*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#009: Reuni

Dik Ali (Ali Thamrin, angkatan 3) pernah cerita ke saya, mengenai sulitnya mengumpulkan teman-teman yang berada di daerah [Surabaya dll] untuk diajak dalam acara reuni kelas. Padahal, acaranya juga di daerah. Menurut Ali, itu terjadi karena ada perasaan minder dari teman-teman di daerah bila bertemu dengan teman-teman dari [yang bekerja di] Jakarta.

Lho, kok bisa? Ya, memang begitu kenyataannya. Di samping halangan sakit, biasanya sibuk karena rutinitas pekerjaan juga dijadikan sebagai alasan. Tapi minder atau tak percaya diri, menurut Ali merupakan alasan yang kerapkali keluar.

Kenapa begitu? Menurut saya, itu bisa saja terjadi, bila seandainya harta dijadikan sebagai parameter [tolak ukur] dalam berteman. Ada image, seolah-olah yang bekerjadi Jakarta itu glamour, hidup penuh dengan kesuksesan dsb. Padahal sama saja.

Contoh kecilnya saja, saya misalnya. Sampai kini pun tidak memiliki properti yang berarti, aset pribadi yang berlebih, atau bahkan [boro-boro] mobil pribadi…:) Padahal kerja sudah lama. Justru teman-teman di daerah sudahpunya rumah di Sidoarjo, misalnya. Jadi, kenapa harus minder? Semua sama saja. Sederhana saja berpikir: Tuhan menilai akhlak. Menilai bermanfaat atau tidaknya manusia terhadap lingkungan di sekitarnya, dan bukan dari kekayaannya.

Kalau alasannya karena “gengsi” pekerjaan. Banyak macam ragam pekerjaan yang bisa memberikan pendapatan –tidak hanya berkutat pada perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi belaka. Ada pabrik, berniaga/berdagang, wiraswasta, kerja di level wacana atau massa-basis (LSM, Lembaga Swadaya Masyarakat) dsb. Belum tentu, kerja di perusahaan telekomunikasi gajinya bisa lebih besar dari seorang office boy di sebuah LSM. Karena saya pernah tahu itu.

Berpijak pada Masa Lalu

Seharusnya, bila ingin ber-reuni, perasaan egaliter [senasib-sepenanggungan], seperti yang pernah kita rasakan ketika hidup bersama di (m)Bareng atau Sawojajar, yang kita kedepankan. Itu yang harus kita pegang dan gunakan sebagai parameter dalam menjaga abadinya sebuah hubungan. Bukan parameter harta atau kekayaan.

Harus ditanamkan pula pemahaman, bahwa; pertama, kita dulu berangkat dari segala sesuatu yang hampir sama. Sama-sama merasakan hidup prihatin. Sama-sama mengalami hidup “miskin”, sama-sama mengkonsumsi masakan Bu Tajab, Bu Boneng, lihat film 300-an perak di Kelud dsb.

Kedua, harta itu titipan Tuhan. Ada atau tiada, [harta] itu hanyalah sebuah keniscayaan. Hanya waktu dan kesempatanlah yang membedakan. Ada waktu yang dibingkai dalam batas “kemarin”, “sekarang”, dan hari “esok” yang masih terbentang lapang. Hidup masih panjang, dan rejeki menjadi “otoritas mutlak” Tuhan. Dia-lah yang menentukan segalanya. Dunia adalah fana. Jadi, kalau hanya persoalan beda harta, kenapa harus takut untuk ber-reuni? Bukankah demikian, kawan?

[c] aGus John al-Lamongany, 8 Maret 2002

Iklan

Oktober 12, 2006 - Posted by | Alumni | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: