*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#005: Emosi dan Artikulasi Diri

Anda, saya, ataupun siapa saja tentu pernah mengalaminya. Dalam merespon sebuah diskusi, terkadang kita langsung bersikap reaksioner. Tersinggung, mudah marah atau bahkan mengancam. Mengedepankan emosi daripada meresapi. Mengedepankan naluri daripada empati. Padahal, andaikata semua orang bisa memahami satu sama lain. Saling berempati satu sama lain, niscaya (konflik) itu tidak akan pernah terjadi.

Emosi adalah bagian dari sebuah ekspresi. Emosi juga bisa saya maknai sebagai wujud dari aktualisasi diri yang “tidak tuntas” –lebih bersifat negatif. Sama-sama bentuk dari aktualisasi diri, mungkin hanya berbeda pada tataran proses, dengan orang yang bisa berekspresi menggunakan opini(wacana). Jadi, ketika seseorang itu emosi dalam berdiskusi, sebenarnya itu menunjukkan bahwa ada “problem” dengan orang tersebut, yang berkenaan dalam proses mengartikulasikan dirinya untuk membangun sebuah opini. Dengan memahami demikian, bagi yang sudah bisa berdiskusi, beropini, makaseyogyanya dengan sabar bisa memahami orang-orang yang masih berada dalam tahap (tataran) emosi.

***
Dalam konteks pemahaman seperti itulah, yang kemudian saya jadikan pijakan untuk mengkritik –sekaligus memberikan saran- terhadap gerakan massa grass-root NU yang cenderung “radikal”. Misalnya: munculnya fenomena Pasukan Berani Mati (PBM) ketika Gus Dur akan dijatuhkan. Juga aksi-aksi massa Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Jihad yang cenderung merusak, dan aksi-aksi membakar buku-buku –yang dianggap “kiri”, yang dilakukan oleh Eurico Guetteres dkk tempo hari.

Munculnya fenomena seperti itu, harusnya bisa dipahami sebagai: pertama, pembodohan elite pada umat. Terjadi disinformasi dari kalangan pemimpin kepada umatnya. Wawasan dan pengetahuan umat yang terbatas –kalau tidakboleh dikatakan terbelakang, dimanfaatkan untuk kepentingan elite. Itu juga menunjukkan, ada problem artikulasi diri pada mereka, sehingga bisa dimanfaatkan oleh kalangan elite politik, hingga kemudian muncullah vonis”komunis”, “anarkhis” dll terhadap kelompok yang mereka anggap lawan.

Kedua, bagi yang sudah pandai beropini (media massa, elite lawan politik, provokator dll), tidaklah perlu memojokkan mereka yang masih menggunakan cara-cara emosi untuk menyelesaikan masalah. Sesungguhnya, emosi yang mereka lakukan itu, menunjukkan ketidakmampuan untuk menuntaskan masalah melalui mekanisme intelektual (diskusi, berdebat, berbeda pendapat dll) dan cara-cara yang beradab (via wakil rakyat, aparat penegak hukum, forum diskusi dll).

Padahal, seharusnya masalah yang “tidak tuntas” itu menjadi kewajiban bersama; baik oleh yang sudah mengerti, ataupun bagi yang masih suka menggunakan instrumen emosi. Karena dengan begitu, beda pendapat di negeri ini akan berlangsung dengan sangat demokratis dan santun. Begitupun di forum diskusi ini. Semoga!.

(c) aGus John al-Lamongany, 22 Jan ’02

Iklan

Oktober 12, 2006 - Posted by | Ideologi Sikap Otak | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: