#145: Pura Keluarga dan Rumah Tokoh Adat Bali
Catatan Perjalanan ke Bali#003
Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Bali, ada pura keluarga di dalam komplek rumah. Pura ini berfungsi sebagai tempat sembahyang setiap hari; untuk mendekatkan diri dengan arwah keluarga dan leluhur. Proses sembahyang dibagi dalam 3 waktu: pagi, siang dan sore/malam. Sembahyang pagi sehabis mandi dan setelah masak. Sembahyang siang sebelum makan. Sembahyang malam sesudah mandi sore.
Rumahnya pun dibuat petak-petak secara terpisah. Ruang tamu pisah dengan ruang dapur. Ruang acara do’a terpisah dengan ruang untuk upacara pernikahan atau kematian. Dan begitu seterusnya.
Berikut adalah gambaran lay out rumah I Wayan Tembau Kariasa, sang tokoh adat daerah Klungkung, Bali:
Baca selebihnya »
#144: Sromotan Klungkung*
Namanya “Sromotan“. Masakan khas dari daerah Klungkung, Bali ini sejenis urap-urap atau pecel (dengan) sayur (matang) di Jawa. Bahannya: kacang panjang, bayam, kangkung, buncis, kecipir, pare, koro, undis dan kecambah. Kecuali kecambah yang hanya diseduh/direndam di air hangat, semua sayuran direbus hingga matang. Sedangkan bahan mentahnya: kecapi, terong kecil.
Bumbunya ada dua macam. Sambal dari kacang yang disebut “sambal koples“, dan bumbu dari parutan kelapa yang disebut “sambal nyuh“. Sambal koples bahannya adalah cabe besar merah, cabe kecil rawit, bawang putih, trasi, gula aren dan kacang tanah. Semua diracik menjadi satu, kemudian ditumbuk hingga halus di lumpang; alat dari kayu yang berupa cekungan. Sebagai penumbuknya terbuat dari tongkat kayu yang besar dan panjang.
Jika sudah halus, bumbu koples ini kemudian digoreng dan sesudahnya siap untuk disajikan. Sebagai bumbu tambahan: merica bubuk, garam, vetsin.
Cara pembuatan sromotan Klungkung:
1. buat sambal koples
2. goreng sambal koples
3. buat sambal nyuh;
4. masak sayuran hingga matang
5. campur sayuran matang + mentah
6. campur dengan kedua bumbu yang sudah siap Baca selebihnya »
#141: Sejarah Kerajaan Klungkung
1-3 Mei ada acara kantor yang mengharuskan saya pergi ke Bali. Melakukan liputan terhadap Seniman Tua Bali. Kebetulan, saya dapat jatah seniman tua dari Kabupaten Klungkung. Namanya, I Wayan Tembau Kariasa. Tempat tinggalnya di Banjar Kacang Dawe, Desa Kamasan, Klungkung.
Wajahnya sudah keriput. Umurnya 65 tahun. Tapi semangatnya tetap menyala jika diminta menceritakan kesenian yang ditekuninya. Pak Wayan, seniman Drama Gong dari daerah Klungkung. Dia sudah mengabdikan dirinya di seni drama sejak tahun 1967. Dan kini, dia sudah pensiun. Berhenti total dari kesenian yang digelutinya. Tidak ada sanggar, rumahnya pun sempit. Seiring dengan meriahnya TV swasta dan acara hiburan, seni drama gong mulai redup. Kaderisasi perlu dipertanyakan, apalagi Pak Wayan tak punya sanggar. Di manakah peran Pemda Bali dalam hal ini?
***
Sehabis interview, motret Pak Wayan, saya mampir ke Istana Kerajaan Klungkung. Lokasinya di barat laut rumah Pak Wayan. Jaraknya sekitar 2km.
Masuk ke area istana, tamu harus memakai kain sarung. Kita langsung menuju ke Museum melewati Bale Sang Rajadi sisi timur -tempat bagi Raja untuk menyaksikan proses pengadilan. Lalu lewat Balekambang di sisi selatan; tempat untuk pengadilan bagi yang salah, kemudian melwati tanah lapang yang cukup luas menuju museum yang berada di sisi barat. Di sisi utara berdiri pura yang megah.
Lokasi museum Klungkung berada di tengah kota. Tepatnya di selatan kantor Bupati Klungkung. Di sebelah barat museum terdapat alun-alun dan pendopo kabupaten yang cukup besar. Baca selebihnya »













