*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#043: ~Flying…


Lagu-lagu Kristiani dari RPK (Radio Peduli Kasih) Cawang itu, telah membangunkanku di dini hari ini. Mengingatkanku dengan lantunan merdu tembang-tembang Hindu, di sanggar pemujaan di lereng Gunung Tengger, enam tahun yang lalu. Mengharuskanku malam ini melakukan sesembahan pada Gustiku. Mengurai air mata, menanyakan tentang garis-garis ke arah mana takdir itu akan berlabuh.

Beberapa menit kemudian, ragaku kembali teronggok lunglai di atas kasur kumal, di antara tumpukan buku yang berserakan, di ruang kamar sekaligus perpustakaan. Sementara jiwaku mengembara, pergi, menemui siapa saja yang ingin ia bisa temui dan menumpahkan segenap kelelahan pikiran.

Kepada Mbah Hasyim Asy’ari, belajar tentang kesufian. Ke Dipati Unus, tentang kebangsaan. Ke Gajah Mada tentang politik ketatanegaraan. Ke Raden Ayu Putri Kambang tentang hakekat cinta para raja. Ke Mbah Bisri Mustofa, tempat segala inspirasi ketika menulis itu kumulai. Ke….

Di sini, aku bagaikan seonggok daging tak berguna yang hanya bisa berdiri tegak menyelimuti tulang-belulang. Aku bagaikan terkena ‘kutuk pastu’ seperti dalam cerita-cerita di epos Mahabarata. Seperti Pandawa yang harus hidup di pengasingan, mengembara 12 tahun di tengah belantara hutan. Hidup dalam penyamaran, sebagai pembantu istana di Kerajaan Wirata. Hidup penuh dengan godaan, caci-maki, penghinaan dan penderitaan.

Seperti Prabu Pandu Dewanata yang tak boleh menggauli istrinya, akibat keteledorannya membunuh Resi Kindamana yang sedang bercinta. Seperti sang Krishna sendiri yang tak mampu menghindari guratan takdir, menyaksikan kepunahan bangsanya akibat ulah kecerobohan anaknya yang mempermainkan seorang pertapa (resi) agung. Seperti……..
Yang kesemuanya itu sebenarnya cobaan, yang membutuhkan ketabahan untuk menjalaninya.Mampukah aku?

Andaikan malaikat maut mau memilih hamba yang hina, dan sudah hampir takkuasa lagi menahan beban hidup ini. Andai hutang hidup telah terlunasi. Andai tugas dan kewajiban hidup telah terselesaikan. Andai peradaban telah selesai kubangun. Andai.. Andaikan….
Hanya amanah yang mampu membuatku bertahan. Mengarungi samudera cinta tanpa rasa. Menjalani segala penderitaan menuju kemuliaan.
Sejati.

Padepokan Tebet, 2-10-03, 03:15© GJ with flying…..

Oktober 17, 2006 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: