut bisa ditelusuri di sepanjang pesisir Pulau Jawa, seperti di Gresik, Tuban, Lasem, Semarang, Jepara, Cirebon, Sunda Kelapa (Batavia) dsb. Peninggalan-peninggalan itu bisa berupa seni kerajinan Cina, kultur Cina, masjid-masjid model Cina, Cina-cina muslim peranakan, dsb. Keberadaan orang-orang Cina-Islam di Nusantara era Cheng Ho itu juga sangat berperan aktif menyebarkan ISlam di tanah Jawa –tapi kemudian oleh Dinasti Mongol diganti dengan pengiriman orang-orang Cina non-Islam di era berikutnya. Itu sebagai bukti tentang adanya “Islamisasi” Jawa oleh Dinasti Islam dari Negeri Cina.

Jadi, bila kita dengan begitu mudah menuduh Kristenisasi atas setiap gerakan (sosial) yang dilakukan oleh umat Kristen, lalu apakah salah bila penulis katakan juga telah terjadi Islamisasi di tengah umat Hindu, Budha atau kaum Bhairawa (ajaran agama yang merupakan perpaduan antara ajaran Hindu dan Budha) delapan abad yang lalu tersebut?

Kalau kita mempersoalkan kristenisasi, kenapa kita sebagai muslim tidak berani menggugat hal yang sama kepada Islam, bahwa Islamisasi juga telah terjadi pada masyarakat Jawa di akhir era Majapahit? Uniknya, sejarawan Islam sendiri cenderung menutupinya. Karena jangan salah, ada juga sejarah yang mencatat, penyebaran Islam pertama kali di bumi Nusantara itu juga pernah dilakukan dengan jalan kekerasan. Dan, itu terbukti mengalami kegagalan (abad 12-14). Baru pada era Wali Songo (abad 15), Islam disebarkan dengan cara-cara yang santun. Dan itu terbukti berhasil -walaupun juga harus dilewati dengan cara-cara penaklukan (penyerbuan Demak ke Majapahit), karena memang gesekan peradaban itu tetap saja terjadi.

#
Penulis sendiri tak menutup mata dengan adanya kegiatan kristenisasi. Karena pertama, ketika penulis melakukan safari ramadhan atas nama sekolah ke daerah Malang Selatan 9 tahun yang lalu, hal itu memang nampak ada –dari penuturan warga setempat. Kedua, ketika bertemu dengan salah seorang kiai NU di pesantrennya di sebuah lereng Gunung Merapi di Magelang tiga tahun lalu, sang kiai juga bercerita tentang itu kepada penulis. Bahwa motivasi dia mendirikan pesantren di atas gunung itu dengan tujuan untuk membendung arus kristenisasi yang cukup gencar di wilayah-wilayah pegunungan di Magelang. Ketiga, sinyalemen KH. Wahid Hasyim di tahun 1950-an dalam tulisannya, “Umat Islam Indonesia Menunggu Ajalnya Tetapi Pemimpin-Pemimpinnya Tidak Tahu“. Dalam artikel yang dibuat tahun 1951 itu, Kiai Wahid mengungkapkan tentang anjuran yang dihasilkan dalam Konferensi Profesor-profesor Kristen se-Asia di Bandung, yang dengan terang dan secara terbuka menginginkan agar Indonesia harus menjadi negara Kristen. Dalam tulisan itu, Kiai Wahid menggugat adanya keteledoran dari elite Islam (yang tergabung di Partai Masyumi, terutama), yang tak memiliki kepekaan sedikitpun atas rekomendasi yang dihasilkan dari konferensi tersebut (KH Wahid Hasyim, Mengapa Aku Memilih NU?, Inti Sarana Aksara, 1985, hal.125).

Harus kita sadari bersama, menyebarkan agama adalah hak bagi setiap orang. Setiap agama punya misi untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Jika kita menganggap sah penyebaran agama Islam (Islamisasi), maka seyogyanya kita juga harus bisa menerima secara wajar dengan adanya penyebaran agama lain, baik itu yang dilakukan oleh Kristen, Hindu ataupun Budha. Ini adalah konsekuensi dari negara demokrasi! Terpenting, aturan negara kita sudah jelas. Yang dilarang adalah menyebarkan agama dengan cara paksaan dan dengan jalan kekerasan.

Jadi, tak perlu paranoid dengan mencari kambing hitam ke sana-ke mari, kemudian menyebabkan kehidupan kurang harmonis di antara umat beragama. Sebagai seorang muslim yang jeli, hal-hal semacam itu cukup diantisipasi dengan: pertama, mempertebal keimanan diri dan lingkungan. Menyiapkan benteng dan tameng yang kuat, yakni berupa keimanan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekitar. Kedua, meningkatkan taraf ekonomi diri dan lingkungan. Sering ikut aktif berkecimpung dalam kegiatan sosial untuk menyantuni kaum miskin-papah. Ketiga, meningkatkan ukhuwah Islamiyah. Tidak perlu bercerai-berai dalam urusan yang bukan pokok. Keempat, bersikap bijaksana. Meningkatkan toleransi dalam hal beragama. Koreksi diri untuk menutupi kelemahan, dan tak perlu dengan hanya bisa menyalahkan orang lain.

Menyitir kata bijak seorang politisi yang pernah disampaikan ke penulis beberapa waktu lalu, “Kebaikan yang kita peroleh, bukanlah semata jerih payah kita sendiri, melainkan ada konstribusi orang lain di sana. Sebaliknya, keburukan yang menimpa kita, bukanlah karena orang lain, melainkan tak terlepas dari perbuatan kita sendiri“. Terlepasnya umat kita dengan berpindah ke agama lain jangan hanya dipandang sebagai bentuk kesalahan agama lain, tapi pandanglah itu sebagai kesalahan diri kita yang kurang peduli pada nasib mereka (kaum miskin-papah).
Selebihnya, wallaahu’alam bi ash showab.

Subuh ke-17, Ramadhan 1424 H.
(c) Gus John.

November 2, 2006 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: