*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#131: Bagelen dan Mataram Kuno (Res:)

bagelenJudul: Bagelen dan Mataram Kuno
Penulis: Radix Penadi
Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosial dan Budaya
Cetakan: 1988
Tebal: 59 Halaman

Bagelen memiliki nilai dan karismatik sebagai sebuah wilayah. Wilayah yang luas -terdapat 20 kecamatan jika dibandingkan dengan kondisi administratif saat ini- dan terletak di Jawa Tengah bagian selatan (tepatnya di Yogyakarta) itu memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah tanah air. Operasi militer, perlawanan terhadap Kompeni, pembangunan candi (Prambanan dan Borobudur) merupakan beberapa bukti pentingnya wilayah tersebut.

Bukti-bukti kebesaran Bagelen tercatat sebagai berikut:
1. di era Majapahit, Raja Hayam Wuruk pernah memerintahkan untuk menyelesaikan pembangunan candi makam dan bangunan para leluhur, menjaga serta merawatnya dengan serius (Negarakertagama);
2. di era Demak, Sunan Kalijaga (anggota Wali Songo) mengunjungi Bagelen dan mengangkat muridnya, Sunan Geseng untuk berdakwah di wilayah Bagelen;
3. di awal Dinasti Mataram, Panembahan Senopati menggalang persahabatan dengan para kenthol (tokoh-tokoh) Bagelen untuk menopang kekuasaannya.
4. ditemukannya bukti-bukti sejarah, seperti Lingga (52 buah), Yoni (13), stupa/Budhis (2), Megalith (22), Guci (4), Arca (38), Lumpang (24), Candi Batu atau berkasnya (8), Umpak Batu (16), Prasasti (3), Batu Bata (8), temuan lain (17), dan Umpak Masjid (20).

Tapi pada akhirnya, Bagelen sebagai sebuah kawasan yang solid akhirnya terpecah seiring dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) yang didesain oleh Kompeni Belanda untuk memecah Mataram menjadi dua kerajaan; Kasunanan Surakarta (Solo) dengan Sunan Paku Buwono III sebagai raja pertamanya, dan Kasultanan Yogyakarta dengan Sultan Hamengku Buwono I sebagai rajanya.

Sebagian masuk Solo, dan sisanya masuk Yogyakarta. Secara peradaban, Bagelen sudah terbelah. Abad XIX (1825-1830), Bagelen ikut dalam Perang Jawa. 3000 prajurit Bagelen di bawah kendali Pangeran Ontowiryo menyokong perjuangan Pangeran Diponegoro yang terpusat di Tegalrejo, Magelang. Saking kuatnya perlawanan Bagelen, Kompeni Belanda sampai harus menggunakan taktik Benteng Stelsel, dengan mambangun 25 buah benteng di kawasan Bagelen.

Usaha Belanda untuk semakin memperlemah Bagelen dilanjutkan di tahun 1901. Tanggal 1 Agustus, Bagelen dihapus secara karesidenan dan dilebur ke dalam Karesidenan Kedu. Selanjutnya Bagelen hanya dijadikan sebagai sebuah kecamatan saja. Kemudian Belanda juga membangun jalur transportasi Purworejo-Magelang untuk memudahkan pengawasan. Belanda juga menempatkan batalion militer reguler dengan dibantu serdadu negro (Ambon?). Kebijakan ini sangat nyata untuk menghilangkan jati diri Bagelen sebagai sebuah kawasan yang sangat berakar. Buku ringkas ini merupakan upaya penulis untuk melakukan rekonstruksi suatu aset nasional yang memiliki muatan lokal. Berikut penelusurannya:

LATAR BELAKANG MATARAM KUNO

Di Jawa Tengah abad VIII – X, ada kerajaan besar, bernama Medang yang terletak di Poh pitu. Kerajaan ini luas, dikenal subur dan makmur. Pusat kekuasaan dibagi menjadi dua; Pertama, negara yang bersifat internasional dengan beragama Budha, diperintah oleh Dinasti Syailendra. Kedua, negara yang diperintah oleh sepupunya yang beragama Syiwa. Kedua kerajaan ini berada dalam satu istana, dan disebut Kerajaan Medang i Bhumi Mataram. Berdasarkan prasasti berbahasa Melayu Kuno (Desa Sojomerto, Batang) memperkuat pendapat sejarawan Purbacaraka, bahwa hanya ada satu dinasti saja di Jawa Tengah, yakni Syailendra. Raja Sanjaya yang menganut Syiwa di kemudian hari menganjurkan putranya, Rakai Panangkaran untuk memeluk Budha. Menurut catatan Boechori, epigraf dan arkeolog, Syailendra merupakan penduduk asli Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh prasasti Wanua Tengah III (Temanggung) yang memuat silsilah raja-raja Mataram lengkap dengan tahunnya.

ASAL-MULA RAJA SANJAYA DAN TANAH BAGELEN

Berdasarkan prasasti Canggal (Sleman) menjelaskan: -ada sebuah pulau bernama Yawadwipa -negeri yang kaya raya akan padi, jewawut, dan tambang emas. -raja pertamanya : Raja Sanna. -setelah dia mangkat, diganti oleh ponakannya: Raja Sri Sanjaya Menurut catatan seorang sejarawan, Raja Sanjaya mendirikan kerajaan di Bagelen, satu abad kemudian dipindah ke Wonosobo. Sanjaya adalah keturunan raka-raka yang bergelar Syailendra, yang bermakna “Raja Gunung“, “Tuan yang Datang dari Gunung“. Atau, “Tuan yang Datang dari Kahyangan“, karena gunung menurut kepercayaan merupakan tempatnya para dewata.

Raja Sanjaya dikenal sebagai ahli kitab-kitab suci dan keprajuritan. Armada darat dan lautnya sangat kuat dan besar, sehingga dihormati oleh India, Irian, Tiongkok, hingga Afrika. Dia berhasil menaklukkan Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kerajaan Melayu, Kemis (Kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, dan Tiongkok pun diperanginya (from “Cerita Parahiyangan“).

Area Kerajaan Mataram Kuno (Bagelen) berbentuk segitiga. Ledok di bagian utara, dikelilingi Pegunungan Menoreh di sisi Barat dan Pegunungan Kendeng di utara dan basisnya di pantai selatan dengan puncaknya Gunung Perahu (Dieng), di lembah Sungai Bagawanta (Sungai Watukura, kitab sejarah Dinasti Tang Kuno 618-906). Catatan dinasti Tiongkok tersebut diperkuat juga oleh Van der Meulen yang menggunakan kitab “Cerita Parahiyangan” dan “Babad Tanah Jawi“.

Bagelen merupakan hasil proses nama yang final. Bermula Galuh/Galih, menjadi Pegaluhan/Pegalihan, menjadi Medanggele, Pagelen, lalu jadilah Bagelen. Dalam prasasti Tuk Mas (Desa Dakawu, Grabag-Magelang) yang menyebut adanya sungai yang seperti sungai Gangga, maka Medang i bhumi Mataram bermakna “Medang yang terletak di suatu negeri yang menyerupai Ibu” (lembah Sungai Gangga). Dieng diasumsikan sebagai Himalaya, Perpaduan Sungai Elo dan Progo disamakan sebagai Sungai Gangga, dan pegunungan Menoreh disamakan sebagai Pegunungan Widiya.

SILSILAH RAJA-RAJA MATARAM KUNO

bagelen_1

(c)aGus John,
Lembah Ciangsana, 8 Maret 2009

About these ads

Maret 10, 2009 - Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , ,

26 Komentar »

  1. oalah…..bagelen itu ternyata disitu toh. saya sering baca-baca tentang sejarah tanah jawa. emang wilayah ini yang paling terkenal dari dulu. bahkan sering memegang peranan penting, terutama pada jaman mataram Islam. tapi nggak tau dimana bagelen itu. baru paham sekarang. suwun cak, nambah kawruh. saya tunggu tulisan tentang sejarah yang lainnya.
    salam.
    nb : kok pambayun semua yang jadi modelnya? hehehehe.. kamandanunya mana nih, kok nggak ditampilin juga?

    Komentar oleh Yoann Aditya | Maret 11, 2009

  2. Sama-sama..
    tentang Bagelen lagi akan saya release sore ini.

    kalo kamandanu yg dimaksud adalah Narayana, maka ada di tulisan #126… :)
    terima kasih.

    Komentar oleh agusjohn | Maret 11, 2009

  3. wah ulasannya bagus. dimana ya saya cari bukunya…. kebetulan saya sedang studi tentang magelang (kedu) yang kayaknya ada kaitannya denan bagelen. Tq. kalo berminat silahkan mampir di http://wahyuutami.blogspot.com/ sedikit tentang magelang wlp udah lama ga di up date

    Komentar oleh dilaanshari | Maret 16, 2009

  4. wah asyik ulasannya. boleh ga saya minta info lebih jelas ttg buku in.. saya sedang studi tentang magelang (kedu)

    Komentar oleh dilaanshari | Maret 16, 2009

  5. Monggo, silahkan..

    kita bisa juga berkorespondensi via mail…
    dengan senang hati…

    Komentar oleh agusjohn | Maret 16, 2009

  6. Th’s, Bu.

    Komentar oleh agusjohn | Maret 16, 2009

  7. baguss.. mantabbb, saya yang asli Temanggung kadang gak ngerti sejarah asalnya ini hehee
    tp emg banyak peninggalan2 yg kalo ditelusuri itu banyak, contohnya beberapa candi yang belum jadi,, kata org tua, itu karna sedang ada perang dan para aja melarikan diri atau mengasingkan diri,, disitulah mereka mendirikan candi sbg bukti bahwa mereka pernah disitu,, tp beberapa candi (saya tak tau dimana persisnya) memang tidak sempat jadi..

    Wanau Tengah terletak di Kec Parakan, org2 sering menyebutnya Wonu tengah.

    ayo Pak,, bahas lagi yg banyak,, menarik ini..
    oya btw, kalo roti Bagelen itu sejarahnya gimana ya? saya pikir itu bahasa belanda lhoo

    Komentar oleh riniandhika | Maret 19, 2009

  8. eh ralat ding pak,, wonu tengah itu di kab Temanggung di deket pikatan. nah saat ini di pikatan itu ada kolam renang (pemandian)
    beberapa candi yg belum jadi ada di Gondo Suli, Pringapus yang sudah diserang oleh Sanjaya n pindah ke Dieng..
    (nah sebenernya ini komentar ibuku hehehehe )

    Komentar oleh riniandhika | Maret 19, 2009

  9. Yup, Bagelen pusatnya di perbatasan Yogya-Purworejo. Mungkin betul cerita ibundamu, Rin… karena ada catatan memang raja2/keluarga yg kalah melarikan diri ke arah Temanggung.

    Roti Bagelen??
    baru denger saya… :)

    Komentar oleh agusjohn | Maret 19, 2009

  10. salam kenal,
    Pada saat Perang Diponegoro, yang menjadi Bupati Bagelen siapa ya?

    Komentar oleh bahtiarian | Mei 8, 2009

  11. salam kenal, lumayan jg sejarahnya, saya anak asli keturunan dr bagelen, tp sy blm terlalu mengerti tentang sejarah bagelen, tp saya pernah diceritain sebagian oleh mbah saya sebelum beliau meninggal, yg katanya beliau adalah keturunan dr pendiri bagelen.

    Komentar oleh gunadi | Agustus 26, 2009

  12. ibu saya org purworejo & katanya masih ada keturunan dgn org bagelen tp terputus silsilahnya. namun yg saya inginkan tlng uraikan silsilah dan siapa org yg bergelar kebo kenongo. tlng krm ke email ya.. thx atas bantuannya

    Komentar oleh Ardalopa | Agustus 31, 2009

  13. Kebo Kenongo itu nama lainnya adalah Ki Ageng Pengging; ayah dari Joko Tingkir.
    Lebih lengkapnya, Bapak bisa baca link berikut:

    http://ayunara.wordpress.com/?s=kebo+kenongo

    terima kasih.

    Komentar oleh agusjohn | Agustus 31, 2009

  14. rakean sanjaya memang orang sunda keturunan trah tarumanagara-kendan jd bukan menaklukan jawa barat mas :)

    Komentar oleh ujang | November 17, 2009

  15. salam kenal,…saya butuh hal- hal yang berkaitan dgn penyempitan wilayah bagelen pada zaman kolonial mungkin ada yang ada referensinya, trima kasih.

    Komentar oleh vita ery | November 23, 2009

  16. salam kenal, saya butuh hal yang berkaitan tentang penyempitan wilayah bagelen, pada masa kolonial mungkin ada yg punya referensinya, trima kasih.

    Komentar oleh vita ery | November 23, 2009

  17. salam kenal, saya berasal dari desa hargomulyo, kec. kokap kulonprogo. disitu ada makam tumenggung notoyudo pepunden dusun karangmojo, sedangkan saya membaca artikel lain tumenggung notoyudo itu bupati bagelen, apakah keduanya ada kaitanya ? memang dusun karangmojo lokasinya tidak jauh dari bagelen.mohon penjelasanya

    Komentar oleh sahlan | Desember 22, 2009

  18. saya keturunan dari begelen asal-usul embah buyut ku tapi samapi saat ini aku sendiri belum tahu begelen dan aku berdomisili di kabupaten kediri jawa timur

    Komentar oleh arianto | Januari 14, 2010

  19. saya asli dr wil pituruh purworejo,kami pernah mendapat pusaka kujang peninggalan leluhur kami,tolong carikan hubungan antara wil bagelen dengan kerajaan galuh purba apa bagelen merupakan bagian dari galuh , saya pernah baca bahwa kerajaan galuh purba (masa pra sanjaya) wilayahnya meliputi jawa barat ,jawa tengah bag. utara ,banyumas dan bagelen sampai sigaluh di kulon progo

    Komentar oleh paryono bandung | Januari 16, 2010

  20. saya asli keturunan bagelen,tepatnya,dusunnya kali putat,desa clapar,kecamatan bagelen,sekarang tinggal di SURABAYA,saya mau minta tolong di bantukan menelusuri leluhur saya di dusun kali putat,yg mana di sana ada pesarean mbah canggah saya (PENDIRI DUSUN KALIPUTAT)/ mbah canggah projoyo,ada juga makam kturunanya :dewi sekar kuning & rantam sari,pada waktu nenek saya,masih ibu²(buku silsilah keluarga kami di pinjam adipati ato bupati ato apalah dari jenar(menurut cerita orng tua saya)nah saya sekarang bingung utk menelusuri / mbah canggah saya berketurunan dari siapa?karena buku silsilah tersebut sampai sekarang belum kembali..sebelumnya trimakasih

    Komentar oleh budi s | Februari 15, 2010

  21. menurut keterangan dari orang tua saya , mbah canggah saya klo tidak salah dari mataram,mungkin juga dari majapahit,mataramnya juga kurang jelas,entah yang kuno atau mataram islam,yg pasti salah keturunan ke 10.

    Komentar oleh budi s | Februari 15, 2010

  22. saya tambahkan lagi sekarang usia 33 tahun

    Komentar oleh budi s | Februari 15, 2010

  23. di Purworejo ada Gang Afrika … karena Belanda di bantu oleh budak-budaknya dari Ghana untuk melawan Diponegoro …

    Nyi Bagelen dan Nyi Candi yang makamnya ada di tepi sungai bogowonto, itu di silsilah itu posisinya dimana ya ?

    Komentar oleh cuk | Mei 15, 2010

  24. kebetulan di buku tsb tidak dijelaskan lebih detail, Pak.

    Komentar oleh agusjohn | Mei 17, 2010

  25. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga dan semakin jelas pencarian leluhur saya. Smoga kami mendapat info yg lebih lengkap lagi dr sini terutama keberadaan beberapa makam leluhur kami seperti mbah Sonto, pemegang kunci Bagelen.
    Kami mengucapkan banyak terima kasih atas info yg telah kami dapat.

    Komentar oleh Robby | Juni 3, 2010

  26. Mbah buyut saya tinggal didesa bedug bagelen dan saya tinggl jakarta,saya baru tahu kalo bagelen itu wilayahnya bukan cuma kecamatan,terima kasih infonya dan salam kenal trus kalo ada tentang bagelen yang lainnya tolong diberitahu untuk menambah pengetahuan saya yang minim karena jauh dari kota saya terima kasih….

    Komentar oleh ilham | November 6, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: