*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#018: Kesederhanaan

30 Mei 2003.
Jum’at sore, di Jakarta Hall Convention Center (JHCC). Saya berada di sebuah stand khusus printer warna, sedang bertanya sama sang gadis penjaga stand, mengenai spesifikasi berikut harga dari printer tersebut. Disela-sela obrolan, tiba-tiba seseorang datang menghampiri, dan kemudian menyapa: “Hello, Gus. Apa kabar?” Saya agak tertegun sebentar. Siapakah gerangan orang ramah yang menyapa sahaya?

Setelah lama mengamati, “Masya Allah, P’ Anung?! Apa kabar juga, Pak?” Karena saking gugupnya, saya mengucapkannya pakai bahasa Jawa Kromo-Inggil. Beliau pun membalasnya dengan bahasa yang sama. Seingat saya, orang yang murah senyum ini memang berasal dari Jawa. LulusanITS, kalau tidak salah.

Biar lebih nyantai, saya minta ma’af sebentar pada si mBak penjaga stand, “ma’af, mBak. Saya tinggal ngobrol dulu dengan dosen saya”.

Dosen? Iya, Pak Anung memang mantan dosen saya di Perbanas. Sudah setahun lebih kita tidak bertemu.

“Bapak kok masih ingat saya?”

“Keusilanmu di ruang kelas itu, yang selalu mengingatkan saya,” jawabnya berdiplomatis sambil tersenyum. Padahal, rambut sudah saya papras habis. Tapi, dosen yang menjadi favorit saya karena selalu berpenampilan bersahaja itu, masih ingat juga.

Kita kemudian berbicara, saling bertanya kabar masing-masing. Tampaknya, PakAnung masih seperti yang dulu. Bertubuh agak gemuk, berbaju koko, dan jenggot hitam klimis sebagai ciri khas.

Kalau mengajar, biasanya sering pakai baju koko warna coklat cerah, dan itupun seperti menjadi pakaian resmi waktu mengajar. Salah satu kebiasaan Pak Anung yang masih saya ingat, bila habis mengajar, pas waktu sholat Maghrib, beliau langsung menuju ke musholla kampus. Habis sholat, mampir dulu di koperasi. Beli kue, sebuah-dua buah plus aqua gelas, dan tanpa rasa malu ataupun sungkan, dimakan di tempat itu juga bersama-sama dengan mahasiswa yang lain.

Moment seperti itu, biasanya yang sering saya gunakan untuk ngobrol dengannya, dulu, ketika masih kuliah. Anung Pamungkas, nama lengkap dosen yang sederhana dan sangat egaliter itu.

***
Tiga tahun yang lalu, di sebuah kedai-cafe –orang sering menyebut kedai ini sebagai “kedai politik”– di Komplek Majalah Tempo, Utan Kayu. Saya sedang ngobrol santai dengan mas Ulil Abshar-Abdalla, yang kini dikenal menjadi salah seorang tokoh Islam Liberal. Kita bicara banyak hal. Tentang Islam,NU, dan politik. Saya merasa senang bila bertemu dengannya, karena disamping ilmu saya selalu ter-upgrade, tokoh muda Islam yang satu ini selalu mengingatkan pada sosok kakak saya. Orangnya cerdas, tangkas, tanggap dan memiliki karisma.

Dengan mas Ulil, saya menimba tidak hanya ilmunya, tapi juga cara bicaranya ketika menjadi pembicara, tutur katanya, kemoderatannya dan keluasannya dalam beragama, dan sebagainya. Beliau telah cukup banyak memberikan warna dalam proses hidup yang saya lalui.

Di tengah-tengah suasana ngobrol, ketika saya sedang minta saran, perihal akan membuat sebuah buletin lokal yang terdistribusi secara nasional, terdengarlah salam dari seseorang yang baru saja datang.

“Assalamu’alaikum…,” ucap seorang laki-laki berambut putih.

Usia orang ini sepertinya sudah memasuki paruh baya. Sekitar 50-an tahun lebih. Berbadan tambun, pakai baju koko dipadu dengan celana jeans warna biru, merk “Cardinal”. Sandalnya bertuliskan “Carvil”, seperti yang tidak jauh beda dipakai oleh anak-anak kampung ketika merayakan lebaran.

“Wa’alaikumsalam wr wb,” jawab saya serentak dengan mas Ulil.

“Sederhana sekali orang ini,” pikir saya. Saya pun kemudian dikenalkan oleh mas Ulil dengan sang tamu.

“Beliau ini mas Danarto, Gus. Seorang budayawan terkenal,” ujar mas Ulil. Saya mengangguk, sambil menyambut perkenalan dengan orang yang baru datang tadi.

Danarto. Seingat saya, dia seorang penulis novel yang hebat. Karya-karyanya sudah banyak yang dibukukan. Dia adalah salah satu novelis brilian yang dimiliki Indonesia, yang karya-karyanya begitu saya suka, di samping sederatan novelis handal lain, seperti: Pramoedya Ananta Tour, Umar Kayam,Putu Wijaya, Koentowijoyo, dll.

Sambil mengikuti obrolan mas Ulil dan Danarto, saya masih belum percaya betul, apakah benar, orang tua berbadan tambun, dengan pakaian yang sederhana, di depan saya ini adalah sang novelis hebat, Danarto?
“Hm, sungguh bersahaja!” gumam saya.

***
Baik P’ Anung, Ulil, ataupun Danarto, adalah orang-orang yang pernah saya jumpai. Yang pernah saya kenali dan kagumi, yang memiliki kesahajaan, kesederhanaan dalam menyikapi persoalan hidup.

Berpanutan pada sikap dan akhlak Rasulullah adalah sebuah keharusan, tapi belajar memahami sikap-moral yang baik dari orang lain untuk kemudian kita jadikan sebagai sebuah suri-tauladan, tidak pula menjadi sebuah persoalan.

P’ Anung, Ulil, dan Danarto. Sangat yakin, sebenarnya mereka mampu untuk hidup layaknya jet-set, seperti para selebritis. Berpenampilan borju, parlente, dan mengumbar kekayaan di depan khalayak ramai, seperti halnya kebanyakan orang sekarang yang sudah terlarut gaya hedonisme akibat virus-virus kapitalisme. Tapi tidak! Tidak mereka lakukan. Meraka tidak menampakkan itu semuanya.

Barangkali, ide-ide, gagasan dan pemikiran yang mereka miliki adalah harta paling berharga bagi mereka. Bukan terletak di pakaian, bukan pula disandang-pangan dan papan yang serba glamour. Karena penulis sendiri yakin, eksplorasi dan eksploitasi akal merupakan bagian dari sebuah karunia Tuhan, yang tak kalah lebih berharganya.
Selebihnya, wallaahu’alam bi ash showab.

*tatkala badai mulai beranjak pergi………
(C) aGus John al-Lamongany, 15/6/03

Oktober 12, 2006 - Posted by | Ideologi Sikap Otak, Other | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: