Negeri Para Bedebah
Oleh: Adhie M. Massardi
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.
Source:
http://jakartatoday.tumblr.com/post/230443828/negeri-para-bedebah-by-adhie-massardi
Peristiwa 10 November Buah dari Resolusi Jihad NU
Selasa, 10 November 2009 11:17
Bogor, NU Online
Peristiwa bersejarah heroisme arek-arek Surabaya dan santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat pada 10 November 1945 merupakan buah alias dampak dari dikeluarkannya ‘resolusi jihad’ atau seruan perang yang dicetuskan ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU).
Demikian dikemukakan oleh Rektor Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Jawa Barat, Dr Nandang Najmulmunir, MS kepada NU Online di Bogor, Selasa (10/11).
Menurut Nandang Najmulmunir, peristiwa 10 November sangat bersejarah bagi RI, karena momen tersebut menjadi titik balik perjuangan bangsa Indonesia dalam memukul mundur tentara sekutu yang ingin menduduki kembali wilayah kedaulatan NKRI yang pada saat itu masih “seumur jagung.”
“Peristiwa 10 November terjadi berkat adanya keputusan resolusi jihad yang dikeluarkan NU. Peristiwa tersebut merupakan dampak langsung dari dikeluarkannya keputusan ulama NU,” papar pria yang menamatkan studi S1 – S3 di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Lebih lanjut Nandang mengemukakan, resolusi jihad dikeluarkan ulama NU pada 22 Oktober 1945. Keputusan tersebut ditempuh setelah ulama-ulama dan konsul NU dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Surabaya untuk menyikapi situasi politik terkait dengan masuknya kembali penjajah ke Indonesia yang baru merdeka. Baca selebihnya »
#159: AyuNara Update…
Narayana Nakmas Syailendra.
Umurnya sekarang sudah setahun 1 bulan. Sangat komunikatif. Diajak ngobrol nyambung. Paling suka kalo jalan-jalan. Jika Papa pulang kantor, dia langsung kabur menuju teras depan. Kemudian minta digendong sambil nunjuk-nnjuk motor; ingin ngajak jalan-jalan. Begitupun kalo melihat papa ganti baju, pasti langsung mendekat.
Nara, belum bisa jalan sendiri, sering truntunan. Semeter dua meter sudah bisa jalan sendiri. Sukanya naik-naik; tangga, kursi, meja. Ngambek-an. Kalo ribut rebutan barang sama kakaknya, nangis terus mbantingin diri ke belakang. Kepalanya benjol jadi tidak rata. Smoga kuat kepalamu, Nak!
Nara senyumnya mahal. Saya panggil “Cool Man”! Mamanya banget. Bangun tidur yang dicari pasti mamanya. Walaupun ada papanya di sebelahnya, tetap tidak mau.
Sekar Ayu Nakmas Pambayun.
Empat tahun 6 bulan. Sudah masuk TK A. Saat ini adalah fase di mana dia kelihatan bosan dengan pelajarannya. Beberapa kali dia tanya kapan bisa masuk TK B. Solusinya, di rumah saya beri pelajaran, tantangan yang baru dan lain sehingga dia selalu senang. Baca selebihnya »
#158: Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri (:Res)
Judul : Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri
Penulis : Gamal Komandoko
Penerbit : Diva Press
Edisi : Cet-I, Mei 2009
Tebal : 400 halaman
Harga : 34.000,-
Tempat Beli : Jakarta Book Fair 2009, Istora
Peresensi : aGusJohn
Buku ini seperti menjadi lanjutan dari karya sebelumnya, “Joko Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu”. Walaupun data sejarah yang digunakan bersifat normatif –yang berlaku umum, tapi produktifitas sang penulis dalam membuat novel sejarah patut diacungi jempol.
Buku yang teridir dari 19 bab ini mengupas habis tentang Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati Ing Alaga Sayyidin Panatagama, raja pertama Mataram Islam. Berikut ringkasan novel sejarah ini:
***
Ki Pamanahan resah bercampur kecewa. Bumi Mentaok sebagai hadiah sayembara dalam mengalahkan Aryo Penangsang belum juga diserahkan oleh Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang. Sultan yang masa mudanya bernama Joko Tingkir itu terkesan mengulur, menunda-nunda atas pemberian hadiah tersebut. Padahal, tanah Pati yang menjadi satu paket dalam hadiah sayembara tersebut sudah diserahkan ke Ki Penjawi, sepupu Ki Pamanahan.
Pamanahan benar-benar sangat kecewa, karena kesetiaan, pengabdian yang selama ini ia lakukan seolah-olah diabaikan begitu saja oleh Sultan Hadiwijaya. Pengorbanan demi kewibawaan Kasultanan Pajang yang ia lakukan tatkala tidak satupun orang Pajang yang berani melawan Aryo Penangsang, Adipati Jipang yang sakti mandraguna. Pamanahan merasa dirinya sangat berjasa pada berdirinya Pajang. Baca selebihnya »
#157: Flu (& Teror) Babi
Ketika muncul wabah penyakit antraks, sapi/kambing, kuda dan kerbau menjadi korban. Banyak kambing dan sapi yang sakit langsung dimusnahkan. Beritanya begitu massif. Hingga sebuah daerah yang bernama Babakan Madang di dekat Bukit Sentul, Bogor yang terkenal dengan makanan khas “Sate Kiloan” menjadi sepi. Yang biasanya bisa habis puluhan kilo dalam sehari bagi setiap warung, bisa turun drastis hingga satu kilo saja.
Sampai sapi, kuda dan kerbau wajib memiliki KTP di Nusa Tenggara Timur (NTT). Meresahkan hari raya Qurban hingga perlu dirazia. Orang-orang benar panik. Sentimen terhadap kambing, sapi, kuda, kerbau begitu tinggi.
Sama! Ketika wabah flu burung berkembang, burung dan semua jenis unggas kena getahnya. Ayam mati mendadak, warga panik. Orang-orang yang memelihara ayam sekedar buat klangen-klangenan baik di komplek ataupun di perkampungan menjadi tidak enak hati. Mereka merelakan ayam piaraan yang sudah dipelihara tahunan itu dimusnahkan. Ada yang dijual atau dipotong untuk konsumsi sendiri.
Ayam-ayam banyak yang dibakar kemudian ditimbun! Sampai muncul polemik buku Menkes Fadilah Sapari tentang vaksin flu burung yang sengaja dimanfaatkan negara maju untuk senjata biologi.
Tapi tidak dengan flu babi! Sangat sedikit sekali berita yang menampilkan adanya babi dimusnahkan -atau barangkali memang tidak ada? Beda dengan ayam, kuda, kambing, unggas lainnya. Hewan ternak yang nyata-nyata halal begitu ramai dimusnahkan tapi justru “silent please” -meminjam istilah komedian Tukul Arwana- untuk babi yang notabene makanan “bermasalah” baik secara agama -Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia- ataupun kesehatan. Aneh memang?!
Kabar terbaru, setelah isu bom Marriot lambat-laun hilang, muncul isu baru flu babi menyerang dunia pesantren. Koran SINDO 28 Juli memberitakan ada 50 santri dari Pondok Pesantren Assalafi Al-Fitrah Surabaya diduga suspect flu yang berasal dari Meksiko tersebut.
Penularan itu diyakini berasal dari acara haul akbar di ponpes yang diasuh oleh KH Asrori yang dihadiri tidak hanya santri-santri lokal, tapi juga dari Malaysia dan Singapura. Dari peserta asing inilah kemungkinan virus tersebut berkembang. Di tempat terpisah, 5 orang santri dari Pondok Pesantren Tebu Ireng dinyatakan suspect flu babi. Penderita berasal dari luar Jombang, tepatnya dari Cirebon. Baca selebihnya »
#156: Bangsa (Sarang) Teror?
1707 (baca: 17 July) bom meledak di Hotel JW Marriot dan Rizt Carlton. Kabarnya, masih ada bom yang tidak jadi meledak tersimpan di kamar 1808 di hotel tersebut dan berhasil dijinakan oleh kepolisian. Lagi-lagi, Noordin M. Top dijadikan kambing hitam dalam kasus teror tersebut. Baik dari pihak kepolisian sendiri yang menyebut hampir pasti 90% (link)dan juga dari mantan pimpinan Jama’ah Islamiyah, Nasir Abbas sama-sama menuduh Noordin dalang di balik aksi teror tersebut.
Dengan begitu cepatnya sampai Presiden SBY menyebut “drakula” untuk dalang pelaku teror dan mengaitkan teror tersebut dengan Pilpres; bahwa ada pihak-pihak yang ingin menggagalkan pelantikan presiden, rencana pendudukan KPU(link) disertai dengan foto-foto yang katanya dari data intelijen yang beberapa hari kemudian dibantah oleh politisi Gerindra, Permadi sebagai sebuah data yang tidak valid.
Spontan, pihak yang kalah dalam pemilu pilpres merasa tersudut dengan tuduhan itu. Tidak hanya itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin juga menolak keras (link), begitu juga Presiden PKS, Tifatul Sembiring (link).
Kubu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto langsung menolak. Sanggahan Letjen (Pur) Fahrur Razi dari tim Wiranto sungguh menarik, “Kita ini pihak yang kalah, kalau kita sebagai pelaku maka akan dengan mudah diberangus”. Message dari pernyataan tangan kanan Wiranto sungguh jelas menohok justru pemenang pemilu pilpres sebagai pelaku teror. Ketidakvalidan data yang diungkapkan presiden juga dibantah oleh Jusuf Kalla yang notabene masih menjabat Wakil Presiden hingga Oktober mendatang.
Maka lengkap sudah. Teror bom itu seperti hantu. Siapa dalang, siapa pelaku masih dan akan terus gelap. Bagaimana otak kita dipaksa untuk memahami sebuah kenyataan yang membodohkan bahwa seorang pelarian dari Malaysia yang bernama Noordin M. Top tidak bisa tertangkap oleh aparat intelijen kita, sementara di sisi yang lain anggota berani matinya Noordin terus bertumbuh-kembang. Bagaimana mungkin seorang warga negara asing lebih menguasai kondisi geografis/demografis bangsa ini daripada aparat intelijen kita? Nalar-logika yang benar-benar tidak masuk akal.
Otak kita benar-benar diajak untuk diperas menerima fakta bahwa ternyata kita hidup di tengah ketidaknyamanan, di tengah teror yang suatu saat sangat mungkin bisa muncul kembali -karena Noordin masih berkeliaran. Kita tidak tahu, siapa dan berapa jumlah korban teror bom berikutnya, dan di tempat mana serta kapan waktunya. Gelap! Semua gelap! Misterius, hantu! Baca selebihnya »













