*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#022: Filsafat Mahabarata [2]

KETIKA

Ketika Drupadi ditelanjangi Dursasana di depan forum istana Hastina, maka muncul sebait kalimat, “Waktu tak bisa menutup mata atas peristiwa yang terjadi. Ia hanya menjadi saksi“.

Ketika melihat peran Ibu Kunti yang bijaksana dan berlaku adil, “Kedudukan wanita utama sangatlah mulia“.

Ketika Sang Kresna membeberkan tentang rahasia alam dan peran manusia, “Setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab atas perbuatannya“.

Ketika Bisma gelisah melihat Duryudana, “Kebijakan yang menjauhi kebenaran, maka ia akan mendekati kehancuran“.

Ketika Arjuna ingin meminta senjata ampuh yang lebih banyak lagi dari para dewa, “Bagi manusia, melewati batas adalah tidak mungkin“.

Ketika Pandawa memenangkan Perang Baratayudha di Kurusetra, “Di mana kebenaran bersemayam, di situlah harapan kemenangan“.

Ketika Pandawa sudah terjebak permainan judi untuk yang kedua kalinya, maka sang ahli politik, Rama Widura berujar, “Judi hanya akan merusak akal budi“. “Keledai pun tidak mau terjebak untuk kedua kalinya“. “Keahlian/kepandaian tanpa kewaspadaan, adalah kelalaian“. Atau, “Kejujuran tanpa perhitungan, adalah awal kehancuran“.

Ketika Kurawa memerintah Hastinapura, “Kecurangan dan penipuan dapat menciptakan ketakutan dan kejahatan“. “Suatu penipuan menyembunyikan kelemahannya di bawah jubah keramahan“. Atau, “Bila sifat politik kenegaraan dicampuri dengan kepentingan individu, ia akan menuju kehancuran“.

Ketika Gandari menangisi kematian 100 anaknya di medan Kurusetra, “Seorang ibu sebenarnya memberkati anaknya“.

Ketika Kurawa memenangkan sengketa Hastina atas Pandawa melalui meja perjudian yang disaksikan oleh para petinggi Hastina, “Kejahatan yang dilakukan secara prosedural, akan bisa menjadi sebuah kebenaran“.

Ketika Pandawa dibuang ke hutan, “Hutan itu layaknya Ibu. Ia penuh dengan kesejukan. Jika panas terik, kita berteduh di bawah pohonnya“.

Ketika kesengsaraan hidup melanda mereka, “Tirakat dan riyadhlo adalah sarana menuju kesempurnaan hidup“.

Ketika Bima menikah dengan wanita raksasa, DewiArimbi, “Cinta tak mengenal bangsa“. Atau, “Menjadi wanita dan satria utama, ia didukung oleh kekuatan cinta“.

YANG LAIN

Kumpulan baris-baris filsafat yang lain: “Penyesalan tidak akan menyelesaikan masalah“; “Adat dan kebiasaan bisa hancur oleh derita seorang perempuan“; “Seseorang tidak akan mampu merubah takdirnya, walaupun berulang kali dicoba“; “Kendalikan diri, rencanakan masa depan“; “Kebenaran tetaplah kebenaran, betapapun pahitnya“; “Kelicikan tak dapat mengukur kadar dari sebuah kejahatan“; “Adalah dosa, menyangsikan kasih sayang orang tua“; “Kehormatan bukanlah warisan, tapi ia adalah hasil dari perbuatan diri sendiri“; “Kata-kata adalah modal yang paling berharga, maka sebelum mengucapkannya, pertimbangkanlah!“;

(C) aGus John al-Lamongany,
3 July 2003

Iklan

Oktober 13, 2006 - Posted by | Filsafat, Sastra | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: