*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#023: Filsafat Mahabarata [3]

KETIKA

Ketika Duryudana tidak meminta restu ibunya, Dewi Gandari, sebelum berperang melawan Pandawa, maka muncul ajaran filsafat “Kutukan ibu lebih hebat dari restunya“.

Ketika Duryudana memerintah Hastinapura dengan lalim dan tamak, “Jika orang bersandar pada kejahatan, maka pintu kehancuran sudah terbuka“. “Ketamakandan kelicikan dapat menghancurkan bangunan istana kebaikan“.

Ketika Pandu meninggal tatkala Pandawa lahir, “Jiwa akan abadi, kebenaranakan tetap terjaga“.

Ketika Dewi Madrim (ibu Nakula dan Sadewa) ikut mati bersama Pandu, “wujud kesetiaan seorang istri“.

Ketika Raja Kansa membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir, “Kelaliman adalah investasi kebinasaan. Kebaikan adalah tangga menuju kesuksesan“.

Arjuna adalah penengah Pandawa. Dia adalah seorang ksatria yang sakti-mandraguna. Bahkan, kesaktiannya melebihi kakak-kakaknya, Yudistira dan Bima. Meskipun demikian, ia tetap patuh pada kedua kakaknya itu. Maka muncul filsafat, “Sehebatnya kehebatan seorang adik, ia harus menghormati kakaknya“.

Ketika Duryudana lebih percaya pada Patih Sengkuni, “Kebutaan hati menyebabkan mudah dihasut“.

Ketika Drupadi dengan setia selalu menemani suaminya dalam pengasingan 13 tahun di tengah hutan, “Wanita utama adalah yang tetap menjaga akan cinta sejatinya“.

Ketika Yudistira memerintah Amarta dengan adil, “Cahaya keadilan akan menyebar dan menerangi setiap orang“. “Setiap keputusan yang diambi haruslah bersih dan adil“.

Ketika Resi Bisma dan Resi Wiyasa menghormati Kresna, “Hanya wali yang bisa mengetahui seseorang itu wali“.

YANG LAIN

Hasil interpretasi penulis yang lain: “Jika kita tidak menghormati masa depan, ia akan menggilas kita“; “Orang harus bisa tertawa pada saat yang sulit“; “Penderitaan adalah awal dari kebahagiaan”; “Tirakat dan riyadloh adalah kunci kedekatan pada Tuhan”; “Ketertutupan atas kebenaran yang dilakukan adalah sebuah kesalahan besar”; “Senyuman istri adalah wujud sikap ksatria”; “Kedudukan wanita itu mulia dan tinggi di muka bumi”; “Kejujuran di atas segalanya”; “Tidak ada yang lebih besar selain berkat orang tua”; “Terkadang, ketidaktahuan itu adalah kesenangan. Kesadaran adalah kemalangan”; Menghindari diri dari persoalan bukanlah cita-cita. Cita-cita adalah mampu mengendalikan diri”; “Demi kebenaran, integritas dan kejujuran harus ditegakkan”; “Kepandaian dan keahlian, tanpa kenal ilmu politik, hanyalah sebuah kesia-siaan”; “Hak seorang anak wanita harus tetap dihargai”; “Seorang politisi yang baik, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri”; “Bagaimanapun, menikah dengan orang yang dicintai adalah sebuah kebahagiaan”; “Setiap orang memiliki peran”; “Kebenaran akan mengalahkan kejahatan”; “Suatu masa depan, diawali oleh masa lalu”; “Sang waktu tidak akan kehilangan jalannya“;

(C) aGus John al-Lamongany,
3 July 2003

Oktober 13, 2006 - Posted by | Filsafat, Sastra | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: