*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#048: "Nilai" Seseorang*


Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, seorang tokoh ulama-intelektual yang ucapan dan pemikirannya sering dianggap “nyleneh” oleh kebanyakan orang, dalam sebuah acara “eksklusif” di salah satu stasiun televisi swasta lima tahun yang lalu (1998), memberikan suatu ulasan yang cukup menarik seperti berikut ini:

“Seseorang akan mempunyai nilai di mata orang lain, jika keberadaanya mampu memberikan banyak manfaat daripada mudhlarat bagi lingkungan di sekitarnya.”

Menurut penulis, ulasan Kang Said –panggilan kiai asal Cirebon itu– cukup relevan juga bila dilihat dari sudut pandang kaum nonmuslim. Lebih lanjut, ulama kontroversial yang mendapatkan doktor dari Universitas King Abdul Aziz (Ummul Quro’) itu dengan santai dan lugas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan moderator mengenai problematika yang dihadapi oleh umat dewasa ini.

Di salah satu bagian wawancara tersebut, ada beberapa point menarik dari Kang Said yang menjelaskan tentang pembagian, penggolongan, dan pengelompokan seorang muslim berdasarkan hubungannya secara vertikal (denganTuhan) dan horisontal (dengan sesama manusia). Kang Said menggunakan metode dengan memberikan setiap penilaian (+) jika baik, dan (-) jika sebaliknya.

Berikut ini, penulis mencoba menafsirkan kembali uraian Kang Said tersebut sebagai berikut :
* seseorang akan bernilai ( + ) dan ( + ). Maksudnya, orang yang masuk dalam kategori ini biasanya “sarungan”, rajin ke masjid, pintar membaca kitab suci, jago wirid, aktif di pengajian, aktif di organisasi keagamaan, dll. Di samping itu juga suka beramal, membantu sesama, aktif di kegiatan sosial- kemasyarakatan, organisasi dll. Ringkasnya, orang ini bagus dalam konteks hablum minallah (hubungan dengan Tuhan, secara vertikal) begitu juga hablum minnannas (secara horisontal, hubungan dengan sesama manusia).

* bernilai ( + ) ( – ); sarungan, orangnya rajin ibadah seperti contoh di atas, tapi masih suka ribut, emosional, suka menyakiti teman, pelit-kikir, suka mendzhalimi hak orang lain, fitnah, acuh dll. Dalam unsur ini, ibadah masih dan hanya dijadikan sebagai suatu bentuk formalitas, simbol belaka. Sholat ya sholat, tapi ngomongin orang (ghibbah) jalan terus. Mantan ketua organisasi yang berbau agama, tapi korupsi jalan terus. Singkatnya, kekurangan dari golongan ini adalah kurang mempunyai rasa responsif (kepekaan) dalam hubungan mu’amalah (antar sesama manusia). Secara vertikal kelihatan baik, tapi tidak berbekas sedikitpun pada sikap dan perbuatannya di lingkungan sesama.

* ada nilai ( – ) ( + ); orang yang secara vertikal tidak baik, tapi suka menolong orang. Tidak atau jarang menjalankan syariat agama dengan benar, tapi secara tidak sadar apa yang dia lakukan kepada orang lain bernuansakan nilai agama (baca: bersifat Islami).

* ada nilai ( – ) ( – ); kedua hubungan, baik vertikal maupun horisontal kurang baik. Ibadah tidak, menolong sesama pun tidak. Golongan ini paling “mengharukan”. Sudah tidak tobat, kebanyakan dosa. Malaikat maut pun mungkin gemas melihatnya.

Dari beberapa kategori di atas, kita bisa mengukur, berada di manakah kita? Silahkan memberikan penafsiran sendiri-sendiri, akan tetapi paling tidak uraian dari Kiai Said Aqiel di atas perlu menjadi renungan kita bersama. Sudah sejauh manakah langkah yang kita perbuat.
Selebihnya, wallaahu’alam bi ash showab.

Malam Kedua Ramadhan 1424 H-27/10/03
(c) GJ

*revisi dari arsip pribadi, 30/10/98

Iklan

Oktober 30, 2006 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: