*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#048: "Nilai" Seseorang*


Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, seorang tokoh ulama-intelektual yang ucapan dan pemikirannya sering dianggap “nyleneh” oleh kebanyakan orang, dalam sebuah acara “eksklusif” di salah satu stasiun televisi swasta lima tahun yang lalu (1998), memberikan suatu ulasan yang cukup menarik seperti berikut ini:

“Seseorang akan mempunyai nilai di mata orang lain, jika keberadaanya mampu memberikan banyak manfaat daripada mudhlarat bagi lingkungan di sekitarnya.”

Menurut penulis, ulasan Kang Said –panggilan kiai asal Cirebon itu– cukup relevan juga bila dilihat dari sudut pandang kaum nonmuslim. Lebih lanjut, ulama kontroversial yang mendapatkan doktor dari Universitas King Abdul Aziz (Ummul Quro’) itu dengan santai dan lugas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan moderator mengenai problematika yang dihadapi oleh umat dewasa ini.

Di salah satu bagian wawancara tersebut, ada beberapa point menarik dari Kang Said yang menjelaskan tentang pembagian, penggolongan, dan pengelompokan seorang muslim berdasarkan hubungannya secara vertikal (denganTuhan) dan horisontal (dengan sesama manusia). Kang Said menggunakan metode dengan memberikan setiap penilaian (+) jika baik, dan (-) jika sebaliknya.

Berikut ini, penulis mencoba menafsirkan kembali uraian Kang Said tersebut sebagai berikut :
* seseorang akan bernilai ( + ) dan ( + ). Maksudnya, orang yang masuk dalam kategori ini biasanya “sarungan”, rajin ke masjid, pintar membaca kitab suci, jago wirid, aktif di pengajian, aktif di organisasi keagamaan, dll. Di samping itu juga suka beramal, membantu sesama, aktif di kegiatan sosial- kemasyarakatan, organisasi dll. Ringkasnya, orang ini bagus dalam konteks hablum minallah (hubungan dengan Tuhan, secara vertikal) begitu juga hablum minnannas (secara horisontal, hubungan dengan sesama manusia).

* bernilai ( + ) ( – ); sarungan, orangnya rajin ibadah seperti contoh di atas, tapi masih suka ribut, emosional, suka menyakiti teman, pelit-kikir, suka mendzhalimi hak orang lain, fitnah, acuh dll. Dalam unsur ini, ibadah masih dan hanya dijadikan sebagai suatu bentuk formalitas, simbol belaka. Sholat ya sholat, tapi ngomongin orang (ghibbah) jalan terus. Mantan ketua organisasi yang berbau agama, tapi korupsi jalan terus. Singkatnya, kekurangan dari golongan ini adalah kurang mempunyai rasa responsif (kepekaan) dalam hubungan mu’amalah (antar sesama manusia). Secara vertikal kelihatan baik, tapi tidak berbekas sedikitpun pada sikap dan perbuatannya di lingkungan sesama.

* ada nilai ( – ) ( + ); orang yang secara vertikal tidak baik, tapi suka menolong orang. Tidak atau jarang menjalankan syariat agama dengan benar, tapi secara tidak sadar apa yang dia lakukan kepada orang lain bernuansakan nilai agama (baca: bersifat Islami).

* ada nilai ( – ) ( – ); kedua hubungan, baik vertikal maupun horisontal kurang baik. Ibadah tidak, menolong sesama pun tidak. Golongan ini paling “mengharukan”. Sudah tidak tobat, kebanyakan dosa. Malaikat maut pun mungkin gemas melihatnya.

Dari beberapa kategori di atas, kita bisa mengukur, berada di manakah kita? Silahkan memberikan penafsiran sendiri-sendiri, akan tetapi paling tidak uraian dari Kiai Said Aqiel di atas perlu menjadi renungan kita bersama. Sudah sejauh manakah langkah yang kita perbuat.
Selebihnya, wallaahu’alam bi ash showab.

Malam Kedua Ramadhan 1424 H-27/10/03
(c) GJ

*revisi dari arsip pribadi, 30/10/98

Oktober 30, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#047: Memahami Orang Lain: sebuah catatan harian khusus buat WW


Padepokan di suatu sore hari;
Ketika melihat acara TV via Kabelvision. Dengan becanda, WW mengkritik penulis sebagai orang yang plin-plan, tidak memiliki pendirian. Penilaian ini didasarkan karena penulis terlalu menurut mengikuti program TV yang ia maui. Apa yang ia minta selalu penulis turuti.

Kebetulan, sore itu acara yang bagus adalah TV “Animal-Planet” (channel 9) dan TV “AXN” (channel 3). Tapi, kritik itu dengan mudah penulis membalikkannya dengan merubah channel, mengganti dengan acara yang lain.

“Nah, saya memiliki pendirian kan sekarang?” ujarku menguji.

“Wah, jangan-jangan, J, yang tadi lagi aja! ” pinta WW. Channel pun penulis ganti sesuai dengan permintaan WW semula. Itu adalah sebuah pelajaran sederhana untuk menguji asumsi WW sebelumnya.

#
Beberapa hal utama, dan penulis ingin memberikan “pelajaran” pada WW adalah, bahwa; pertama, penulis memegang betul prinsip “Ing Ngarso Sung Tuladha, IngMadya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani“, yang artinya kira-kira begini: Adakalanya kita berada pada posisi harus bisa memberikan contoh yang baik. Adakalanya kita berperan sebatas untuk menumbuhkan minat, dan ada kalanya kita harus mampu dan bisa memberikan motivasi/dukungan. Jadi, ini adalah persoalan posisi-tempat dan waktu. Kita harus bisa menempatkan diri, kapan di depan, kapan di tengah, dan kapan di belakang.

Kedua, WW barangkali perlu lebih memahami sesuatu dari isi, tidak hanya sebatas kulit (permukaan). Memaknai substansi, tidak sebatas esensi. Memahami yang kontekstual, tidak hanya yang tekstual. Tidak hanya mengetahui syari’at semata, tapi makrifat ataupun hakekat juga perlu diyakini. Jadi, memahami setiap diri manusia tidak hanya sebatas dari luarnya saja, permukaannya saja, tapi juga isi dan dalam diri manusia tersebut. Karena bila tidak, kita akan keliru dalam memahami orang lain. Jika kita hanya punya kriteria “baik dan buruk” dalam memahami sesuatu secara mutlak, maka probabilitas kesalahan penilaian tersebut bisa sangat mungkin terjadi.

Ketiga, memahami orang tidak bisa dengan hitam-putih. Ketika kekasih atau istri kita marah, itu bisa diartikan ia masih sayang dan perhatian pada kita. Bagaimana bila sudah tidak marah lagi? Ketika kekasih atau istri kita cemburu, itu artinya ia masih mencintai kita. Cemburu pertanda rindu. Marah pertanda cinta. Intinya, kita harus juga memahami latar belakang masalahnya, bukan sebatas apa yang terjadi. Memahami latar belakang marahnya, bukan subyeknya yang sedang marah. Jadi, ini adalah persoalan latihan menjadi orang yang arif dan bijaksana.

Keempat, penulis mengikuti betul ajaran Mahatma Gandhi; “ahimsa“, yang bermakna anti kekerasan. Karena menurut Gandhi, apapun bentuknya kekerasan tak kan bisa diakhiri dengan kekerasan. Gandhi percaya benar bahwa kemenangan akhir ada pada Kebenaran (satya), yakni Tuhan. Bila hanya untuk menegakkan hal-hal yang tidak prinsipil (mendasar), kenapa harus dengan kekerasan, intimidasi, teror, merasa memiliki kekuatan? -dalam contoh kasus kecil rebutan channel TV. Tidak harus! Justru, cara-cara seperti ini yang sebenarnya menunjukkan kekerdilan jiwa seseorang.

By the way, WW masih tetap adikku yang terbaik. Bagaimanapun, kritiknya selalu kuharapkan. Bukankah peran seorang sahabat memang harus demikian; saling nasehat-menasehati dalam hal kebaikan? Karena pada dasarnya, setiap orang akan mengalami fluktuasi keimanan. Karena kita adalah manusia biasa, bukanlah dewa.
Selebihnya, wallaahu’alam bi ash showab.

Padepokan Tebet, sehabis Tarawih pertama Ramadhan 1424 H-26/10/03;
© Gus John.

Oktober 30, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#046: Berkaca Pada Sungai : Merangkai Sejarah Lama, Menelusuri Jejak Kultural


Sepanjang jalan, menyisiri pinggir Kali Brantas, September 2003;
Sungainya lebar. Arusnya cukup deras. Beberapa orang pengail ikan dengan santainya berdiri di tengah-tengah dam sungai itu. Air setinggi di bawah lutut tidak mengganggu keasyikan mereka untuk mengail, mencari ikan. Pemandangan menarik dari arus Kali Brantas itu, secara tidak langsung kemudian mengingatkanku akan kisah sejarah di masa lalu. Kubayangkan, pasukan Kubilai Khan -dinasti Mongolia- di sekitar abad XIII dengan armadanya yang megah, diiringi pasukan yang gagah berani, penuh dendam-emosi, menyeberangi sungai itu untuk menyerang Kerajaan Singosari.

Kulamunkan, di era akhir menjelang keruntuhan Majapahit, Kiai Abdurrahman, seorang kiai-panglima perang utusan Wali Songo, dengan susah payah dan penuh cekatan menyeberangkan puluhan ribu pasukan Islam Demak untuk menyerbu pusat Majapahit di Trowulan.

Itulah peran dan kisah sungai di masa lalu. Dari hasil kajian berbagai macam literatur sejarah tersebut, sedikit dapat kubuat hipotesanya (rekonstruksi sejarah), bahwa sungai merupakan salah satu dari dua tempat yang menjadi pusat peradaban manusia, di samping pantai (wilayah perairan laut). Pusat peradaban, bisa diartikan sebagai tempat terbentuknya sejarah kehidupan manusia pertama kali di suatu wilayah, atau juga tempat yang berperan atas sebuah kebudayaan mulai berkembang di tempat itu.

Adanya transaksi, hubungan interaksi sesama penduduk pribumi, atau antara penduduk pribumi dengan perantauan (pendatang) untuk mengembangkan budayanya, atau penduduk perantauan menemukan tempat baru, mengembangkan budaya baru yang dibawanya.

Pantai biasanya disebut juga sebagai daerah pesisir. Sementara sungai disebut pedalaman. Dari kategori ini, maka bisa kukatakan, dari dua tempat tersebut yang tersentuh pertama kali dari peradaban manusia bisa dipastikan wilayah perairan laut terlebih dahulu, baru kemudian kebudayaan itu menuju ke sungai (kali, Jawa).

Logikanya sederhana saja, misalnya di abad ke-7 H pada saat masih sedikitnya jumlah populasi penduduk, maka orang-orang banyak yang berjiwa merantau, berlayar, ingin mencari sesuatu yang baru. Motivasinya pun bermacam-macam. Ada yang karena ingin mencari atau memperluas daerah jajahan, untuk mengembangkan bisnis (mencari hasil rempah-rempah) seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Atau untuk keperluan berdakwah menyebarkan ajaran agama, berdagang atau kalau perlumelakukan perkawinan campur (silang budaya) dengan penduduk pribumi seperti apa yang dilakukan oleh kaum alawiyyin (golongan keturunan Arab yang datang di bumi Nusantara). Dalam istilah kolonialisme dulu, 3G; Gold, Glory end Gospel.

Namun, asumsi saya di atas akan tidak berlaku lagi ketika jumlah populasi penduduk sudah padat seperti sekarang ini. Bisa jadi untuk jaman sekarang, munculnya peradaban baru bagi manusia justru kemungkinan bisa dimulai, diawali dari dalam (wilayah pedalaman), tidak harus dari pesisir. Di era yang serba global saat ini, semua tempat bisa memulai untuk membangun peradaban.

Ada beberapa bukti yang dapat mendukung mengapa sungai dan pantai dulu pernah menjadi pusat peradaban manusia, yang menentukan sebuah kebudayaan itu lahir. Misalnya, umat Islam berkembang dengan pesat di Nusantara pada abad XV bermula dari wilayah perairan laut (pantai) dengan adanya kegiatan dakwah yang dilakukan oleh kaum alawiyyin di sepanjang pantai laut Jawa, yang dikenal dengan sebutan Wali Songo.

Bahkan sebelum itu (era kejayaan para Wali Songo), sebenarnya rintisan-rintisan pengembangan dakwah Islam sudah mulai berkembang. Hal ini dikuatkan oleh L. Van Rijck Vorsel, seorang Belanda dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, “Riwayat Kepulauan Hindia Timur“, menyebutkan bahwa orang-orang Arab sudah datang di pulau Sumatera lebih dulu sebelum kedatangan orang-orang Belanda. Kurang lebih 750 tahun lebih dulu dari kedatangan orang-orang Belanda. Ini berarti terjadi sekitar abad XIII, tepatnya di Pasai.

Dalam riwayat yang lebih tua, memberitakan bahwa agama Islam tersebar di pulau Jawa sekitar tahun 1190 M. Cerita ini ada di dalam kisah Pajajaran. Padahal, era Majapahit ketika akan jatuh terjadi sekitar akhir abad XV M. Dari sini, sedikit saya berani simpulkan bahwa era Wali Songo sebenarnya hanya melanjutkan dakwah yang dilakukan oleh para pendahulunya. Wali Songo merupakan sebuah model perjuangan dengan menggunakan jalur struktural. Yakni dengan membentuk semacam dewan wali sebagai pusat kajian atau dalam menentukan sebuah keputusan penting. Menggunakan ‘jalur struktural’, karena para wali itu sudah masuk ke wilayah kekuasaan (biasanya sebagai penasehat raja).

Beralih ke wilayah Sumba (Nusa Tenggara Barat), di tahun 1870 M dikenal seorang Sayyid penyebar Islam bernama Abdurrahman bin Abubakar Al-Qadriy yang tinggal di Waingapu. Untuk selanjutnya para ahli agama di wilayah ini kemudian dikenal dengan sebutan Tuan Guru yang identik dengan sebutan kiai bagi orang Jawa. Sementara dakwah Islam di wilayah Sulawesi Utara dirintis oleh Sulaiman Khatib Sulung, Abdul Ma’mur Khatib Tunkal dll, berlangsung sekitar tahun 1882 M. Dan masih banyak lagi, literatur-literatur sejarah yang menceritakan tentang ini.

Sedangkan terbentuknya peradaban manusia di wilayah pedalaman terjadi pasca peradaban yang terbentuk di wilayah pesisir. Peradaban yang diawali dari pesisir, kemudian masuk ke pedalaman dengan melewati sungai. Bisa dipastikan, hampir mayoritas kaum alawiyyin yang menyebarkan ajaran Islam dibumi Nusantara sejak abad XII menganut paham sunni (ahlussunnah waljama’ah), khususnya bermazhab Syafi’i. Teori penyebaran Islam dariTimur-Tengah ke bumi Nusantara dikenal melalui dua model. Pertama, dari tanah Hadramaut (Yaman) via laut transit di India Selatan, lalu datang ke Nusantara. Kedua, Islam datang dari Persia via darat, transit di IndiaUtara, kemudian merembet di Asia Tenggara, lalu menuju Nusantara. Kedua latar belakang inilah yang menyebabkan Islam yang datang ke Nusantara bisa digolongkan menjadi dua kelompok besar; Sunni dan Syi’ah.

#
Sementara sungai, seperti yang sudah saya singgung di pembicaraan awal, merupakan tempat terbentuknya peradaban baru pasca terbentuknya peradaban di wilayah pantai. Untuk membuktikan sungai sebagai tempat terbentuknya sebuah peradaban manusia, misalnya dalam cerita Mahabarata. Dikisahkan Sungai Gangga yang menjadi tempat pembuangan delapan anak Dewi Gangga dari Prabu Sentanu sebagai prasyarat agar ia bisa kembali ke kahyangan.

Dalam pelajaran sejarah kebudayaan dunia, tentu kita mengenal adanya kebudayaan Mesopotamia (Irak), Sungai Nil di Mesir, kota di tengah sungai di Bangkok, atau kebudayaan di sungai terkenal Cina dsb. Menuju ke tanah air, kebanyakan fosil-fosil manusia purba banyak ditemukan di lembah-lembah sungai. Seperti fosil manusia Trinil di daerah Ngawi. Kemudian fosil manusia di Wajak, Mojokerto dll.

Arus peradaban itu, berawal dari pantai, menuju pedalaman melalui sungai. Kemudian peradaban itu membentuk dirinya biasanya di pinggir sungai. Bisa dibuktikan dengan banyaknya pesantren yang berdiri di pinggir kali besar. Sebut saja pesantren Langitan di Widang Tuban. Pesantren milik KH Abdullah Faqih yang terkenal sebagai pusat para kiai ‘khos’ yang tergabung dalamPoros Langitan itu terletak di bantaran Sungai Bengawan Solo. Pesantren inibahkan ada sebelum Mbah Hasyim mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang. Bengawan Solo juga menyimpan cerita sejarah sebagai satu-satunya sungai yang dilalui, digunakan oleh pasukan Raja Kubilai Khan ketika ingin menyerang Kerajaan Singosari. Sungai ini juga sangat besar peranannya ketika JakaTingkir berkuasa di Pajang sampai ketika dia memutuskan ingin menikmati usia senjanya di bantaran sungai itu pula.

Sungai Bengawan Solo juga dijadikan tempat oleh Sunan Bonang untuk ‘mengetes’ Raden Sahid sehingga menjadi wali yang kemudian bergelar Sunan Kalijaga. Di bantaran sungai ini pula Sunan Drajad, Sunan Sendhang Dhuwur (Lamongan) melakukan aktivitas dakwahnya ketika itu. Sunan Ampel juga mendirikan masjid di pinggir Kali Mas, Surabaya.

Beralih ke sungai Brantas yang sedang kuamati. Pesantren Lirboyo-Kediri yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manab), juga terdapat di bantaran sungai ini. Juga pesantren-pesantren yang ada di Jombang, Nganjuk, ataupun Malang. Begitupula sungai-sungai besar lainnya seperti sungai Sedayu di Banyumas(Jawa Tengah). Kemudian di wilayah Jawa Barat (DKI) terdapat sungai Ciliwung. Saya yakin, semuanya menyimpan sejarahnya masing-masing.

#
Adakah korelasi di antara kedua unsur tempat terjadinya peradaban manusia tersebut? Dalam kasus penyebaran ajaran Islam -dalam hal ini hubungan antara sungai dan pesantren, alur yang terjadi adalah daerah pesisir lebih banyak para ahli agama (kiai), sementara daerah pedalaman sangat minus. Misalnya, hampir mayoritas para wali dulu hidup di pesisir. Seperti Sunan Ampel di Ampel Denta, bantaran Kali Mas Surabaya dan cukup dekat dengan pantai. Kemudian Sunan Bonang di Tuban. Di dekat makam beliau ini juga terdapat makam Syekh Asmaraqandi (perbatasan Tuban-Lamongan, jalur Daendles. Tepatnya di Desa Palang-Tuban). Dan hampir kota-kota pesisir seperti Lasem, Pati, Rembang,Cirebon dll telah banyak menelurkan tokoh kiai-ulama besar di jamannya.

Karena over-kuantitatif, maka banyak kiai-kiai dari daerah pesisir yang kemudian melakukan ‘hijrah’ ke daerah pedalaman (di samping persoalan adanya tekanan dari kolonial Belanda di abad XIX). Hampir semua kiai-kiai besar di daerah pedalaman bila dirunut ke belakang, nenek-moyangnya berasal dari pesisir. Misalnya nenek-moyang Hadratussyaikh, KH Hasyim Asy’ari (pendiri pesantren Tebuireng) dan KH Wahab Khasbullah (pendiri pesantren Tambakberas, Jombang) yang bertemu silsilah di Kiai Sikhah, berasal dari daerah pesisirJawa Tengah. Mbah Bisri Syansuri, pendiri pesantren Denanyar Jombang juga berasal dari pesisir Jawa Tengah, tepatnya dari kota Tayu, 100 km arah timur laut kota Semarang. Lalu KH Macrush Aly, menantu dari Mbah Manab (pendiri pesantren Lirboyo) berasal dari daerah Gedongan-Cirebon.

Nach, untuk kondisi saat ini, ada kesempatan (kemungkinan) untuk bisa melakukan yang sebaliknya. Peradaban manusia, sejarah manusia dapat kita ciptakan dari daerah pedalaman (sebenarnya tak terbatas di bantaran sungai saja) dan kita sebarkan ke daerah pesisir. Dari segi substansi, sebenarnya kita bisa menciptakan “peradaban baru” seperti apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita (ulama-panutan). Bedanya, hanya terletak pada: Pertama, kalau para pendahulu kita dalam menciptakan peradaban baru perlu melakukan hijrah, sementara kita tidak.

Kedua, di tempat yang baru, para pendahulu tidak hanya berjuang untuk memikirkan persoalan ke depan, tapi juga harus memikirkan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Misalnya, Mbah Hasyim ketika mendirikan Tebuireng juga harus mengatasi para begal, rampok, preman yang mengganggu para santrinya. Sementara kita tidak. Kita hanya perlu melakukan kajian untuk strategic-planning ke depan.

Memang daerah pedalaman tidak hanya terbatas di bantaran sungai saja. Dikota, di gunung pun dapat kita katakan serupa. Dengan demikian, kalau dikatakan membuat ‘peradaban baru’ diawali dari pedalaman, itu berarti memang sudah lama terjadi. Peradaban baru dari pedalaman untuk kepentingan masyarakat pesisir, misalnya kebijakan di Departemen Eksplorasi Kelautan. Ada kajian khusus yang dinamakan Pesantren Kelautan. Kebijakan ini ditujukan untuk memberikan pelatihan-pelatihan, pendidikan buat warga nelayan di pesisir yang memang kebanyakan masuk daerah minus. Diharapkan dengan latihan-latihan seperti ini, mereka mampu mandiri untuk bersaing dengan bekal ilmu yang cukup.

Substansi dari paparan di atas adalah siapapun bisa menciptakan “peradaban baru” sebagaimana dilakukan para pendahulu itu. Peradaban baru tersebut baru bisa tercipta ketika manusia melakukan langkah-langkah signifikan yang dapat dirasakan perubahannya. Misalnya Mbah Hasyim ketika mendirikanTebuireng terlebih dahulu harus mengatasi sisi keamanan yang terganggu akibat moral masyarakat yang tidak sehat. Di samping itu ada baiknya belajar kepada sungai yang telah memberikan konstribusi besar terhadap perjalanan umat manusia. Selebihnya, wallaahu’alam bi ash showab.

Padepokan Tebet, 14 Oktober 2003, 00:31
© Gus John

Oktober 30, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#045: Anjing: Maknanya bagi Sopir Taksi, Ahli Fiqih, hingga Kaum Sufi


Di sebuah senja di antara keramaian lalu-lintas jalan raya yang padat, di kawasan Patung Pancoran. Seorang sopir taksi dengan begitu enteng mengumpat “anjing” kepada sopir metromini, ketika bus itu menyerempet, memotong laju taksinya. Sang sopir metromini pun marah tidak terima. Ia menghentikan busnya, lalu turun mendatangi taksi. Maka, terjadilah keributan di tengah jalan yang padat-merayap itu. Keduanya mempertontonkan egoisme jalanan yang tak berpendidikan.

Memang, setiap orang akan marah bila dia dicaci-maki dengan kata-kata “anjing”. Sementara, orang-orang yang biasa hidup di jalanan akan dengan mudah mengumpat “anjing” ketika emosinya sudah memuncak. Itulah kehidupan jalanan di Jakarta.

Sopir taksi dan orang jalanan di Jakarta itu barangkali tak paham, bahwa anjing pun punya posisi “terhormat” dalam hal-hal tertentu di wilayah keagamaan. Jadi tak hanya sekedar buat umpatan.

Memang, dalam literatur kitab-kitab fiqih, air liur anjing itu tergolong najis. Berdasarkan ushul fiqih, karena anjing tidak bisa mensucikan dirinya, maka ia dinajiskan secara keseluruhan. Dalam sebuah hadis diterangkan, bila terkena air liur (dijilat) anjing, harus dibersihkan hingga tujuh kali basuhan, salah satunya air dicampur dengan debu (tanah).

Uniknya, dalam cerita-cerita yang bersinggungan dengan hal-hal yang berbau keagamaan, kata “anjing” sering menghiasi dalam berbagai cerita. Misalnya, sebuah temuan sejarah gubahan Ki Sasrawijaya yang “mencengangkan”, ketika jenazah Syekh Siti Jenar diganti dengan bangkai anjing oleh para Wali Songo, dengan maksud bila masyarakat melihat jenazahnya agar mereka tidak mengikuti aliran Syekh Siti Jenar.

Bagi masyarakat Hindu-Jawa, dalam kisah Mahabarata juga disebutkan, ketika Pandawa masuk surga (dalam kamus Islam mungkin disebut “hari pembalasan”[yaumul jaza']) juga disertai dengan anjingnya.

Dalam sebuah cerita hikmah juga diceritakan, seorang wanita tuna susila (WTS) bisa masuk surga hanya karena amalannya ketika dia memberi minum seekor anjing yang sedang kelaparan. Bahkan, dalam Tafsir Jalalain (kitab tafsir al-Qur’an, dan kitab tafsir yang lain) disebutkan, bahwa seekor anjing bisa masuk surga hanya karena dia setia menemani orang-orang saleh yang disebut Qur’an sebagai Ashabul Kahfi (QS. al-Kahfi).

Dalam kasus penggantian jenazah Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing di atas, ada yang mengatakan, itu sebuah penghinaan. Sebuah langkah yang tidakfair, yang dilakukan oleh para wali untuk melenyapkan ajaran Syekh Siti Jenar dari bumi Jawa. Tapi, bila fakta itu benar, menurut Sudirman Tebba, itu tidak harus diartikan sebagai sebuah penghinaan, karena walaupun anjing oleh fiqih Syafi’i dianggap najis dan haram, tapi bagi sebagian sufi, anjing termasuk binatang yang dihormati. Seperti yang dikisahkan oleh FariduddinAththar berikut ini:

Suatu hari, Syaikh Abdullah Turugbadi dari Thus mempersilahkan al-Hallaj yang datang dengan berpakaian lusuh bersama dua anjing hitamnya yang dirantai, untuk duduk di tempat yang sebelumnya ia duduki ketika ia menggelar taplak dan makan roti bersama murid-muridnya.

Syaikh memberikan roti kepada al-Hallaj. Dan al-Hallaj kemudian membagikan sedikit roti itu pada kedua anjingnya. Setelah al-Hallaj pergi, murid-murid itupun bertanya, kenapa gurunya berbuat baik terhadap tamu lusuh yang kehadiranyya justru membuat makanan tidak suci lagi? Maka sang Syaikh itu pun dengan bijak menjawab, “Anjing-anjing itu adalah keakuan (nafs), mereka tinggal di luar dirinya, dan berjalan di sampingnya (al-Hallaj, pen.), sementara anjing-anjing kita masih berada dalam diri kita, dan kita (justru, pen.) mengikuti di belakang mereka.

Inilah perbedaan orang yang mengikuti anjing dan orang yang diikuti anjingnya. Anjing-anjingnya berada di luar, dan engkau dapat melihat mereka, sementara anjing-anjing kalian tersembunyi (dalam hati, pen.).”

Maknanya dari kisah al-Hallaj itu, anjing merupakan gambaran dari sebuah simbol karakter yang harus dikeluarkan dari diri manusia. Karena ia menjadi simbol, menyebabkan kemudian anjing akrab dengan kehidupan sufi. Termasuk yang dilakukan oleh al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar.

#
Itulah pernak-pernik tentang anjing. Dia memiliki makna yang berbeda di mata sopir taksi, sopir metromini, ahli fiqih (fuqoha), hingga kaum sufi.
Selebihnya wallaahu’alam bi ash showab.

Ketika aku menemani….Cililitan, 12 Oktober 2003; 01:10 (c) GJ

Oktober 18, 2006 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

#044: Enak di Luar, Susah di Dalam


Satu hal yang tak kusukai adalah, ketika mengkritik sesuatu, sementara aku termasuk di dalamnya; menjadi bagian dari sesuatu itu. Seperti halnya diriku menulis tentang Wikusama, sementara diriku adalah pelayannya. Aku seperti tak bisa bebas-lepas untuk bicara. Seperti terkurung dalam penjara. Katak dalam tempurung. Style kritisku selalu kupertaruhkan. Harus mampu meruntuhkan mitos-mitos seperti: ja’im (jaga image), ja-muk (jaga muka), ja-pos (jaga posisi) dst. Padahal, itu semua hampa dan fana, tak ada artinya sama sekali. Hal-hal yang tak kusukai, yang serba formalitas tanpa isi.

Seperti halnya ketika aku akan mengkritik Ulil Abshar-Abdalla dengan forum MPI (Muktamar Pemikiran Islam)-nya yang baru lalu. Forum para pemikir muda Islam itu mendapatkan respon yang positif dari berbagai kalangan, baik di media massa ataupun di kalangan intelektual/cendekiawan besar, seperti Nurcholish Madjid, Solahuddin Wahid, KH. Said Agil Siradj, dsb. Tapi tetap saja bagi saya forum itu menyisakan kelemahan di sana-sini, yang sebenarnya cukup banyak untuk bisa ditelanjangi di forum publik.

Tapi, lagi-lagi kutak berdaya mengkritiknya lewat media massa, karena disebabkan beberapa kali aku diundang rapat untuk merumuskan acara tersebut. Sebuah ironisme, bagaimana aku mengkritik sebuah forum (intelektual mudaIslam), di mana aku bagian dari forum itu sendiri?

Begitupun dengan Wikusama. Bagaimana aku mengkritiknya, sementara aku menjadi bagian sekaligus membangun sistemnya? Sangat beruntung bagi orang tukang kritik, tapi tak ikut membangun atau tak berada dalam sistem yang ia kritik. Mungkin ia akan dengan sangat bebas untuk mengkritik.

Aku jadi teringat petuah guruku, mas Ulil, dalam konteks yang lain dia pernah bicara; “sesuatu itu memang indah dan cantik bila dilihat dari luar. Akan kelihatan wujud aslinya bila didekati, dan semakin kelihatan kelemahannya bila dimasuki”.

Dan itu sangat terbukti. Dua-tiga tahun yang lalu, aku bisa mengkritik NU dalam 20 tulisan per bulan sebelum masuk lebih dalam ke organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu. Kini, betapa susahnya membuat 1 tulisan untuk mengkritiknya.

Ya, itulah realitas. Orang akan begitu mudah mengkritik Wikusama bila dia tidak berada di dalamnya. Padahal, tak bisa dibayangkan, bagaimana beratnya tugas pengurus IAW dan PT Wikusama sekarang untuk membangun jaringan masa depan ini. Karena memang, melihat dari luar itu lebih mudah daripada berada di dalam. Dan, semua orang pun bisa bila hanya sekedar berkomentar.
Enak yang di luar, tapi susah yang di dalam.

Pancoran, 10-10-03(c) GJ sang kritikus..

Oktober 17, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#043: ~Flying…


Lagu-lagu Kristiani dari RPK (Radio Peduli Kasih) Cawang itu, telah membangunkanku di dini hari ini. Mengingatkanku dengan lantunan merdu tembang-tembang Hindu, di sanggar pemujaan di lereng Gunung Tengger, enam tahun yang lalu. Mengharuskanku malam ini melakukan sesembahan pada Gustiku. Mengurai air mata, menanyakan tentang garis-garis ke arah mana takdir itu akan berlabuh.

Beberapa menit kemudian, ragaku kembali teronggok lunglai di atas kasur kumal, di antara tumpukan buku yang berserakan, di ruang kamar sekaligus perpustakaan. Sementara jiwaku mengembara, pergi, menemui siapa saja yang ingin ia bisa temui dan menumpahkan segenap kelelahan pikiran.

Kepada Mbah Hasyim Asy’ari, belajar tentang kesufian. Ke Dipati Unus, tentang kebangsaan. Ke Gajah Mada tentang politik ketatanegaraan. Ke Raden Ayu Putri Kambang tentang hakekat cinta para raja. Ke Mbah Bisri Mustofa, tempat segala inspirasi ketika menulis itu kumulai. Ke….

Di sini, aku bagaikan seonggok daging tak berguna yang hanya bisa berdiri tegak menyelimuti tulang-belulang. Aku bagaikan terkena ‘kutuk pastu’ seperti dalam cerita-cerita di epos Mahabarata. Seperti Pandawa yang harus hidup di pengasingan, mengembara 12 tahun di tengah belantara hutan. Hidup dalam penyamaran, sebagai pembantu istana di Kerajaan Wirata. Hidup penuh dengan godaan, caci-maki, penghinaan dan penderitaan.

Seperti Prabu Pandu Dewanata yang tak boleh menggauli istrinya, akibat keteledorannya membunuh Resi Kindamana yang sedang bercinta. Seperti sang Krishna sendiri yang tak mampu menghindari guratan takdir, menyaksikan kepunahan bangsanya akibat ulah kecerobohan anaknya yang mempermainkan seorang pertapa (resi) agung. Seperti……..
Yang kesemuanya itu sebenarnya cobaan, yang membutuhkan ketabahan untuk menjalaninya.Mampukah aku?

Andaikan malaikat maut mau memilih hamba yang hina, dan sudah hampir takkuasa lagi menahan beban hidup ini. Andai hutang hidup telah terlunasi. Andai tugas dan kewajiban hidup telah terselesaikan. Andai peradaban telah selesai kubangun. Andai.. Andaikan….
Hanya amanah yang mampu membuatku bertahan. Mengarungi samudera cinta tanpa rasa. Menjalani segala penderitaan menuju kemuliaan.
Sejati.

Padepokan Tebet, 2-10-03, 03:15© GJ with flying…..

Oktober 17, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.