*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#046: Berkaca Pada Sungai : Merangkai Sejarah Lama, Menelusuri Jejak Kultural


Sepanjang jalan, menyisiri pinggir Kali Brantas, September 2003;
Sungainya lebar. Arusnya cukup deras. Beberapa orang pengail ikan dengan santainya berdiri di tengah-tengah dam sungai itu. Air setinggi di bawah lutut tidak mengganggu keasyikan mereka untuk mengail, mencari ikan. Pemandangan menarik dari arus Kali Brantas itu, secara tidak langsung kemudian mengingatkanku akan kisah sejarah di masa lalu. Kubayangkan, pasukan Kubilai Khan -dinasti Mongolia- di sekitar abad XIII dengan armadanya yang megah, diiringi pasukan yang gagah berani, penuh dendam-emosi, menyeberangi sungai itu untuk menyerang Kerajaan Singosari.

Kulamunkan, di era akhir menjelang keruntuhan Majapahit, Kiai Abdurrahman, seorang kiai-panglima perang utusan Wali Songo, dengan susah payah dan penuh cekatan menyeberangkan puluhan ribu pasukan Islam Demak untuk menyerbu pusat Majapahit di Trowulan.

Itulah peran dan kisah sungai di masa lalu. Dari hasil kajian berbagai macam literatur sejarah tersebut, sedikit dapat kubuat hipotesanya (rekonstruksi sejarah), bahwa sungai merupakan salah satu dari dua tempat yang menjadi pusat peradaban manusia, di samping pantai (wilayah perairan laut). Pusat peradaban, bisa diartikan sebagai tempat terbentuknya sejarah kehidupan manusia pertama kali di suatu wilayah, atau juga tempat yang berperan atas sebuah kebudayaan mulai berkembang di tempat itu.

Adanya transaksi, hubungan interaksi sesama penduduk pribumi, atau antara penduduk pribumi dengan perantauan (pendatang) untuk mengembangkan budayanya, atau penduduk perantauan menemukan tempat baru, mengembangkan budaya baru yang dibawanya.

Pantai biasanya disebut juga sebagai daerah pesisir. Sementara sungai disebut pedalaman. Dari kategori ini, maka bisa kukatakan, dari dua tempat tersebut yang tersentuh pertama kali dari peradaban manusia bisa dipastikan wilayah perairan laut terlebih dahulu, baru kemudian kebudayaan itu menuju ke sungai (kali, Jawa).

Logikanya sederhana saja, misalnya di abad ke-7 H pada saat masih sedikitnya jumlah populasi penduduk, maka orang-orang banyak yang berjiwa merantau, berlayar, ingin mencari sesuatu yang baru. Motivasinya pun bermacam-macam. Ada yang karena ingin mencari atau memperluas daerah jajahan, untuk mengembangkan bisnis (mencari hasil rempah-rempah) seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Atau untuk keperluan berdakwah menyebarkan ajaran agama, berdagang atau kalau perlumelakukan perkawinan campur (silang budaya) dengan penduduk pribumi seperti apa yang dilakukan oleh kaum alawiyyin (golongan keturunan Arab yang datang di bumi Nusantara). Dalam istilah kolonialisme dulu, 3G; Gold, Glory end Gospel.

Namun, asumsi saya di atas akan tidak berlaku lagi ketika jumlah populasi penduduk sudah padat seperti sekarang ini. Bisa jadi untuk jaman sekarang, munculnya peradaban baru bagi manusia justru kemungkinan bisa dimulai, diawali dari dalam (wilayah pedalaman), tidak harus dari pesisir. Di era yang serba global saat ini, semua tempat bisa memulai untuk membangun peradaban.

Ada beberapa bukti yang dapat mendukung mengapa sungai dan pantai dulu pernah menjadi pusat peradaban manusia, yang menentukan sebuah kebudayaan itu lahir. Misalnya, umat Islam berkembang dengan pesat di Nusantara pada abad XV bermula dari wilayah perairan laut (pantai) dengan adanya kegiatan dakwah yang dilakukan oleh kaum alawiyyin di sepanjang pantai laut Jawa, yang dikenal dengan sebutan Wali Songo.

Bahkan sebelum itu (era kejayaan para Wali Songo), sebenarnya rintisan-rintisan pengembangan dakwah Islam sudah mulai berkembang. Hal ini dikuatkan oleh L. Van Rijck Vorsel, seorang Belanda dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, “Riwayat Kepulauan Hindia Timur“, menyebutkan bahwa orang-orang Arab sudah datang di pulau Sumatera lebih dulu sebelum kedatangan orang-orang Belanda. Kurang lebih 750 tahun lebih dulu dari kedatangan orang-orang Belanda. Ini berarti terjadi sekitar abad XIII, tepatnya di Pasai.

Dalam riwayat yang lebih tua, memberitakan bahwa agama Islam tersebar di pulau Jawa sekitar tahun 1190 M. Cerita ini ada di dalam kisah Pajajaran. Padahal, era Majapahit ketika akan jatuh terjadi sekitar akhir abad XV M. Dari sini, sedikit saya berani simpulkan bahwa era Wali Songo sebenarnya hanya melanjutkan dakwah yang dilakukan oleh para pendahulunya. Wali Songo merupakan sebuah model perjuangan dengan menggunakan jalur struktural. Yakni dengan membentuk semacam dewan wali sebagai pusat kajian atau dalam menentukan sebuah keputusan penting. Menggunakan ‘jalur struktural’, karena para wali itu sudah masuk ke wilayah kekuasaan (biasanya sebagai penasehat raja).

Beralih ke wilayah Sumba (Nusa Tenggara Barat), di tahun 1870 M dikenal seorang Sayyid penyebar Islam bernama Abdurrahman bin Abubakar Al-Qadriy yang tinggal di Waingapu. Untuk selanjutnya para ahli agama di wilayah ini kemudian dikenal dengan sebutan Tuan Guru yang identik dengan sebutan kiai bagi orang Jawa. Sementara dakwah Islam di wilayah Sulawesi Utara dirintis oleh Sulaiman Khatib Sulung, Abdul Ma’mur Khatib Tunkal dll, berlangsung sekitar tahun 1882 M. Dan masih banyak lagi, literatur-literatur sejarah yang menceritakan tentang ini.

Sedangkan terbentuknya peradaban manusia di wilayah pedalaman terjadi pasca peradaban yang terbentuk di wilayah pesisir. Peradaban yang diawali dari pesisir, kemudian masuk ke pedalaman dengan melewati sungai. Bisa dipastikan, hampir mayoritas kaum alawiyyin yang menyebarkan ajaran Islam dibumi Nusantara sejak abad XII menganut paham sunni (ahlussunnah waljama’ah), khususnya bermazhab Syafi’i. Teori penyebaran Islam dariTimur-Tengah ke bumi Nusantara dikenal melalui dua model. Pertama, dari tanah Hadramaut (Yaman) via laut transit di India Selatan, lalu datang ke Nusantara. Kedua, Islam datang dari Persia via darat, transit di IndiaUtara, kemudian merembet di Asia Tenggara, lalu menuju Nusantara. Kedua latar belakang inilah yang menyebabkan Islam yang datang ke Nusantara bisa digolongkan menjadi dua kelompok besar; Sunni dan Syi’ah.

#
Sementara sungai, seperti yang sudah saya singgung di pembicaraan awal, merupakan tempat terbentuknya peradaban baru pasca terbentuknya peradaban di wilayah pantai. Untuk membuktikan sungai sebagai tempat terbentuknya sebuah peradaban manusia, misalnya dalam cerita Mahabarata. Dikisahkan Sungai Gangga yang menjadi tempat pembuangan delapan anak Dewi Gangga dari Prabu Sentanu sebagai prasyarat agar ia bisa kembali ke kahyangan.

Dalam pelajaran sejarah kebudayaan dunia, tentu kita mengenal adanya kebudayaan Mesopotamia (Irak), Sungai Nil di Mesir, kota di tengah sungai di Bangkok, atau kebudayaan di sungai terkenal Cina dsb. Menuju ke tanah air, kebanyakan fosil-fosil manusia purba banyak ditemukan di lembah-lembah sungai. Seperti fosil manusia Trinil di daerah Ngawi. Kemudian fosil manusia di Wajak, Mojokerto dll.

Arus peradaban itu, berawal dari pantai, menuju pedalaman melalui sungai. Kemudian peradaban itu membentuk dirinya biasanya di pinggir sungai. Bisa dibuktikan dengan banyaknya pesantren yang berdiri di pinggir kali besar. Sebut saja pesantren Langitan di Widang Tuban. Pesantren milik KH Abdullah Faqih yang terkenal sebagai pusat para kiai ‘khos’ yang tergabung dalamPoros Langitan itu terletak di bantaran Sungai Bengawan Solo. Pesantren inibahkan ada sebelum Mbah Hasyim mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang. Bengawan Solo juga menyimpan cerita sejarah sebagai satu-satunya sungai yang dilalui, digunakan oleh pasukan Raja Kubilai Khan ketika ingin menyerang Kerajaan Singosari. Sungai ini juga sangat besar peranannya ketika JakaTingkir berkuasa di Pajang sampai ketika dia memutuskan ingin menikmati usia senjanya di bantaran sungai itu pula.

Sungai Bengawan Solo juga dijadikan tempat oleh Sunan Bonang untuk ‘mengetes’ Raden Sahid sehingga menjadi wali yang kemudian bergelar Sunan Kalijaga. Di bantaran sungai ini pula Sunan Drajad, Sunan Sendhang Dhuwur (Lamongan) melakukan aktivitas dakwahnya ketika itu. Sunan Ampel juga mendirikan masjid di pinggir Kali Mas, Surabaya.

Beralih ke sungai Brantas yang sedang kuamati. Pesantren Lirboyo-Kediri yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manab), juga terdapat di bantaran sungai ini. Juga pesantren-pesantren yang ada di Jombang, Nganjuk, ataupun Malang. Begitupula sungai-sungai besar lainnya seperti sungai Sedayu di Banyumas(Jawa Tengah). Kemudian di wilayah Jawa Barat (DKI) terdapat sungai Ciliwung. Saya yakin, semuanya menyimpan sejarahnya masing-masing.

#
Adakah korelasi di antara kedua unsur tempat terjadinya peradaban manusia tersebut? Dalam kasus penyebaran ajaran Islam -dalam hal ini hubungan antara sungai dan pesantren, alur yang terjadi adalah daerah pesisir lebih banyak para ahli agama (kiai), sementara daerah pedalaman sangat minus. Misalnya, hampir mayoritas para wali dulu hidup di pesisir. Seperti Sunan Ampel di Ampel Denta, bantaran Kali Mas Surabaya dan cukup dekat dengan pantai. Kemudian Sunan Bonang di Tuban. Di dekat makam beliau ini juga terdapat makam Syekh Asmaraqandi (perbatasan Tuban-Lamongan, jalur Daendles. Tepatnya di Desa Palang-Tuban). Dan hampir kota-kota pesisir seperti Lasem, Pati, Rembang,Cirebon dll telah banyak menelurkan tokoh kiai-ulama besar di jamannya.

Karena over-kuantitatif, maka banyak kiai-kiai dari daerah pesisir yang kemudian melakukan ‘hijrah’ ke daerah pedalaman (di samping persoalan adanya tekanan dari kolonial Belanda di abad XIX). Hampir semua kiai-kiai besar di daerah pedalaman bila dirunut ke belakang, nenek-moyangnya berasal dari pesisir. Misalnya nenek-moyang Hadratussyaikh, KH Hasyim Asy’ari (pendiri pesantren Tebuireng) dan KH Wahab Khasbullah (pendiri pesantren Tambakberas, Jombang) yang bertemu silsilah di Kiai Sikhah, berasal dari daerah pesisirJawa Tengah. Mbah Bisri Syansuri, pendiri pesantren Denanyar Jombang juga berasal dari pesisir Jawa Tengah, tepatnya dari kota Tayu, 100 km arah timur laut kota Semarang. Lalu KH Macrush Aly, menantu dari Mbah Manab (pendiri pesantren Lirboyo) berasal dari daerah Gedongan-Cirebon.

Nach, untuk kondisi saat ini, ada kesempatan (kemungkinan) untuk bisa melakukan yang sebaliknya. Peradaban manusia, sejarah manusia dapat kita ciptakan dari daerah pedalaman (sebenarnya tak terbatas di bantaran sungai saja) dan kita sebarkan ke daerah pesisir. Dari segi substansi, sebenarnya kita bisa menciptakan “peradaban baru” seperti apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita (ulama-panutan). Bedanya, hanya terletak pada: Pertama, kalau para pendahulu kita dalam menciptakan peradaban baru perlu melakukan hijrah, sementara kita tidak.

Kedua, di tempat yang baru, para pendahulu tidak hanya berjuang untuk memikirkan persoalan ke depan, tapi juga harus memikirkan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Misalnya, Mbah Hasyim ketika mendirikan Tebuireng juga harus mengatasi para begal, rampok, preman yang mengganggu para santrinya. Sementara kita tidak. Kita hanya perlu melakukan kajian untuk strategic-planning ke depan.

Memang daerah pedalaman tidak hanya terbatas di bantaran sungai saja. Dikota, di gunung pun dapat kita katakan serupa. Dengan demikian, kalau dikatakan membuat ‘peradaban baru’ diawali dari pedalaman, itu berarti memang sudah lama terjadi. Peradaban baru dari pedalaman untuk kepentingan masyarakat pesisir, misalnya kebijakan di Departemen Eksplorasi Kelautan. Ada kajian khusus yang dinamakan Pesantren Kelautan. Kebijakan ini ditujukan untuk memberikan pelatihan-pelatihan, pendidikan buat warga nelayan di pesisir yang memang kebanyakan masuk daerah minus. Diharapkan dengan latihan-latihan seperti ini, mereka mampu mandiri untuk bersaing dengan bekal ilmu yang cukup.

Substansi dari paparan di atas adalah siapapun bisa menciptakan “peradaban baru” sebagaimana dilakukan para pendahulu itu. Peradaban baru tersebut baru bisa tercipta ketika manusia melakukan langkah-langkah signifikan yang dapat dirasakan perubahannya. Misalnya Mbah Hasyim ketika mendirikanTebuireng terlebih dahulu harus mengatasi sisi keamanan yang terganggu akibat moral masyarakat yang tidak sehat. Di samping itu ada baiknya belajar kepada sungai yang telah memberikan konstribusi besar terhadap perjalanan umat manusia. Selebihnya, wallaahu’alam bi ash showab.

Padepokan Tebet, 14 Oktober 2003, 00:31
© Gus John

About these ads

Oktober 30, 2006 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: