*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#006: Profesionalisme dalam Perbedaan

Malam semakin pelan merambat menuju kekelaman. Ketiga orang itu masih duduk di kedai makan dekat terusan Maleische Gragt itu hingga larut. Cornelis yang tak pernah lepas dari penyamarannya jika berada di luar penginapan itu terus berbicara meracu. Entah sudah berapa kendi arak yang telah mengguyur tenggorokannya. Valentijn masih bisa menahan diri untuk tidak terhanyutdalam buaian minuman yang memabukkan itu. Sedang Raden Suryo hanya menyentuhnya sedikit. Pemuda itu lebih banyak menghabiskan rokok cerutunya yang dihisap sambung-menyambung tiada henti.

Guna mengurangi kekakuan suasana, Valentijn mencoba mengalihkan pembicaraan yang barangkali kurang menyenangkan bagi Raden Suryo. Sementara Cornelis sudah lama tak sadarkan diri.

“Apakah kau akan tetap tinggal di kota ini Raden?” tanya Valentijn.

“Benar!”

“Lantas apa rencanamu di sini kelak?”

“Aku akan meneruskan perjuangan ayahku dalam upaya membebaskan tanah Jawa Raya ini dari belenggu penjajahan bangsamu….,” jawab Raden Suryo datar.

Mendengar jawaban Raden Suryo tersebut, Valentijn tidak berhasrat lagi untuk meneruskan percakapannya. Cornelis dan Valentijn harus kembali ke Belanda, sementara Raden Suryo mengantarkannya hanya sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka pun berpisah dalam suasana penuh persahabatan.

***
Tidak hanya dalam lingkungan pekerjaan saja, kita menerapkan sikap profesionalisme. Tapi, dalam hal berbeda pendapat, walaupun itu sangat prinsip dan menyentuh persoalan yang asasi dan esensi sekalipun, sikap profesionalisme harus tetap dijaga.

Dalam salah satu fragmen dari novel sejarah “Sang Penumpas“, karya DukutImam Widodo (pen: Djambatan:1988, hal:194) di atas, memberikan gambaran tentang bagaimana erat dan tulusnya persahabatan di antara ketiga tokoh pelaku dalam novel itu.

Untuk bisa mengukur lebih jauh isi (kadar) dari persahabatan mereka, tak ada salahnya kita perlu mengenal ketiga tokoh tersebut: Valentijn adalah seorang perwira berpengalaman yang ditugaskan oleh kerajaan Belanda untuk memburu dan menumpas Mayor Gustaaf van de Broecke, seorang tentara Belanda yang melakukan disersi bersama 30 anak buahnya untuk melakukan pemberontakan pada pemerintahan di Batavia. Gustaaf adalah putra bangsawan Mataram, Pangeran Guritno, yang beristrikan seorang wanita Belanda.

Tokoh kedua, Cornelis. Nama lengkapnya Cornelis van de Broecke. Dia putra Gustaaf. Kedatangannya ke Batavia, karena ditugaskan oleh ibunya untuk menyadarkan ayahnya. Tapi karena alasan prinsip membela kebenaran, Gustaaf tetap bersikukuh pada pendiriannya, yang menyebabkan dirinya harus terbunuh oleh Cornelis, anaknya sendiri.

Sementara Raden Suryo. Dia putra Pangeran Nataningrat, seorang bangsawan Mataram. Pangeran ini, karena melakukan pemberontakan pada kompeni, akhirnya dibuang ke Kaap de Goode Hoop. Tapi berkat keuletan dan ketokohannya, di wilayah paling selatan Benua Afrika itu, dia justru menjadi seorang pengusaha yang kaya raya. Raden Suryo, pergi ke Batavia –yang secara tidak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Cornelis di atas kapal, dengan tujuan untuk membalaskan dendam atas terbunuhnya ayahnya oleh Gustaaf.

Sangat menarik! Novel karya orang Malang ini diakui oleh HB Jassin–sastrawan besar Indonesia- sebagai sebuah novel yang memiliki struktur cerita detektif yang penuh liku-liku, intrik-intrik canggih yang terlalu langka dalam sastra Indonesia.

***
Kita kembali pada pertemuan ketiga tokoh di atas. Walaupun mereka dipisahkan oleh persoalan harga diri; Cornelis dan Valentijn mewakili identitas sebagai bangsa imperialis (penjajah), dan Raden Suryo sebagai identitas kaum yang tertindas (bangsa jajahan), tapi mereka bisa menjaga hubungan yang telah terjalin sebelumnya dengan baik –walaupun itu secara tidak sengaja.

Walaupun masing-masing memiliki nasionalisme pada bangsanya sendiri-sendiri, tapi mereka bisa duduk satu meja. Berdiskusi tentang masa depan dan harapan mereka terhadap bangsanya. Mereka mampu membedakan mana “ruang privat” pesahabatan/hubungan/persoalan pribadi), dan pada saat yang mana “ruang publik” (membela kepentingan bangsanya) harus dilakukan. Perasaan senasib-sepenanggungan dalam perjalanan dari Pelabuhan Kaap de Goode Hoop (Tanjung Harapan Baik) menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia (1742), telah mengikat mereka pada kesadaran bahwa mereka harus bisa berbuat profesional dalam menjaga hubungan. Sementara, persoalan menjajah dan dijajah adalah urusan lain.

Lebih lanjut, novel itupun bercerita, “Valentijn memberikan sebuah bingkisan sebagai tanda kenang-kenangan, yang berisikan sebuah pistol dari emas kepada sahabatnya, Raden Suryo, sebelum dirinya naik ke kapal.”
“Tet…tet…tet…,” bunyi sirine. Kapalpun mulai berjalan. Mereka salingmelambaikan tangan.

***
Alangkah indahnya persahabatan mereka. Dan sungguh indah pula bila kita bisa melakukannya; bersikap profesional dalam melihat dan memandang perbedaan.

(c) aGus John al-Lamongany, 29 Jan ’02

Oktober 12, 2006 - Posted by | Ideologi Sikap Otak | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: